Genggaman Seorang Ayah

Cerpen oleh Angela Zefanya, salah satu anggota Karang Taruna Sumber Wuni Indah (Gen X SWI)

***

Rutinitas yang sama terulang lagi sore ini, perjalanan pulang dari sekolah menggunakan angkot butut berwarna hijau yang selalu penuh sesak ini. Alunan lagu melalui sepasang earphone membantuku menghilangkan segala kejenuhan ini. Aku selalu memilih untuk duduk di dekat pintu. Alasannya sederhana, agar mudah ketika turun nanti.

Karena duduk menghadap belakang, aku bisa mengamati seluruh penumpang lainnya. Mengamati orang dapat menjadi obat ampuh ketika bosan melanda. Sudut mataku menangkap sesosok orang dewasa bersama anak kecil di sebelahnya. Mungkin ayah dan anak, kataku dalam hati. Ada perasaan aneh yang merambat dalam diriku, walaupun aku tidak terlalu menghiraukannya.

Ternyata, ayah dan anak itu memiliki tujuan yang sama denganku. Setelah sengaja menginjak genangan air -karena toh besok waktunya mencuci sepatu, dengan acuh aku menyeberang jalan, mumpung kendaraan yang lalu lalang belum terlalu padat.

Ketika telah sampai di seberang, aku melihat ayah dan anak tersebut masih di sisi satunya. Meskipun dari jauh, aku bisa melihat dengan jelas guratan senyum pada wajah bapak tersebut. Beban tas anaknya ia pikul, walaupun nampak tasnya sendiri sudah cukup berat. Ia genggam erat tangan anaknya yang sudah tidak sabar untuk melanjutkan perjalanan.

Tanpa menghiraukan ayahnya yang terlihat kewalahan menghadapi kelincahan anaknya, sang anak melepaskan genggaman tersebut dan lari mendahului. Tidak lama, karena setelah beberapa langkah, ia menoleh ke arah ayahnya. Sang ayah tampak mengucapkan sesuatu, yang mungkin berbunyi seperti ini.

“Kamu harus ingat apa yang kemarin kamu lewati, kamu harus belajar tahu arah pulangmu.”

Respon dari sang anak adalah tertawa kecil, memamerkan barisan giginya yang belum lengkap. Akhirnya ia menuruti perkataan ayahnya dan kembali menggandeng tangannya. Mereka berdua berjalan dengan ritme yang lambat, seolah menikmati setiap langkah yang mereka lalui. Aku bertanya kepada diriku sendiri.

“Apakah anak itu akan selamanya mengingat kejadian itu? Apakah ia akan sadar bahwa seorang ayah tidak akan membiarkan anaknya tersesat? Apakah ia tahu bahwa seorang ayah akan memberitahu arah mana yang harus dituju agar kelak ia bisa berjalan sendiri?”

Bagi orang lain, tidak ada yang istimewa dari perjalanan pulang seseorang ayah dan anaknya. Namun bagiku, peristiwa ini telah membuka kotak yang telah lama kusimpan di sudut ruang hatiku. Kotak yang berisikan keping-keping kenangan dengan seorang ayah ketika aku masih seusia anak tersebut.

Sembari melanjutkan perjalanan pulang, terasa ada genangan air yang ingin tumpah dari kedua air mataku. Berbagai memori tentang ayah berkelabat di pikiranku, seolah ada film yang sedang diputar. Dulu, kemanapun aku melangkah, ayah selalu memberi tahu arah yang benar. Ketika dilanda kebingungan, ia akan menggenggam tanganku, persis yang telah aku lihat hari ini. Dengan sabar ia akan selalu memandu jalanku, menjadi pelita dalam keremangan hidup.

Sayang, setelah dewasa, egoku meninggi. Aku merasa mampu melangkah sendiri tanpa bimbingan ayah. Perselisihan dan pertengkaran sudah menjadi hal yang biasa ketika kami berbicara satu sama lain. Aku memutuskan untuk menyumpal telingaku dari apapun yang keluar dari bibirnya, mengabaikan segala nasehatnya. Genggamannya yang dulu selalu menyertaiku, mulai merenggang, pudar, lalu hilang sama sekali.

Peristiwa sepele yang terjadi hari ini sedikit menyadarkanku atas segala kesalahanku terhadap ayah. Di balik segala caranya dalam mengurus anak sematawayangnya ini, terselip cinta kasih yang begitu tulus dan hangat. Harusnya aku memahami ini dari dulu, bahwa seorang ayah tidak akan menunjukkan perasaannya secara gamblang. Ia hanya memberikan pesan-pesan tersirat melalui tindakannya. Seorang ayah akan menjaga anaknya sepenuh hati, apalagi jika anaknya adalah perempuan seperti aku.

 

Tamat

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.