Connect with us

Permainan

Koleksi Board Game #9: Bang! The Dice Game

Published

on

Di antara semua koleksi board game-nya, hanya satu yang merupakan hadiah dari orang lain, yakni Bang! The Dice Game. Board game ini merupakan hadiah ulang tahun untuk Penulis dari kedua adiknya.

Kebetulan, Bang! The Dice Game memang menjadi salah satu incarannya. Salah satu alasannya adalah karena board game ini memiliki unsur deduktif dan saling curiga seperti Werewolf yang sering Penulis mainkan, dengan tema Wild West alias dunia perkoboian.

Namun, ada banyak unsur lain yang dimiliki oleh board game ini yang tidak dimiliki oleh Werewolf, seperti adanya unsur luck dari lemparan dadunya yang menentukan pergerakan kita. Untuk lebih jelasnya, Penulis akan membahasnya di bawah.

Detail Board Game

  • Judul: Bang! The Dice Game
  • Desainer: Michael Palm, Lukas Zach
  • Publisher: DV Games
  • Tahun Rilis: 2013
  • Jumlah Pemain: 3- 8 pemain
  • Waktu Bermain: 15 menit
  • Rating BGG: 6.9
  • Tingkat Kesulitan: 1.28/5

Cara Bermain Bang! The Dice Game

Secara garis besar, ada tiga tim di permainan Bang! The Dice Game. Pertama ada Sheriff bersama para deputinya, Outlaws yang merupakan sekelompok penjahat utamanya, dan Renegade yang harus bisa menjadi one last man standing.

Objektif untuk masing-masing tim tentu berbeda. Sheriff dan deputi harus bisa membunuh semua Outlaw dan Renegade, Outlaw hanya perlu membunuh Sheriff, dan Renegade harus menyingkirkan semuanya.

Selain Sheriff, para pemain harus merahasiakan identitasnya agar tidak ketahuan oleh pemain lainnya. Hanya peran Sheriff-lah yang diketahui oleh semua pemain. Ketika ada pemain yang kehabisan nyawa, maka identitasnya pun akan terkuak.

Selain pembagian tim, masing-masing pemain juga akan mendapatkan kartu karakter yang masing-masing memiliki kemampuan unik yang bisa memberikan benefit di dalam permainan. Nama-namanya pun terinspirasi dari para legenda di dunia Wild West.

Tiap pemain akan punya peluru yang melambangkan nyawa mereka, yang jumlahnya sesuai dengan angka yang tertera di kartu karakter mereka. Khusus untuk Sheriff, ia akan memiliki dua nyawa ekstra, mengingat banyak orang yang mengincar kepalanya.

Komponen utama dari permainan ini adalah dadu-dadunya yang berjumlah lima buah. Setiap putaran, pemain akan melemparkan dadu dan memiliki kesempatan untuk reroll hingga dua kali. Tiap sisi dari dadu ini memiliki simbol dan efek khusus, yaitu:

  • Angka 1: Bisa menembak (mengurangi nyawa) pemain yang berjarak satu pemain
  • Angka 2: Bisa menembak pemain yang berjarak dua pemain
  • Bir: Menambah 1 nyawa
  • Panah: Akan mendapatkan panah Indian yang akan mengurangi nyawa semua pemain jika stok panah yang tersedia habis
  • Dinamit: Tidak bisa di-reroll, jika sampai mendapatkan tiga dinamit maka akan mengurangi nyawa pemain
  • Gatling Gun: Jika berhasil mendapatkan tiga Gatling Gun, maka akan membuang semua panah yang dimiliki sekaligus mengurangi satu nyawa untuk semua pemain lain.

Permainan akan berakhir jika salah satu tim berhasil mencapai objektifnya.

Setelah Bermain Bang! The Dice Game

Bang! The Dice Game (Gameology)

Sebagai permainan deduktif, tentu Bang! The Dice Game lebih cocok dimainkan ramai-ramai. Sayangnya, jumlah maksimal pemainnya hanya 8 orang, berbeda dengan Werewolf yang bisa dibilang bisa sebanyak apapun asalkan moderatornya sanggup.

Namun, salah satu kelebihan board game ini adalah tidak diperlukannya seorang moderator, sehingga semua orang bisa ikut main. Aksinya pun dilakukan terang-terangan ala Wild West, tidak ada yang sembunyi-sembunyi seperti Werewolf.

Hanya peran Sheriff yang langsung diketahui sejak awal permainan, sehingga jangan heran kalau banyak yang “menjilat” Sheriff agar dipercaya kalau dirinya Deputy yang merupakan bawahannya. Berpura-pura melindungi atau memberi nyawa adalah hal yang lumrah.

Hanya saja, dari beberapa kali memainkan board game ini, keberadaan kartu karakter sering terlupakan. Ketika pemain sudah tersingkir dari permainan, biasanya mereka baru ingat kalau karakter mereka sebenarnya bisa melakukan sesuatu yang berguna.

Selain itu, faktor luck yang dimiliki juga menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi bisa membuat permainan tidak tertebak dan semakin susah untuk mengetahui mana kawan mana lawan. Di satu sisi, game ini membutuhkan unsur luck yang cukup tinggi.

Dibandingkan dengan Werewolf, bermain Bang! The Dice Game bisa menjadi sangat cepat, apalagi jika para pemainnya bermain secara agresif dan begitu bernafsu untuk menghabiskan nyawa pemain lain.

Dengan tema Wild West yang dibawakan, bisa dibilang Bang! The Dice Game sudah cukup berhasil mengemasnya dengan menarik. Penulis hampir tidak memiliki keluhan berarti terhadap board game ini.

***

Board game selanjutnya yang Penulis bahas adalah board game yang memiliki kemiripan mekanisme dengan Catan, yang sangat mengandalkan keberuntungan dadu. Board game tersebut adalah Machi Koro 2, yang lumayan menjadi favorit bagi teman-teman Penulis.


Lawang, 6 Agustus 2023, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri board game ini

Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Permainan

Koleksi Board Game #14: Kakartu Se-kata

Published

on

By

Sampai koleksi board game yang ke-13 (Coup), semua merupakan produksi luar semua. Padahal, di Indonesia sendiri sudah banyak board game lokal yang sebenarnya tidak kalah menarik untuk dimainkan bersama-sama.

Penulis pernah memainkan beberapa yang kebetulan Pandu punya, seperti Waroeng Wars dan Laga Jakarta. Namun, bukan board game lokal tersebut yang Penulis miliki duluan, melainkan Sekata yang relatif lebih baru.

Dengan harga yang sangat ekonomis, board game ini cukup menantang pemain dalam jumlah kosa kata yang dimilikinya. Lantas, apakah board game ini bisa membantah kalau bahasa Indonesia itu miskin kosa kata?

Detail Board Game

  • Judul: Kakartu Se-kata
  • Desainer: Abraham Putra
  • Publisher: Ennoia Games
  • Tahun Rilis: 2021
  • Jumlah Pemain: 3-10 pemain
  • Waktu Bermain: 5-15 menit
  • Rating BGG: –
  • Tingkat Kesulitan: –
  • Harga: Rp100.000

Cara Bermain Kakartu Se-kata

Dilihat dari kotaknya yang mungil, bisa ditebak kalau komponen yang dimiliki oleh Sekata sangat sederhana karena memang hanya terdiri dari kartu-kartu. Ada 102 kartu berwarna merah muda, 13 kartu berwarna kuning, 10 kartu berwarna hijau, dan 3 kartu kosong.

Setiap kartu yang berwarna merah muda berisi satu suku kata (bisa vokal saja, bisa gabungan konsonan dan vokal) seperti Ka dan Ta. Untuk kartu kuning/hijau, yang merupakan kartu bantu, seringnya berisi satu konsonan yang bisa digunakan oleh semua pemain.

Di awal permainan, masing-masing akan mendapatkan 10 kartu berwarna merah muda secara acak. Lalu, jejerkan tiga kartu kuning di tengah arena. Kartu kuning ini bisa digunakan oleh semua pemain kapan saja ketika mereka membutuhkan bantuan huruf yang tertera di sana.

Untuk kartu hijau sendiri sebenarnya memiliki efek yang sama dengan kartu kuning. Bedanya, kartu hijau dipegang oleh masing-masing pemain. Jujur, Penulis baru menyadari aturan ini ketika menulis artikel ini. Sebelumnya, Penulis mencampurnya dengan kartu kuning.

Permainan akan dimulai ketika satu kartu merah muda dari deck akan muncul ke arena. Pemain harus bisa membuat kata menggunakan kartu yang ada di tangannya (boleh di depan ataupun di belakang) dan boleh menggunakan bantuan kartu kuning jika diperlukan.

Nah, kartu yang diturunkan oleh pemain tersebut akan menjadi suku kata selanjutnya dalam permainan. Jika tidak ada pemain yang bisa membuat kata, maka boleh mengeluarkan satu kartu dari deck.

Secara aturan resmi, sebenarnya pemain yang sudah berhasil menyusun kata tidak boleh mengeluarkan kartu lagi hingga ada pemain lain yang berhasil menyusun kata. Namun, aturan ini sebenarnya fleksibel saja, jadi kalau mau cepat-cepatan habis juga tidak masalah.

Permainan akan berakhir jika ada satu pemain yang berhasil menghabiskan kartu tangannya. Namun, seperti dalam permainan UNO!, jika mau mengubah aturannya hingga ada satu orang terakhir yang kalah agar mendapatkan hukuman juga sah-sah saja, kok.

Setelah Bermain Kakartu Se-kata

Board Game Kakartu Se-Kata (Blibli)

Meskipun Kakartu Se-kata terdengar memiliki gameplay yang sangat sederhana, sejujurnya permainan ini benar-benar menarik dan kompetitif. Ketika membawa board game ini ke acara outing kantor, rekan-rekan Penulis seperti kecanduan memainkannya.

Tentu pemain dengan kosa kata yang luas akan memiliki keunggulan dalam permainan. Namun, itu saja tidak cukup karena kita juga membutuhkan kecepatan agar bisa mendahului pemain lain.

Yang lucu adalah ketika mengalami kebuntuan, beberapa pemain akan mencoba “mengarang bebas” dan membuat kosa kata yang terdengar asing. Kalau sudah begitu, KBBI pun akan keluar untuk membuktikan apakah kata tersebut benar-benar ada atau tidak.

Biasanya, jika ternyata kata tersebut tidak ada dalam KBBI, maka hukuman yang akan didapatkan oleh pemain adalah mereka harus menarik satu tambahan kartu dari deck, yang tentunya akan memperbanyak jumlah kartu tangan mereka.

Jika disuruh menyebutkan kekurangannya, mungkin replaybility-nya yang kurang karena gameplay-nya yang sederhana memang membuatnya menjadi cukup monoton. Bagi pemain board game veteran, jelas tidak akan merasakan keseruan dari board game ini.

Lantas, apakah board game ini bisa mematahkan pendapat mengenai kosa kata bahasa Indonesia yang sedikit? Sayangnya tidak bisa, karena ada keterbatasan di mana kata yang dibuat hanya bisa terdiri dari dua suku kata. Kata seperti Ko-Rup-Si saja tidak bisa dibuat.

Sampai artikel ini ditulis, Kakartu Se-kata masih menjadi satu-satunya board game lokal yang Penulis miliki. Penulis masih belum menemukan board game lokal lain yang berhasil mendorong Penulis untuk membelinya. Semoga suatu saat nanti ada, aamiin.

***

Setelah ini, Penulis akan membahas mengenai board game yang bertemakan heist dan bisa dimainkan untuk mengajak ribut pemain lain. Board game ini bisa dibilang cukup jarang yang menjual, sehingga Penulis harus membelinya dari Jakarta. Board game tersebut adalah Bahamas.


Lawang, 20 April 2024, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri artikel board game

Continue Reading

Permainan

Koleksi Board Game #13: Coup

Published

on

By

Dalam membeli sebuah board game, salah satu pertimbangan Penulis adalah pernah memainkannya. Kebetulan, Penulis beberapa kali mendapatkan kesempatan bermain board game yang dimiliki oleh Pandu.

Selain Catan yang menjadi “prioritas” utama karena menjadi salah satu favoritnya, board game lain yang ingin Penulis miliki adalah Coup. Secara singkat, board game yang satu ini bergenre deduksi di mana pemainnya harus lihai bermain peran sekaligus berbohong.

Dengan harganya yang relatif murah, tentu Coup menjadi banyak pilihan orang yang menyukai permainan seperti Werewolf. Namun, apakah Coup memang layak untuk dikoleksi dan mampu menawarkan keseruan yang sama?

Detail Board Game

  • Judul: Coup
  • Desainer: Rikki Tahta
  • Publisher: Indie Boards & Cards
  • Tahun Rilis: 2012
  • Jumlah Pemain: 2- 6 pemain
  • Waktu Bermain: 15 menit
  • Rating BGG: 7.0
  • Tingkat Kesulitan: 1.41/5
  • Harga: Rp200.000

Cara Bermain Coup

Coup memiliki objektif utama menjadi pemain terakhir yang bertahan, alias one man last standing. Di awal permainan, masing-masing pemain akan memiliki dua peran tersembunyi yang disebut sebagai Influence dan akan mendapatkan “modal” dua koin.

Pemain bisa menggunakan peran tersebut atau berpura-pura menjadi peran lain. Kenapa harus berpura-pura menjadi peran lain? Karena masing-masing peran memiliki efeknya. Total ada lima peran yang bisa digunakan di dalam Coup, yakni:

  1. Duke (Bupati): Tax (Ambil 3 koin)
  2. Assassin: Assassination (Bayar 3 koin, lalu pilih pemain untuk kehilangan Influence)
  3. Ambassador (Duta Besar): Exchange (tukar kartu dengan Court Deck), bisa memblok Steal dan Captain
  4. Captain (Kapten): Steal (ambil 2 koin dari pemain lain), bisa memblok Steal dan Captain
  5. Contessa: Blok Assassination

Setiap putaran, masing-masing pemain harus memilih satu aksi untuk dilakukan, yaitu:

  • Menggunakan efek kartu Influence (baik yang dimiliki maupun yang pura-pura dimiliki)
  • Income: Mengambil 1 koin
  • Foreign Aid: Mengambil 2 koin, bisa diblokir oleh Duke (Bupat)
  • Coup: Membayar 7 koin, melakukan Assassination kepada satu pemain

Lantas, apakah pemain yang berbohong atas perannya tidak bisa digugat? Tentu bisa. Setiap pemain mengikrarkan peran untuk mengaktifkan efeknya, pemain lain bisa melakukan Challange.

Jika yang di-Challenge ternyata benar-benar memiliki peran tersebut, maka pemain yang melakukan Challenge akan kehilangan satu Influence-nya dan pemain yang di-Challenge juga harus menukarkan perannya dengan peran baru dari deck.

Namun, jika yang di-Challenge ternyata terbukti berbohong, maka ia yang akan kehilangan satu Influence-nya. Pemain akan keluar dari pemainan begitu dua Influence-nya sama-sama mati. Permainan akan terus berlangsung hingga tersisa satu orang permain.

Setelah Bermain Coup

Coup (The Daily Evergreen)

Ekspektasi ketika bermain Coup adalah bermain Werewolf tanpa seorang moderator. Jika sedang nongki atau kumpul-kumpul, semua bisa ikut bermain. Itu yang pernah Penulis rasakan ketika memainkannya bersama teman-teman kantor dulu.

Dengan jenis peran yang sedikit (hanya ada 5) jika dibandingkan dengan Werewolf yang segudang, tentu kita harus pandai-pandai memutar otak untuk menentukan kapan timing yang tepat untuk bluffing, untuk melakukan Challenge, dan lain sebagainya

Namun, ketika memainkan board game ini bersama teman-teman yang kurang bisa bluffing, maka Coup akan terasa “krik krik” karena menjadi kurang menarik. Permainan juga akan terasa lurus-lurus saja tanpa banyak plot twist ataupun kejadian yang mengundang tawa.

Hal ini makin diperparah jika pemain tidak berani mengambil risiko dan bermain aman, sehingga hanya mengaktifkan kartu Influence yang ada di hadapannya. Akhirnya, pemain lain pun enggan melakukan Challenge karena merasa pemain lain hanya bermain aman.

Karena perasaan tidak puasnya terhadap baord game ini, Penulis cukup lama tidak membeli board game bergenre deduksi lagi, sampai nanti membeli sekuel Saboteur di akhir tahun 2023. Namun, level butuh bluffing-nya tentu tidak sebesar Coup.

Namun, sejujurnya salah satu alasan Penulis membeli Coup lebih karena ingin menambah koleksinya, mengingat harganya yang lumayan murah. Pada saat membeli Coup, Penulis membelinya bersama tiga board game lain, yakni Saboteur dan Sekata.

Nah, pada tulisan ulasan board game selanjutnya, Penulis akan membahas tentang Sekata, board game lokal yang akan menguji pengetahuan kita atas Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Stay tuned!


Lawang, 17 Maret 2024, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri artikel board game

Continue Reading

Permainan

Koleksi Board Game #12: Saboteur

Published

on

By

Pada satu waktu, Penulis memutuskan untuk membeli beberapa board game sekaligus yang dulunya pernah dimainkan dan harganya relatif terjangkau. Tentu, board game yang pernah dimainkan tersebut karena Pandu memilikinya.

Ada tiga board game yang Penulis beli waktu itu, Saboteur, Coup, dan Sekata. Pada tulisan kali ini, Penulis akan membahas tentang Saboteur yang cukup menarik dan masih sering dimainkan hingga saat ini.

Saboteur Penulis beli dengan harga Rp250.000. Awalnya Penulis tertarik untuk membeli versi The Lost Mines yang lebih baru dan lebih kompleks. Namun, pada akhirnya Penulis memilih untuk membeli versi orisinalnya saja karena lebih sederhana.

Detail Board Game

  • Judul: Saboteur
  • Desainer: Fréderic Moyersoen
  • Publisher: AMIGO
  • Tahun Rilis: 2004
  • Jumlah Pemain: 3 – 10 pemain
  • Waktu Bermain: 30 menit
  • Rating BGG: 6.5
  • Tingkat Kesulitan: 1.32/5

Cara Bermain Saboteur

Saboteur memiliki objektif mengumpulkan emas sebanyak mungkin. Siapa yang memiliki emas terbanyak di akhir permainan (yang biasanya terdiri dari 3 ronde) akan menjadi pemenangnya.

Arena dari Saboteur berukuran 5 x 9 kartu, di mana artinya jarak antara tempat start dan finish berjarak 7 kartu. Di bagian finish, acak tiga kartu yang terdiri dari 1 emas dan 2 batu. Permainan akan dimenangkan oleh Kurcaci jika mereka bisa mencapai emas.

Di awal permainan, bagikan kartu peran kepada masing-masing pemain. Di antara peran Kurcaci, terselip peran Saboteur yang jumlahnya menyesuaikan jumlah pemain. Saboteur harus menyabotase agar Kurcaci gagal mencapai emas.

Setelah itu, bagikan kartu jalan dan action kepada masing-masing pemain (jumlah kartu menyesuaikan). Setiap putaran, pemain harus memilih antara memainkan satu kartu di tangannya atau menutup satu kartu jika tidak melakukan apa-apa.

Ada beberapa jenis kartu action yang bisa digunakan, yakni kartu untuk memblokir pemain lain (ada tiga simbol yang berbeda), untuk membuka blokir, untuk membongkar jalan, dan untuk mengintip satu dari tiga kartu finish.

Permainan akan berakhir jika memenuhi salah satu kondisi berikut: Kurcaci berhasil mencapai emas atau jumlah kartu di deck maupun di tangan habis. Saboteur harus bisa menutupi perannya hingga mendekati akhir permainan agar tidak diblokir oleh para Kurcaci.

Ketika satu ronde berakhir dan dimenangkan Kurcaci, maka mereka akan menarik kartu emas (masing-masing kartu berisi 1-3 emas) dari deck dan membaginya secara berurutan (dengan kata lain, pemain di urutan terakhir akan mendapat emas paling kecil).

Kalau Saboteur berhasil menggagalkan upaya Kurcaci mendapatkan emas, maka mereka akan mendapatkan emas dalam jumlah tertentu. Permainan akan berlangsung selama tiga ronde, walaupun sah-sah saja jika ingin lebih.

Setelah Bermain Saboteur

Saboteur (Zatu Game)

Saboteur adalah salah satu party board game yang mudah dipahami untuk semua kalangan. Apalagi, board game ini memberikan kepuasan tersendiri ketika bisa menghubungkan jalan dengan simetris. Desain kartunya juga sangat baik sehingga semua terasa pas.

Konsep menyambungkan jalan demi jalan ini mirip dengan board game Carcassonne. Bedanya, di Saboteur hanya bisa menyambungkan jalan, sedangkan Carcassonne bisa menyambungkan City dan tanah kosong.

Jika ada kekurangan dari Saboteur, mungkin kesederhanaannya yang bisa menjadi kekurangan untuk para pemain board game yang sudah cukup expert. Jelas board game ini kurang bisa memberikan tantangan karena memang fungsinya untuk seru-seruan.

Selain itu, pemain yang mendapatkan peran Saboteur juga relatif lebih sulit untuk meraih kemenangan. Begitu ketahuan, maka kartu blokir akan datang secara terus-menerus. Apalagi, sesama Saboteur juga sulit untuk membantu karena ada potensi untuk diblokir juga.

Oleh karena itu, di circle Penulis ada peraturan tambahan di mana sebelum permainan dimulai, semua pemain akan menutup mata. Lalu, hanya para Saboteur yang membuka mata untuk mengetahui siapa saja kawan mereka, mirip dengan permainan Werewolf.

Terlepas dari kekurangannya, Werewolf Penulis rekomendasikan sebagai perkenalan terhadap dunia board game karena kesederhanaan sekaligus kerusuhannya. Apalagi ukurannya kecil, sehingga cocok untuk dibawa ke tongkrongan.

Board game selanjutnya juga berpotensi rusuh karena memiliki genre deduksi dan harus pintar berbohong seperti di Werewolf. Sayangnya, board game ini juga harus dilabeli kurang laku karena jarang dimainkan. Board game tersebut adalah Coup.


Lawang, 30 Oktober 2023, terinspirasi karena ingin melanjutkan seri board game

Continue Reading

Facebook

Tag

Fanandi's Choice

Copyright © 2018 Whathefan