Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata
Pada tulisan ulasan novel Keajaiban Toko Kelontong Namiya, Penulis sudah menyebutkan kalau dirinya membeli buku tersebut karena tertarik membaca novel-novel karya penulis Jepang setelah membaca seri Funiculi Funicula.
Sebenarnya sebelum membaca buku tersebut, Penulis sudah membaca novel Jepang lain berjudul Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi. Hanya saja, novel tersebut kurang berkesan, sehingga Penulis jadi malas membuat ulasannya.
Namun, karena sesuai jadwal harusnya novel ini dibuat ulasannya dan kemalasan menuliskannya membuat tulisan yang lain jadi ikut tertunda, Penulis pun meniatkan diri untuk menyelesaikan artikel ini.
Detail Buku
- Judul: Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata
- Penulis: Sakae Tsuboi
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Keduabelas
- Tanggal Terbit: Maret 2023
- Tebal: 248 halaman
- ISBN: 9786020651729
- Harga: Rp70.000
Sinopsis Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata
Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.
Isi Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata
Berhubung novelnya tipis (hanya sekitar 200 halaman), sebenarnya cerita yang disajikan sederhana saja. Apa yang tertuang di bagian sinopsis sudah menjelaskan garis besar cerita novel ini, sehingga rasanya Penulis tidak perlu menceritakan lagi apa isi buku ini.
Setelah Membaca Buku Twenty-Four Eyes: Dua Belas Pasang Mata
Ketika melihat novel ini di toko buku, Penulis tertarik dengan latar pendidikan yang diangkat di antara dua era Perang Dunia ini. Dengan jumlah murid yang sedikit di tempat terpencil, Penulis juga jadi berharap kalau isinya akan mirip dengan Laskar Pelangi.
Sayangnya, harapan tersebut pupus begitu saja ketika Penulis sudah mulai membaca novel yang tergolong klasik ini. Penulis sama sekali kesulitan untuk bisa menikmati gaya bahasanya dan alur ceritanya.
Bahkan, Penulis tidak bisa banyak ingat apa saja kisah yang ada di dalamnya. Ceritanya berkutat di antara bagaimana bu guru yang bergaya modern harus beradaptasi dengan lingkungan desa judgemental dan berbagai konflik yang dihadapi oleh para muridnya.
Selain itu, berbeda dengan Laskar Pelangi, Penulis sangat kesulitan untuk membedakan murid-muridnya. Apalagi, novel ini juga tidak memiliki satu figur tokoh utama yang bisa membantu kita menavigasi arah cerita.
Sudah namanya sulit-sulit, masing-masing pun rasanya tidak terlalu memiliki ciri khas yang menonjol untuk diingat. Alhasil, sepanjang cerita, Penulis kesulitan untuk membayang tiap adegan yang terpampang karena merasa kesulitan untuk mengasosiasikan ini siapa itu siapa.
Saat mengecek di Goodreads, sebenarnya ada banyak pembaca novel ini yang jatuh cinta dan menganggap ceritanya yang bittersweet menyentuh hati. Sayangnya, Penulis bukan salah satunya karena sungguh tidak bisa menikmatinya.
Bahkan ketika habis membacanya, sama sekali tidak muncul perasaan haru. Yang ada justru rasa syukur karena akhirnya bisa menyelesaikan novel ini yang walaupun pendek, rasanya sangat berat untuk menamatkannya.
Tidak hanya itu, Penulis juga bersyukur karena akhirnya bisa mengurangi “tanggungannya” dengan menuliskan ulasan singkat tentang novel ini. Setidaknya satu beban tulisan telah selesai.
Rating: 3/10
Lawang, 12 Mei 2024, terinspirasi setelah membaca buku Dua Belas Pasang Mata karya Sakae Tsuboi
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca The Tokyo Zodiac Murders
Sejauh ini, Penulis sudah mencoba membaca novel misteri Jepang dari dua novelis, yakni Keigo Higashino dan Uketsu. Penulis menyukai beberapa karya mereka, tapi ada juga yang sayangnya terasa kurang.
Nah, Penulis pun memutuskan untuk melakukan eksplorasi dengan mencari penulis Jepang lain yang juga terkenal di genre misteri. Pilihan Penulis pun jatuh kepada Soji Shimada, dengan novelnya yang berjudul The Tokyo Zodiac Murders.
Salah satu alasan mengapa Penulis memilih novel ini adalah karena sinopsisnya yang menarik sekaligus mengerikan. Lantas, apakah cerita yang disajikan benar-benar semenarik apa yang tertulis di belakang buku?

Detail Buku The Tokyo Zodiac Murders
- Judul: The Tokyo Zodiac Murders
- Penulis: Soji Shimada
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-23
- Tanggal Terbit: Agustus 2025
- Tebal: 360 halaman
- ISBN: 9789792285918
- Harga: Rp99.000
Apa Isi Buku The Tokyo Zodiac Murders
Cerita The Tokyo Zodiac Murders sebenarnya terbagi menjadi dua waktu, yakni di tahun 1936 dan 1979. Kasus pembunuhan terjadi di tahun 1936, lantas ada detektif amatir yang berusaha memecahkan kasus tersebut pada tahun 1976.
Di tahun 1936, ada seorang seniman bernama Heikichi Umezawa yang ditemukan tewas di balik pintu studionya. Namun, pihak kepolisian menemukan surat wasiat aneh di mana ia berencana untuk menciptakan Azoth, alias “sang wanita sempurna”.
Nah, sosok Azoth tersebut ia rencanakan menggunakan potongan-potongan tubuh keluarganya sendiri, termasuk anak dan keponakannya sendiri. Surat wasiat ini memakan halaman yang cukup tebal, dari halaman 11 hingga 41, dengan gaya font mesin ketik jadul.
Setelah kematian Heikichi, putri tertuanya juga terbunuh. Setelah itu, anak dan keponakannya yang lain juga menghilang, yang kemudian ditemukan dalam kondisi termutilasi secara mengerikan. Semua dikubur sesuai yang tertulis di wasiat Azoth milik Heikichi.
Misteri tersebut selama hampir 40 tahun sama sekali tidak terungkap kebenarannya, hingga di tahun 1976, ada seorang detektif, peramal nasib, dan astrolog yang tertarik dengan kasus ini. Namanya adalah Kiyoshi Mitarai, sosok yang dikenal berwatak eksentrik.
Didampingi oleh Kazumi Ishioka, yang terkesan sebagai “Dr. Watson-nya” cerita ini, Kiyoshi pun mencoba untuk membongkar kasus Pembunuhan Zodiak Tokyo yang telah menjadi misteri selama puluhan tahun.
Setelah Membaca Buku The Tokyo Zodiac Murders
Saat membaca bagian prolognya, yang merupakan surat wasiat sekaligus obsesi Heikichi terhadap Azoth, jujur ada perasaan bergidik sekaligus jijik. Banyak bagian diceritakan secara eksplisit, sehingga mampu menghadirkan sensasi disturbing yang lumayan.
Walau begitu, Penulis berusaha untuk menguatkan diri untuk terus membaca hingga akhirnya mencapai bagian Kiyoshi dan Kazumi, yang pada satu titik sedang mendiskusikan kasus yang telah terjadi puluhan tahun lalu.
Menurut Penulis, bagian tersebut memang sangat ditonjolkan sejak awal cerita dengan berbagai detailnya untuk membuat kita fokus ke Azoth. Semua kasus pembunuhan yang terjadi adalah demi terciptanya Azoth, entah oleh Heikichi maupun orang lain.
Dari sini, mungkin Pembaca sudah bisa menebak kalau akan ada sebuah plot twist di akhir cerita. Namun, Penulis tidak akan menceritakannya secara detail karena salah satu keunggulan utama novel ini memang dari plot twist-nya.
Nah, Soji Shimada sebagai penulis novel ini juga beberapa kali seperti menantang pembacanya untuk membongkar kasus yang ada di sini. Ajakan tersebut dikemas dalam bentuk semacam surat terbuka, yang belum pernah Penulis temukan di novel mana pun sebelumnya.
Mungkin, saat sang pelaku akhirnya terungkap, Pembaca akan merasa bingung dengan berbagai plot holes yang ada. Untungnya, di bagian akhir, ada bagian yang akan menjelaskan semuanya, termasuk motif dan metode pelaku.
Salah satu bagian yang mencuri perhatian Penulis dari novel ini adalah adegan di mana Kiyoshi mengolok-olok Sherlock Holmes, detektif favorit Kazumi. Ia sempat menyebut beberapa kasus dan membongkar apa saja kejanggalan yang terjadi pada cerita tersebut.
Omong-omong soal dinamika mereka berdua, bisa dibilang mereka benar-benar terasa sebagai Sherlock dan Holmes versi Jepang. Kazumi kerap heran dengan metode Kiyoshi, serta beberapa kali sampai ke kesimpulan yang salah.
Secara alur cerita, novel ini cukup seru dan pace-nya juga lumayan cepat. Tidak adanya kehadiran pihak kepolisian membuat proses investigasinya tidak terasa bertele-tele. Apalagi, interaksi antara Kiyoshi dan Kazumi juga terasa seru, love-hate relationship gitu.
Bagian lain yang cukup membantu adalah adanya daftar nama beserta perannya di bagian awal buku. Mengingat jumlah karakter di novel ini cukup banyak, tentu akan sulit untuk menghafal semuanya sekaligus.
Hanya saja, Penulis tidak bisa memahami apa perlunya background Kiyoshi sebagai peramal nasib dan astrologi. Memang, Azoth dibuat berdasarkan astrologi, tapi sepanjang cerita background tersebut tidak terlalu terasa berguna.
Justru, apa yang kerap menjadi inspirasi atau petunjuk bagi Kiyoshi datang dari hal-hal yang sepele dan tidak terduga, seperti yang sering kita temukan dalam cerita Detective Conan. Tidak pernah terjadi astrologi membantunya memecahkan misteri.
Kekurangan lainnya adalah penggunaan font mesin ketik yang walau penggunaannya masuk akal, bagi mata Penulis cukup terasa melelahkan. Nantinya di bagian akhir novel, akan ada juga bagian cerita yang ditulis menggunakan font tersebut.
Secara overall, Penulis cukup menikmati novel ini dan membuat impresi pertama terhadap Soji Shimada menjadi positif. Penulis pun memutuskan untuk membeli novel lainnya yang berjudul The Crooked House, yang juga merupakan salah satu judul novel Agatha Christie.
SKOR: 8/10
Lawang, 14 Oktober 2026, terinspirasi setelah membaca buku The Tokyo Zodiac Murders karya Soji Shimada
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Sewaktu berjalan-jalan di Gramedia Malang dengan seorang kawan, Penulis menemukan satu novel yang terlihat menarik. Bukan karena cover-nya unik atau judulnya bombastis, melainkan karena ada tulisan “Edisi Spesial Cetakan ke-100”.
Novel tersebut adalah Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, yang sesungguhnya sudah sering Penulis lihat di rak toko buku. Penulis juga tahu kalau penulis novel ini telah menerbitkan banyak buku, hanya saja Penulis memang belum pernah mencoba membaca karyanya.
Oleh karena menemukan edisi spesial ini, Penulis pun jadi penasaran dan membelinya. Selain karena ingin tahu apa yang membuat buku ini bisa sampai dicetak sebanyak 100 kali, kata-kata yang terdapat di bagian belakang buku ini juga sedang related bagi Penulis:
“Semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita hanya bisa menerima.“
Detail Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
- Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati (Edisi Spesial Cetakan ke-100)
- Penulis: Brian Khrisna
- Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
- Cetakan: Ke-100
- Tanggal Terbit: April 2026
- Tebal: 216 halaman
- ISBN: 9786020531328
- Harga: Rp93.000
Apa Isi Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati berpusat pada karakter bernama Ale, seorang laki-laki pekerja kantoran yang hidupnya sepi. Ia merasa tidak punya siapa-siapa. Jangankan kekasih, keluarga pun seolah enggan dengannya.
Ale juga merasa bahwa bentuk dirinya yang buruk rupa membuatnya tidak dicintai oleh siapa pun. Keberadaannya kerap dianggap tidak ada, termasuk di kantor. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasa tak ada artinya tersebut.
Sebelum mati, ia memiliki satu keinginan terakhir dalam hidupnya: makan mie ayam langganannya. Namun, ketika ia hendak melakukan niatnya tersebut, ternyata tempat mie ayam tersebut justru tutup, seolah semesta melarangnya untuk mati!
Ia pun menelusuri dan mencari info mengenai penjual mie ayam tersebut. Ternyata, bapak yang berjualan meninggal dunia. Siapa sangka, berawal dari peristiwa yang tampak sederhana itu, Ale akan menjalani kehidupan yang mengubah seluruh pemikirannya selama ini.
Ale harus mengalami rasanya dipenjara, bekerja untuk seorang kriminal, masuk ke tempat prostitusi, bertemu dengan OB dari kantornya, berjualan bolu kukus, hingga bertemu seorang buta yang bijaksana. Hidup yang ia ketahui selama ini pun menjadi terlihat berbeda.
Nah, di edisi spesial ini, ada satu “perjalanan tambahan” yang menurut Penulis diposisikan untuk memberi akhir yang jelas untuk karakter Ale. Penulis tidak yakin karena tidak membaca versi aslinya, tapi kemungkinan akhir dari versi aslinya diserahkan kepada pembaca.
Setelah Membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Karena belakangan ini suka membaca novel-novel dari penulis Jepang, sudah lama rasanya Penulis tidak membeli novel buatan penulis Indonesia. Oleh karena itu, Penulis merasa ini momen yang tepat untuk “berkenalan” dengan karya-karya Brian Khrisna.
Secara topik, isu yang diangkat oleh Brian rasanya akan related dengan kebanyakan orang di masa modern ini. Segala problematika yang menghantui kita saat ini terkadang membuat kita merasa buntu dan tidak tahu bagaimana cara keluar dari rasa sakit tersebut.
Alhasil, “kematian” pun seolah menjadi satu-satunya jalan keluar dari rasa sakit tersebut. Padahal, tidak sebanding rasanya jika masalah yang sementara harus diselesaikan dengan solusi yang permanen. Ini bukan kata Penulis, tapi kata Dr. Jiemi Ardian lewat bukunya yang berjudul Merawat Luka Batin.
Oleh karena itu, Penulis memandang buku ini sebagai “pelukan hangat” dari Brian untuk pembacanya yang juga kepikiran untuk mengakhiri hidupnya. Ia berusaha memperlihatkan kalau masih ada harapan jika kita berani untuk melanjutkan hidup.
Novel ini juga berusaha mengingatkan kepada kita bahwa apa pun kondisi kita saat ini, kita memiliki peran masing-masing. Mungkin kehidupan yang tidak kita anggap berharga ini, bisa jadi berarti bagi orang lain yang bahkan tidak pernah kita pikirkan.
Karena tema dari buku ini cukup gelap, wajar jika Penulis menemukan beberapa quote kehidupan yang bisa menjadi pengingat ketika kita sedang berada di masa-masa gelap. Selain yang telah disebutkan di atas, ada satu lagi yang menarik bagi Penulis:
“Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon apa-apa.”
Namun, ada beberapa hal yang terasa mengganjal bagi Penulis. Pertama, beberapa dialog di novel ini terasa kurang natural. Alih-alih terasa sebagai percakapan antara dua orang, dialognya terasa seperti textbook yang jika dibacakan dengan lantang akan terasa aneh.
Adegan ketika ia tanpa sengaja bertemu dengan mantan teman sekolahnya di sebuah tempat makan, jujur bagi Penulis rasanya cringe. Mungkin memang ada orang yang lama tidak ketemu, begitu ketemu langsung ngatain, tapi di novel ini terasa sekali dramatisirnya.
Selain itu, semua orang yang ditemui oleh Ale seolah-olah punya pekerja sampingan sebagai motivator. Mungkin, Brian ingin memperlihatkan kalau inspirasi dan motivasi itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari kaum marjinal, tapi dosisnya menurut Penulis terlalu berlebihan.
“Petualangan Ale” dalam buku ini juga terasa terlalu mulus. Seperti kritik pada film Project Hail Mary, Penulis tidak menyukai cerita di mana karakter utamanya mulus-mulus saja dalam menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Apalagi, rentetan kejadiannya terasa kurang realistis.
Satu hal yang paling mengganjal adalah betapa mudahnya Ale “lolos” setelah memutuskan kabur dari Murad dan kelompok kriminalnya. Memang, di edisi spesial ini ada cerita tambahan bagaimana Murad pada akhirnya berhasil menemukan Ale, walau tetap ujungnya terlalu happy ending.
Murad mungkin merasa berhutang budi karena kebetulan adiknya bekerja di kantor yang sama dengan Ale, bahkan bisa masuk pun karena ada sedikit andil darinya. Di sini juga terjadi klise di mana seorang penjahat ternyata memiliki “kelemahan” berupa keluarga yang ia sayangi.
Terlepas dari kekurangannya tersebut, Penulis tetap menikmati novel ini, bahkan menandaskannya secara langsung hanya dalam waktu sekitar 2 jam. Tema yang dibawanya universal dan mungkin sedang kita rasakan juga saat ini.
Setelah menamatkannya, Penulis merasa kalau novel ini bisa sampai cetakan ke-100 adalah karena memang sangat mudah untuk dicerna, sehingga bisa menjangkau banyak orang. Sama sekali tidak ada bagian yang membuat otak berpikir keras, semua dijelaskan dengan gamblang.
Penulis merekomendasikan novel ini untuk siapa pun yang sedang merasa buntu dalam hidupnya dan melihat kalau kematian adalah solusi satu-satunya. Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi kemampuan umat-Nya.
Skor: 6/10
Lawang, 5 Agustus 2026, terinspirasi setelah membaca Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna
Fiksi
[REVIEW] Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh
Meskipun tidak terlalu terkesan setelah membaca Teka-Teki Rumah Aneh, Penulis memutuskan untuk tetap membeli novel terbaru Uketsu. Kali ini, judulnya adalah Teka-Teki Gambar Aneh.
Saat membaca ulasan sekilas yang beredar di media sosia, banyak yang menyebutkan kalau cerita di novel ini lebih gila dibandingkan novel yang pertama. Ekspektasi Penulis pun jadi meninggi, meskipun tetap menyiapkan ruang untuk merasa kecewa.
Untungnya, setelah menamatkan novel ini dalam durasi yang relatif singkat, Penulis bisa mengatakan kalau Teka-Teki Gambar Aneh memang lebih gila dari Teka-Teki Rumah Aneh! Penulis akan jelaskan alasannya pada tulisan kali ini.
SPOILER ALERT!!!

Detail Buku Teka-Teki Gambar Aneh
- Judul: Teka-Teki Gambar Aneh
- Penulis: Uketsu
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Cetakan: Ke-2
- Tanggal Terbit: Februari 2026
- Tebal: 312 halaman
- ISBN: 9786020687209
- Harga: Rp99.000
Apa Isi Buku Teka-Teki Gambar Aneh?
Sesuai dengan judulnya, kali ini kita akan disuguhi banyak gambar aneh yang jika dilihat sekilas tidak memiliki makna yang berarti. Memang, denah rumah bisa disebut sebagai “gambar” juga, tapi ini literally gambar berbagai macam hal.
Melansir dari sinopsis resminya, ada gambar yang dibuat seorang wanita hamil di internet, gambar yang dibuat seorang anak kecil sebagai hadiah Hari Ibu, dan gambar yang dibuat seorang korban pembunuhan di saat-saat terakhirnya.
Cerita dibagi menjadi ke dalam empat bab, yang pada awalnya tidak terlihat seperti terhubung satu sama lain. Alurnya sendiri maju mundur, karena satu bab ke bab lainnya tidak linear dalam satu lini masa. Berikut adalah judul dari keempat bab di novel ini:
- Gambar Wanita Berdiri Diterpa Angin
- Gambar Kabut yang Menutupi Unit Mansion
- Gambar Terakhir Guru Seni Rupa
- Gambar Pohon Pelindung Burung Gelatik
Jadi, setidaknya akan ada empat gambar berbeda yang akan menjadi pusat dari masing-masing cerita, karena masih ada gambar-gambar lainnya juga. Yang menggambar pun juga berbeda-beda, tapi tidak akan Penulis jelaskan di sini karena berpotensi spoiler.
Penulis telah sering mengatakan kalau format seperti ini adalah salah satu favoritnya, apalagi kalau keterhubungannya benar-benar tak terpikirkan. Nah, novel ini pun begitu, di mana tiap-tiap cerita memiliki karakter yang berbeda.
Di cerita pertama misalnya, ceritanya berpusat pada karakter Sasaki dan Kurihara (orang yang sama di novel pertama), yang sama-sama merupakan anggota dari kelompok occult. Mereka berdua mendiskusikan sebuah blog yang terasa janggal bernama “Catatan Hati Nanashino Ren”.
Di blog tersebutlah mereka menemukan sekumpulan gambar aneh yang berusaha mereka pecahkan, apalagi jika membaca tulisan-tulisan pemilik blog. Total ada lima gambar yang terlihat tidak memiliki hubungan sama sekali di cerita pertama ini.
Fun Fact: Blog tersebut benar-benar ada! Pembaca bisa mengaksesnya di https://nanashinoren.blog.jp/
Lalu di cerita kedua, angle-nya bergeser ke seorang anak bernama Yuta yang baru akan menginjak usia enam tahun. Di cerita ketiga, bergeser lagi ke kematian seorang guru seni rupa bernama Miura. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana cerita-cerita di buku ini seolah berdiri sendiri?
Yang bisa Penulis katakan adalah, gambar-gambar aneh di novel ini bukanlah sekadar gambar biasa. Gambar-gambar di sini adalah sebuah petunjuk, baik untuk mengetahui watak seseorang, pesan kematian, hingga petunjuk tentang adanya kasus pembunuhan.
Setelah Membaca Teka-Teki Gambar Aneh
Penulis cukup terperangah setelah menamatkan novel ini. Plot twist yang dimiliki benar-benar mengejutkan dan sama sekali tak terpikirkan. Bahkan, Penulis bisa bilang kalau setiap bab memiliki twist-nya sendiri.
Keterhubungan antara empat bab di novel ini sebenarnya berpusat pada satu karakter, yang tidak akan Penulis ungkap di sini. Namun, kita tidak akan menyadarinya hingga akhir bab kedua, atau bahkan ketika akhir bab tiga.
Begitu semuanya terungkap, kita baru menyadari betapa besarnya skema kriminal yang terjadi sepanjang novel ini. Tulisan dan gambar-gambar aneh di blog yang ditemukan Sasaki dan Kurihara ternyata hanya tip of the iceberg.
Selain itu, motif tiap pembunuhan yang terjadi di novel ini pun bukan karena dendam, harta, atau hal-hal yang kerap kita jumpai pada cerita-cerita detektif pada umumnya. Ketika motifnya terkuak di bab empat, kita akan sulit memercayainya.
Bahkan, keberadaan pihak polisi baru muncul menjelang akhir cerita. Artinya, kejahatan yang dilakukan oleh pelaku berhasil ia sembunyikan dengan baik selama bertahun-tahun, walau pada akhirnya ada seseorang yang berhasil membongkar semuanya.
Pace cerita di sini pun cukup cepat, apalagi jika mengingat ada empat cerita yang berbeda. Itulah yang membuat Penulis hanya membutuhkan waktu singkat untuk menamatkannya, karena selalu ada hal yang menimbulkan rasa penasaran. Mungkin juga karena terjemahan buku ini mudah untuk dicerna.
Penulis bersyukur bahwa konklusi dari novel ini tidak memiliki keterkaitan dengan dunia okultisme, seperti yang Penulis temukan di Teka-Teki Rumah Aneh. Penulis merasa cukup puas dengan penjelasan akhirnya yang lebih ke sisi psikologis yang mindblowing.
Jika disuruh membicarakan kekurangannya, jujur Penulis kesulitan menemukannya. Penulis tidak menemukan plot hole atau hal ganjil yang membuat Penulis tidak puas dengan novel ini. Penulisannya rapi dan tertata, sehingga semua hal telah mendapatkan penjelasan yang cukup.
Mungkin, justru motif pelaku di novel ini menjadi tanda tanya besar bagi Penulis. Benarkah ada orang yang tega melakukan pembunuhan-pembunuhan dengan motif seperti itu? Apakah itu karena sang pelaku seorang psikopat yang sadis sekaligus overprotective?
Kesimpulannya, Penulis menikmati novel ini dan merekomendasikannya kepada Pembaca yang menyukai kisah detektif yang di permukaan terlihat sederhana, tapi memiliki kerumitan di dalamnya.
Skor: 9/10
Lawang, 6 Juni 2026, terinspirasi setelah membaca Teka-Teki Gambar Aneh karya Uketsu
-
Produktivitas10 bulan agoProductivity Hack #4: Kalau Cuma Butuh 5 Menit, Lakukan Sekarang
-
Olahraga12 bulan agoKita Selalu Senang Jika Ada Pembalap yang Raih Podium Perdana
-
Musik10 bulan agoTier List Lagu-Lagu IVE Versi Saya (Bagian 1: Single dan EP Jepang)
-
Permainan11 bulan agoKoleksi Board Game #31: Scrabble/Scrabble Together
-
Olahraga10 bulan agoLando Norris Memang Layak untuk Menjadi Juara Dunia 2025
-
Olahraga10 bulan ago“Saya Kira Situasi Membaik, Saya Kira Kondisi yang Sekarang Ini Sudah Cukup”
-
Nonfiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Effortless
-
Fiksi11 bulan ago[REVIEW] Setelah Membaca Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop



You must be logged in to post a comment Login