Connect with us

Film & Serial

The Fall of Marvel Cinematic Universe

Published

on

Penulis termasuk orang yang “telat” mengikuti film-film Marvel atau yang disebut sebagai Marvel Cinematic Universe (MCU). Bagaimana tidak, Penulis baru maraton film-filmnya beberapa minggu sebelum menonton film Avengers: Infinity Wars di tahun 2018.

Tentu ada beberapa film Marvel yang sudah pernah Penulis tonton sebelumnya seperti Iron Man. Namun, Penulis banyak melewatkan film superhero lainnya, terutama yang namanya tidak pernah terdengar sebelumnya.

Apa yang Penulis suka dari konsep yang ditawarkan oleh Marvel adalah kesinambungan antara film-filmnya, hingga memiliki konklusi di dua film Avengers. Banyak yang mencoba meniru konsep ini (termasuk DC), tetapi rasanya tidak ada yang seberhasil Marvel.

Setelah Infinity Saga (film-film dari Phase 1 sampai Phase 3) berakhir, Marvel move on ke saga selanjutnya, yaitu Multiverse Saga yang dimulai dari Phase 4 hingga Phase 6 mendatang. Sayangnya, Penulis merasa Marvel mengalami penurunan kualitas yang cukup drastis.

Pada tulisan kali ini, Penulis akan coba memberikan opininya terkait jatuhnya Marvel Cinematic Universe dari sudut pandang Penulis sebagai penggemar, terutama mencari tahu apa faktor yang bisa membuat Marvel berada di titik yang sekarang.

Tier List Film dan Serial MCU Phase 4

Selama Phase 1 sampai Phase 3, MCU telah memiliki total 23 film. Di Phase 4, MCU telah memiliki 6 judul film, 8 serial, serta 1 special presentation. Fase ini masih memiliki film Black Panther: Wakanda Forever dan The Guardians of the Galaxy Holiday Special.

Penulis mencoba untuk membuat semacam tier list untuk film dan serial yang telah tayang di Phase 4, di mana tier S artinya great, tier A artinya bagus, tier B artinya oke atau B aja, tier C artinya buruk, dan tier D artinya sangat buruk. Berikut daftarnya:

Bagi Penulis, hanya film Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings yang patut mendapatkan apresiasi tinggi. Film Spider-Man: No Way Home bagus, tetapi itu karena ada unsur nostalgianya yang sangat kental hingga menutupi berbagai plot hole di dalamnya.

Serial-serial awal Marvel seperti WandaVision dan Loki sangat menjanjikan, yang sayangnya tidak berhasil ditiru oleh serial-serial Marvel selanjutnya. Apalagi, masing-masing serial juga memiliki kekurangan yang sama. Penulis akan menjelaskan hal ini lebih rinci di bawah.

Sebagai perbandingan, Penulis juga membuat tier list untuk film-film yang telah tayang di Infinity Saga alias Phase 1, Phase 2, dan Phase 3. Berikut adalah daftarnya:

NB: The Incredible Hulk (2008) tidak Penulis masukkan karena belum menontonnya

Bisa dilihat untuk dua tier teratas, Penulis memasukkan 11 film di Infinity Saga atau setara dengan 50% dari total film Marvel. Sebaliknya, hanya ada 2 film dan 3 serial Marvel di Multiverse Saga yang masuk ke dalam dua tier teratas atau sekitar 33%.

Namun, jika melihat daftar di dua tier terbawah, Infinity Saga hanya memiliki 3 judul (13%) saja, sedangkan Multiverse Saga memiliki 7 judul (46%) baik film maupun serial. Bahkan untuk sekadar “oke”, Marvel tampak kesulitan di Phase 4 ini.

Penulis bisa bilang, film terburuknya Marvel di Infinity Saga masih lebih bagus daripada beberapa film dan serial yang ada di Multiverse Saga. Penulis jelas memilih untuk menonton Iron Man 2 daripada harus menonton ulang Eternals.

Memang banyak film Marvel di Infinity Saga yang kualitasnya sekadar “oke” alias di tier B. Namun, film-film tersebut masih jauh lebih baik daripada beberapa judul terakhir yang dirilis oleh Marvel.

Terlalu Mengandalkan Cameo dan Nostalgia

Penulis merasa kalau Marvel terlalu mengandalkan cameo dan nostalgia untuk bisa membuat Phase 4 terlihat menarik. Ini seolah mengesankan kalau Marvel tidak terlalu percaya diri dengan kualitas film dan serial yang mereka buat sendiri.

Selain No Way Home yang sudah Penulis sebutkan, ada film Doctor Strange in the Multiverse of Madness yang memunculkan banyak cameo. Masalahnya, Marvel tampak menyia-nyiakan para cameo tersebut hingga membuat banyak penggemar kesal.

Serial She-Hulk mungkin akan sepi dari awal jika Daredevil tidak diiklankan dari awal akan muncul. Ms. Marvel “mendatangkan” Captain Marvel di bagian akhir serial, sedangkan Hawkeye memunculkan Yelena Belova dari film Black Widow.

Serial WandaVision bahkan memunculkan pemeran Quicksilver alias Pietro Maximoff dari semesta X-Men yang diperankan oleh Evan Peters. Ini memunculkan perdebatan tentang multiverse, walau teori itu dipatahkan di akhir serial.

Love and Thunder sempat memunculkan pasukan Guardians of the Galaxy walau sebentar. Bahkan, film yang bagus seperti Shang-Chi juga menampilkan cameo dari Wong dan Abomination untuk adegan yang sebenarnya tidak terlalu penting juga.

Padahal, film atau serial yang tidak memunculkan cameo juga bisa terlihat bagus, seperti yang kita saksikan di serial Moon Knight. Serial Loki juga memiliki fokus yang bagus ke protagonis utamanya.

Ke depannya, tampaknya Marvel masih akan mengandalkan dua hal ini. Terbaru, Ryan Reynolds baru mengumumkan kalau film Deadpool 3 akan dibintangi oleh karakter kesayangan sejuta umat, Wolverine yang diperankan oleh the one and only Hugh Jackman.

Memang, semesta yang dibuat oleh Marvel membuat semua film dan serialnya saling terkait. Hanya saja, kalau cuma mengandalkan cameo dan nostalgia saja sebagai fans service tanpa diiringi kualitas yang baik, ya buat apa?

Apalagi, Marvel memiliki kelebihan dalam memilih cast-nya. Oscar Isaac (Moon Knight) sangat disukai oleh penggemar. Florence Pugh (Yelena Belova), Iman Vellani (Kamala Khan), Hailee Steinfeld (Kate Bishop), semua langsung jadi favorit banyak orang, sehingga sayang jika kualitas mereka kurang dimaksimalkan dengan baik.

Quantity Over Quality?

Marvel sempat membuat jargon expanding the universe yang menandakan kalau semesta Marvel akan semakin luas. Masalahnya, bagi Penulis semesta Marvel sudah terlalu luas hingga mereka terlihat kesulitan untuk mengendalikannya.

Dulu di Infinity Saga, Marvel merilis sekitar 2-3 film setiap tahunnya. Sekarang pun Marvel masih konsisten merilis sekitar tiga film setiap tahunnya. Bedanya, sekarang Marvel juga merilis serial yang tayang secara eksklusif di Disney+.

Di tahun 2021 ada 5 serial yang dirilis oleh Marvel, sedangkan di tahun 2022 ada 3 serial yang dirilis. Jangan lupa kalau di tahun ini juga akan ada dua special presentation, yakni Werewolf by Night dan The Guardians of the Galaxy Holiday Special.

Tentu ini menimbulkan pertanyaan, apakah Marvel memang sekarang lebih fokus ke kuantitas daripada kualitas? Mereka membuat begitu banyak serial yang tentunya diproyeksikan akan muncul di proyek-proyek Marvel selanjutnya.

Selain membuat serial untuk karakter yang sudah ada, Marvel juga memanfaatkannya untuk memperkenalkan beberapa karakter baru. Jika dibuat daftar, pasti akan ada banyak sekali nama-nama baru.

Masalahnya, kuantitas ini juga sangat berpengaruh ke kualitas yang dimiliki. Lihat saja betapa buruknya CGI di serial She-Hulk: Attorney at Law yang seolah menyiratkan kalau budget Marvel sedang tipis. Tidak hanya itu, kualitas penceritaannya pun buruk.

Hampir semua serial Marvel memiliki kelemahan dengan mengulur-ulur cerita sebelum ke klimaks utama. Akhir yang anti-klimaks, kesan terburu-buru, alur agak berantakan, dan banyak hal buruk lainnya menjadi “ciri khas” dari serial Marvel.

Kemungkinan, ini dikarenakan durasi serial yang hanya berkisar di angka 30 menit. Sebagai perbandingan, serial dari platform lain seperti Game of Thrones dan The Boys memiliki durasi sekitar 1 jam, sehingga setiap episodenya memiliki core cerita yang mantap.

Penulis memahami kalau Marvel Studios baru masuk ke ranah serial, sehingga mereka masih meraba-raba. Mereka bisa belajar dari serial-serial di platform sebelah untuk bisa mendapatkan formula untuk membuat serial yang baik dan mampu memuaskan penonton.

Penutup

โ€œSejujurnya, yang paling dekat yang bisa saya pikirkan tentang mereka (Marvel), dan dibuat seperti apa adanya, dengan aktor melakukan yang terbaik yang mereka bisa dalam situasinya, adalah taman hiburan. Ini bukan sinema manusia yang mencoba menyampaikan pengalaman emosional dan psikologis kepada manusia lain.โ€

-Martin Scorsese-

Sewaktu Martin Scorsese melontarkan pernyataan di atas, banyak penggemar yang langsung memberikan hate comment kepada sang sutradara. Tak sedikit yang menganggap kalai Scorsese hanya iri dengan kesuksesan yang diraih oleh Marvel.

Namun, ketika Penulis baca lagi, mungkin apa yang diucapkan Scorsese ada benarnya. Marvel hanya membuat film yang “menghibur” seperti layaknya taman bermain, bukan film dengan penuh makna yang emosional, Oscar-worthy, mind-blowing, dan lain sebagainya.

Bandingkan dengan film-film seperti Everything, Everywhere, All at Once yang bagi Penulis berhasil membuat penontonnya merasa emosional dan terhanyut ketika menontonnya. Film-film Marvel jarang ada yang seperti itu.

Apakah yang dilakukan oleh Marvel salah? Tentu tidak. Secara komersial, strategi tersebut terbukti berhasil karena mampu menjangkau pasar yang sangat luas. Mau tua maupun muda, mereka bisa menikmati film-film Marvel tanpa perlu terlalu banyak berpikir.

Hanya saja, jangan sampai Marvel merasa jumawa karena memilki fanbase yang besar, sehingga membuat film dan serial ala kadarnya. Seolah ada mindset, mau bikin ampas sekalipun, pasti masih banyak yang mau nonton karena this is Marvel.

Pada tulisan berikutnya, Penulis akan membahas mengenai masa depan MCU beserta proyek-proyek akan mereka miliki untuk Phase 5 dan Phase 6. Beberapa terlihat menjanjikan, tetapi bisa saja hal tersebut salah seperti yang banyak terjadi di Phase 4.


Lawang, 22 Oktober 2022, terinspirasi setelah merasa kualitas film dan serial Marvel mengalami penurunan kualitas

Sumber Artikel:

Film & Serial

[REVIEW] Setelah Menonton Project Hail Mary

Published

on

By

Sejak menonton trailernya tahun lalu, Penulis sudah meniatkan diri untuk menonton Project Hail Mary. Selain karena Penulis lumayan astrophile (pecinta luar angkasa), Penulis punya feeling film ini akan bagus.

Penulis pun akhirnya menontonnya pada hari Sabtu minggu kemarin di MOPIC Malang, sekalian mencoba pengalaman menonton di bioskop tersebut. Harusnya film ini rilis secara global ketika lebaran, yang sayangnya harus tergeser karena slotnya digunakan untuk menayangkan film horor lokal.

Lantas, apakah film ini berhasil memenuhi ekspektasi Penulis? Apakah benar kata orang-orang yang memuji film ini setinggi langit? Singkat kata, Penulis menyukainya dengan beberapa catatan yang membuat skornya tidak terlalu tinggi.

SPOILER ALERT!!!

Detail Film Project Hail Mary

  • Judul: Project Hail Mary
  • Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller
  • Cast: Ryan Gosling, Sandra Hรผller, James Ortiz, Lionel Boyce
  • Durasi: 156 Menit

Apa Cerita Project Hail Mary?

Project Hail Mary diangkat dari sebuah novel karya Andy Weir berjudul sama. Buat yang merasa familier dengan nama tersebut, beliau adalah penulis buku The Martian, yang juga diangkat menjadi film dan dibintangi oleh Matt Damon.

Premis Project Hail Mary sebenarnya sederhana, di mana sebuah misi penyelamatan bumi sedang dilakukan oleh seorang guru sains di sebuah SMP bernama Ryland Grace (Ryan Gosling).

Ceritanya, matahari di tata surya kita sedang sekarat karena alien bernama Astrophage (pemakan bintang). Makhluk tersebut berkembang biak di matahari dan membuatnya meredup. Otomatis, suhu di bumi pun langsung drop.

Hal yang sama terjadi di tata surya lain kecuali satu, yakni Tau Ceti. Perjalanan antariksa pun dilakukan untuk mengetahui apa yang membuat tata surya tersebut selamat. Misi tersebut, disebut Project Hail Mary, dipimpin oleh Eva Stratt (Sandra Hรผller).

Awalnya, Grace direkrut bersama banyak ilmuwan lainnya untuk meneliti Astrophage yang berhasil ditangkap. Nah, Grace-lah yang berhasil menemukan alasan mengapa alien tersebut sampai membentuk garis antara matahari dan Venus (disebut Petrova Line).

Lantas, bagaimana seorang guru SMP bisa terjebak dalam pesawat ruang angkasa? Nanti di bagian akhir cerita akan dijelaskan, karena film ini menggunakan POV Grace yang mengalami amnesia. Ketika sadar, ia sudah berada di dalam pesawat tersebut.

Nantinya sepanjang cerita, kita akan dibawa maju-mundur karena ingatan Grace perlahan kembali. Jadi, akan ada dua lini waktu di film ini, yakni ketika Grace masih di bumi dan direkrut oleh Strat, serta ketika ia telah berada di luar angkasa.

Dalam misinya tersebut, ketika pesawat Grace sudah mendekati Tau Ceti, ia melihat pesawat alien. Ternyata di dalamnya ada sesosok alien berbentuk batu dengan lima kaki (atau lengan, tergantung digunakan untuk apa).

Menariknya, ternyata alien tersebut juga merupakan satu-satunya yang tersisa di pesawat tersebut, sama seperti Grace. Mereka berdua pun jadi menjalin persahabatan karena tujuan mereka sama, yakni meneliti mengapa Tau Ceti bisa selamat. Grace memberi nama alien tersebut Rocky.

Karena menurut Penulis filmnya sangat layak untuk ditonton, Penulis tidak akan bercerita lebih jauh dari ini. Intinya, mereka berdua pun bekerja sama untuk menyelamatkan planet mereka masing-masing dari kepunahan.

Setelah Menonton Project Hail Mary

Setelah menonton Project Hail Mary, Penulis memahami mengapa film ini begitu dicintai oleh para penontonnya. Visual dan scoring-nya benar-benar memanjakan mata dan telinga. Sayang, Penulis tidak menonton film ini di IMAX.

Ada banyak hal yang ingin Penulis bahas tentang film ini, termasuk kekurangan yang cukup mengganggu Penulis.

Protagonis yang Mirip Mark Watney

Mark Watney (Kiri) dan Ryland Grace (Fandom)

Mengingat sumbernya sama, wajar jika Project Hail Mary memiliki kemiripan dengan The Martian. Tidak hanya tema sci-fi yang diusung, kepribadian dan situasi yang harus dihadapi oleh protagonisnya pun mirip.

Pertama, Grace dan Mark Watney (protagonis di The Martian) sama-sama terjebak di luar angkasa sendirian. Bedanya, Watney masih “dekat” karena di Mars, sedangkan Grace sudah beda semesta. “Mainnya” Grace lebih jauh.

Meskipun berada di kondisi yang sulit, mereka berdua sama-sama tetap optimis dan berusaha ceria. Selain itu, fokus cerita kedua film juga sama-sama ke protagonisnya yang harus bisa keluar dari krisis.

Hangatnya Hubungan Grace dan Rocky

Rocky (Fandom)

Jika dibandingkan dengan Interstellar yang lebih mikir, Project Hail Mary lebih menonjolkan sisi dramanya dibandingkan sainsnya. Memang banyak istilah fisika, kimia, dan biologi di film ini, tapi masih dalam taraf yang mudah dipahami.

Salah satu unsur drama yang paling menarik sepanjang film adalah hubungan Grace dan Rocky yang terasa hangat. Kita tidak bisa tidak menyukai kedua karakter tersebut, terutama Rocky.

Dengan desain yang unik dan sebenarnya tidak menggemaskan (karena literally berbentuk batu), ia berhasil membuat penonton merasa ingin ikut melindunginya, apalagi setelah krisis di act three film ini.

Salah satu momen paling mengharukan sepanjang film adalah ketika Rocky bilang bisa memberikan bahan bakar Astrophage agar Grace bisa pulang ke Bumi. Project Hail Mary awalnya adalah one way ticket, sehingga Grace sudah menerima bahwa ia tak akan pernah pulang.

Harapan yang diberikan oleh Rocky, dengan mengorbankan waktu kepulangannya yang lebih lama, membuat Grace (dan penonton) menangis. Momen ini berhasil disajikan dengan sangat baik. Kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh karakter di dalam film.

Interaksi antara keduanya juga menyenangkan untuk dilihat. Mengingat keduanya terjebak di kondisi yang mirip, wajar jika akhirnya mereka memiliki hubungan yang dekat, bahkan Grace rela menunda kepulangannya ke Bumi demi menyelamatkan Rocky.

Rasanya semua yang sudah menonton film ini bisa sepakat, kalau kita sama-sama sayang Rocky.

Plot Armor Grace

Grace dalam Misi Penyelamatan Bumi (SlashFilm)

Meskipun sudah banyak menyebutkan kelebihannya, ada beberapa kekurangan di film ini yang mengganjal Penulis. Pertama adalah latar belakang Grace yang hanya guru dan ilmuwan tanpa pernah ada latar sebagai astronot.

Di The Martian, Watney memang seorang astronot, sehingga wajar jika ia tahu bagaimana cara bertahan hidup di luar angkasa karena memang sudah dibekali. Nah, beda cerita dengan Grace yang harus dibius dan dibuat koma dulu (karena ia sebenarnya menolak) sebelum dipaksa menjalankan misi Project Hail Mary.

Grace memang pintar, tapi mau sepintar apa pun ia, rasanya sulit diterima ia bisa melanjutkan misi tersebut seorang diri, meskipun memang dibantu AI di sana. Belum lagi masalah kondisi fisik astronot yang harus ditempa bertahun-tahun.

Apalagi, dua rekannya justru sudah meninggal dunia, meskipun Andy Weir selaku penulis novelnya mengatakan bahwa penyebab kematian mereka memang masih disimpan untuk “potensi sekuel.”

Untuk orang yang dipaksa menjalankan misi (sendirian pula), Grace terlalu mulus menyelesaikan Project Hail Mary nyaris tanpa cacat. Memang ia hampir tak selamat, tapi ujungnya kehadiran Rocky berhasil menyelamatkan nyawanya.

Bahasa Rocky yang Terlalu Mudah Dipahami

Selain masalah plot armor yang dimiliki oleh Grace, salah satu hal yang Penulis sorot adalah mudahnya ia dalam menerjemahkan bahasa yang dimiliki oleh Rocky. Sebagai perbandingan, kata atasan Penulis, film Arrival (2016) mampu menggambarkan sulitnya hal tersebut.

Memang, masalah durasi membuat hal tersebut disederhanakan. Hanya saja, kembali lagi, Grace yang manusia biasa terasa jadi punya superpower yang bisa melakukan ini itu dengan cepat.

Jangan lupakan bagaimana Grace mampu membuat alat yang bisa menerjemahkan bahasa Rocky secara live dengan alat seadanya. Jika memang semudah itu, harusnya kita juga bisa membuat alat penerjemah bahasa kucing atau paus dengan mudah.

Bagi Penulis, Film Ini Terlalu Happy Ending

Peringatan spoiler, film ini bagi Penulis terlalu happy ending. Akhir film ini terlalu sempurna. Grace dan Rocky sama-sama berhasil menyelamatkan planet mereka, Grace yang tak punya siapa-siapa di bumi juga mendapatkan tempat di Erid, planet asal Rocky.

Kalau mengikuti selera Penulis, harapannya adalah salah satu antara Grace atau Rocky harus mati karena keadaan. Misal, Rocky mati setelah menyelamatkan Grace, yang membuat Grace pergi ke Erid untuk menyelamatkan planet tersebut.

Toh, Grace sudah membuat alat penerjemah, sehingga ia bisa berkomunikasi dengan penduduk Erid lainnya. Nilai pengorbanan yang dilakukan Rocky akan berdampak besar bagi Grace, tanpa melupakan misi Project Hail Mary.

Kesimpulan

Terlepas dari beberapa kekurangan yang Penulis sebutkan, Project Hail Mary tetap menjadi film yang bagus dan enjoyable. Penulis sangat senang karena film pertama yang ditonton di tahun ini sebagus ini.

Jika disuruh merangkum, ada tiga kata Rocky yang bisa menggambarkan perasaan Penulis setelah selesai menonton film ini: amaze, amaze, amaze.

SKOR: 8/10

***

Lawang, 18 April 2026, setelah menonton film Project Hail Mary

Continue Reading

Film & Serial

Gara-Gara Black Myth: Wukong, Saya Jadi Rewatch Kera Sakti

Published

on

By

Dalam beberapa minggu terakhir, bisa dibilang Black Myth: Wukong adalah salah satu judul game yang sedang banyak dibicarakan. Banyak pujian yang disematkan kepada game tersebut, baik karena gameplay, jalan cerita, maupun visualnya.

Penulis sendiri tidak ikut membelinya, meskipun sebenarnya cukup tertarik. Namun, Penulis bukan tipe gamer yang suka genre hack ‘n slash seperti itu. Apalagi, Penulis sedang menyiapkan dana untuk membeli game Dragon Ball: Sparking! ZERO yang rilis bulan depan.

Walaupun begitu, Black Myth: Wukong berhasil menimbulkan perasaan nostalgia karena mengingatkan dirinya akan satu serial legendaris yang juga mengangkat tema pergi ke barat untuk mengambil kitab suci: Kera Sakti. Penulis pun memutuskan untuk rewatch.

Mengapa Kera Sakti Sangat Membekas Bagi Penulis

Rombongan Biksu Tong (Tabloid Bintang)

Penulis tidak ingat pasti mengapa dulu dirinya menonton Kera Sakti, mungkin karena jam tayangnya saja yang pas dengan waktu nonton televisi. Apalagi, serial ini menghadirkan pertarungan yang seru untuk anak kecil.

Untuk yang asing dengan serial ini, Kera Sakti bercerita tentang perjalanan sekelompok orang ke barat untuk mengambil kitab suci Buddha. Kelompok ini terdiri dari biksu Tong Sam Cong, Sun Go Kong, Cut Pat Kai, dan Wu Cing. Maaf kalo penulisannya salah, karena Penulis menulisnya berdasarkan ingatannya.

Rombongan ini jelas unik karena Wu Kong berwujud kera, Pat Kai berwujud babi, dan Wu Cing, yah masih terlihat seperti manusia biasa. Kalau tidak salah, dalam perjalanan tersebut mereka harus melewati 33 rintangan dan 99 kesulitan.

Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan banyak sekali jenis siluman yang memberi kesulitan dan halangan. Memang Go Kong yang paling sering menjadi ujung tombak ketika menghadapi mereka, tapi peran karakter lain tak kalah penting.

Ada banyak alasan mengapa serial ini begitu membekas untuk Penulis. Selain pertarungannya yang seru, ada banyak petuah-petuah kehidupan yang sering diucapkan oleh Tong Sam Cong seperti “Kosong adalah Isi, Isi adalah Kosong.”

Bicara soal petuah, tentu jangan lupakan quote legendaris dari Patkai: “Begitulah cinta, deritanya tiada akhir.” Hingga saat ini, quote tersebut rasanya masih relevan bagi banyak orang.

Waktu kecil, Penulis menganggap animasi atau efek-efek pertarungan serial ini juga cukup oke. Namun, waktu rewatch, ternyata tidak bagus-bagus amat. Bahkan, beberapa animasinya terlihat kartun banget, beda dengan ingatan Penulis waktu kecil.

Selain itu, gara-gara rewatch, Penulis jadi bisa merangkai alur cerita serial ini dengan lebih baik, karena yang tersisa di ingatan hanya potongan-potongan. Bagi Penulis, alur cerita serial ini memang bagus, walau memang ada beberapa yang sejujurnya sudah tidak sesuai dengan standar saat ini.

Serial ini juga terkenal karena lagu opening-nya yang legendaris. Hampir semua orang pasti merasa familiar dengan lagu tersebut. Selain itu, musik-musik di background-nya juga sangat membekas bagi Penulis.

Arc Favorit di Kera Sakti

Kera Lok Yi dalam Wujud Raksasa (YouTube)

Dari sekian banyak pertarungan atau arc yang ada, ada dua yang menjadi favorit Penulis hingga saat ini dan rasanya menjadi favorit banyak penontonnya juga: “Arc Kera Lok Yi” dan “Arc Kera Tum Pei.”

Pada “Arc Kera Lok Yi,” Penulis menyukai bagian akhirnya di mana Sun Go Kong harus berhadapan dengan Kera Lok Yi yang berubah menjadi raksasa gara-gara ulah trio Siluman Elang, Singa, dan Gajah.

Kera Lok Yi dalam wujud raksasanya sebenarnya memiliki wujud yang cukup menyeramkan, bahkan sekarang pun tetap terlihat menyeramkan. Namun, pertarungannya dengan Go Kong seru karena kekuatan mereka setara.

Pertarungan sendiri berakhir ketika Wu Cing (dengan bantuan Pat Kai) berhasil memotong ekor Kera Lok Yi dan membuatnya kembali ke wujud semula. Bisa jadi, ini adalah inspirasi adegan Yajirobe memotong ekor Vegeta dalam wujud Great Ape di Dragon Ball.

Lalu pada “Arc Kera Tum Pei,” lagi-lagi menghadirkan pertempuran yang seru karena Go Kong menghadapi lawan yang setara. Apalagi, Go Kong sempat kehilangan semua kemampuannya demi melindungi gurunya.

Kera Tum Pei juga memiliki kemampuan untuk menyerap makhluk hidup dan mendapatkan kekuatannya seperti Buu. Ia menyerap Siluman Kerbau, Putri Kipas, Siluman Gagak, hingga Gajah Ting Ting. Yang terakhir bahkan ia simpan terus hingga pertarungan terakhirnya.

Selain itu, tentu masih banyak arc lain yang tak kalah menarik. Ketika melawan Siluman Lupan, ada Sze Sze yang merupakan Siluman Laba-Laba. Menurut Penulis, ia menjadi salah satu karakter paling cantik di sepanjang seri Kera Sakti.

Lalu di awal serial, pertikaian Go Kong dengan Ang Hai Ji yang merupakan anak dari Siluman Kerbau dan Putri Kipas juga menarik. Ia yang sangat nakal bekerja sama dengan Siluman Mimpi, tetapi akhirnya bertobat dan diangkat menjadi murid Dewi Kwan Im.

Saat rombongan biksu Tong membantu Dewa Erlang untuk menyelamatkan ibunya juga membekas. Dewa Erlang, yang dari awal cerita terlihat menjadi musuh utama Go Kong, nantinya justru akan menjadi sekutu yang berharga di arc terakhir.

Arc terakhir pun menegangkan, di mana Siluman Ular berhasil membuat Go Kong dimusuhi oleh banyak pihak. Namun, pada akhirnya Kera Sakti memiliki happy ending karena berhasil mendapatkan kitab suci dan menjadi buddha.

***

Saat menulis artikel ini, Penulis baru saja menyelesaikan “Arc Kera Lok Yi” dan akan berlanjut ke “Arc Siluman Gingseng.” Sejujurnya, Penulis sudah tidak sabar ingin segera masuk ke “Arc Kera Tum Pei,” tapi Penulis bertekad untuk menonton semua episodenya sampai tamat.

Kera Sakti jelas telah mewarnai masa kecil Penulis dan membekas hingga Penulis berkepala tiga. Mungkin ini bukan terakhir kalinya Penulis rewatch, bisa jadi di masa depan Penulis akan kembali melakukannya jika kangen dengan serial ini.


Lawang, 12 September 2024, teinspirasi setelah menonton ulang Kera Sakti

Continue Reading

Film & Serial

Langkah Frustasi Marvel dalam Menyelamatkan Semestanya

Published

on

By

Pada ajang San Diego Comic Con (SDCC) 2024 yang berlangsung pada akhir bulan Juli kemarin, Marvel berhasil membuat geger para penggemarnya di seluruh dunia gara-gara pengumuman yang mengejutkan.

Bagaimana tidak, Robert Downey Jr. atau RDJ, yang terkenal karena telah memerankan karakter Tony Stark alias Iron Man selama 11 tahun (dari film Iron Man hingga Avengers: Endgame), ia melakukan comeback dengan menjadi karakter fenomenal lainnya, Doctor Doom!

Pengumuman tersebut tentu membuat banyak penggemar Marvel merasa senang karena bisa melihat aktor favorit mereka kembali ke Marvel Cinematic Universe (MCU). Namun, tak sedikit yang justru menyesalkan keputusan tersebut, termasuk Penulis.

Semua Berawal dari Jonathan Majors

Para Kang yang Menjadi Sia-sia (YouTube)

Setelah Infinity Saga yang diakhiri dengan epic melalui film Avengers: Endgame, MCU membuka lembaran baru dengan Multiverse Saga. Tema ini digembar-gemborkan akan membuka “kemungkinan tak terbatas” di semesta Marvel

Awalnya, Kang the Conqueror dipilih menjadi next big bad villain selanjutnya menggantikan Thanos. Sayangnya, sang aktor Jonathan Majors terjerat kasus yang membuatnya dipecat. Ada opsi untuk melakukan recast, tapi Marvel memilih untuk mengganti villain utamanya.

Setelah berbagai spekulasi dan rumor, akhirnya melalui ajang SDCC 2024 Marvel resmi mengumumkan kalau Doctor Doom akan menjadi penggantinya. Hal ini terlihat dari perubahan judul film Avengers: Kang Dynasty menjadi Avengers: Doomsday.

Film ini akan disutradarai kembali oleh sutradara Russo Brothers, yang sebelumnya telah menyutradarai empat film Marvel, termasuk dua film Avengers. Sebagai tambahan, mereka juga akan menjadi sutradara film Avengers: Secret Wars.

Kembali ke Doctor Doom. Sebenarnya, Doctor Doom yang terkenal sebagai nemesis dari Fantastic 4 telah lama santer disebut akan menggantikan Kang. Apalagi, di komik ia juga memiliki sejarah panjang dan kerap bersentuhan dengan multiverse.

Nah, yang membuat terkejut adalah pemilihan RDJ yang menimbulkan polemik di antara penggemar. Sebelumnya, nama yang dianggap cocok untuk memerankan Victor von Doom adalah Cillian Murphy. RDJ, setidaknya bagi Penulis, tak pernah terpikirkan.

Marvel Sudah Frustasi?

Para Tokoh Lama yang Dibawa Kembali (IndieWire)

“You could not live with your own failure. Where did that bring you? Back to me.”

Quote terkenal dari Thanos tersebut tampaknya cocok untuk diucapkan oleh Russo Brothers dan RDJ ke direksi Marvel. Seperti yang kita tahu, MCU pasca-Endgame tampak berantakan dan kerap mendapatkan kritikan tajam.

Dari banyaknya film dan serial yang dirilis dalam rentang waktu 2020-2024, hanya sedikit yang bisa dibilang oke, sedangkan sisanya seolah mengundah hujatan. Banyak menganggap Marvel benar-benar mengalami penurunan kualitas dan berharap MCU cukup berakhir di Endgame.

Marvel pun bukannya tutup telinga atas kritikan-kritikan tersebut. Buktinya, mereka merombak roadmap yang telah disusun untuk meningkatkan kualitas film dan serial mereka. Tahun ini mereka hanya merilis satu film, Deadpool & Wolverine, walau film tersebut juga tidak bisa dibilang bagus.

Nah, untuk bisa membuat MCU tetap menarik minat penonton, mereka akhirnya memutuskan untuk menggunakan formula lama. RDJ jelas menjadi salah satu aktor terfavorit penggemar, sedangkan Russo Brothers terbukti selama ini selalu menghasilkan film yang berkualitas.

Masalahnya, RDJ sudah terlalu melekat sebagai Iron Man. Apalagi, ia sudah mati dengan heroik di Endgame. Mengembalikannya ke MCU sebagai villain, bagi sebagian penggemar, menjadi hal yang sulit untuk diterima.

Untuk Russo Brothers sendiri, Penulis memiliki kekhawatiran kalau menggunakan mereka kembali justru akan membuat penonton berekspetasi terlalu tinggi ke film Avengers ke-5 dan ke-6. Padahal, sudah banyak kasus di Marvel sutradara yang sama tidak selalu bisa menghasilkan film yang sama bagusnya.

Siapa Doctor Doom Versi MCU?

Mari Kita Lihat Saja Bagaimana RDJ Memerankan Doctor Doom (The Hollywood Reporter)

Secara teori, ada kemungkinan kalau Doctor Doom versi MCU merupakan varian jahat dari Tony Stark. Karena berpotensi menjadi jahat itulah Doctor Strange “mengarahkan” Stark ke kematiannya, mengingat ia telah melihat banyak masa depan alternatif.

Hingga saat ini, sama sekali belum ada petunjuk mengenai Doctor Doom di semua film dan serial MCU di Phase 4 dan 5. Hal ini wajar mengingat pergantian villain utama juga baru dilakukan akhir-akhir ini. Kalau Kang, ia sudah di-tease sejak serial Loki.

Ini juga akan menjadi kelemahan Multiverse Saga. Seperti yang kita tahu, Thanos sudah di-tease sejak film The Avengers tahun 2012 atau enam tahun sebelum penampilannya di film Avengers: Infinity Wars. Doctor Doom hanya punya waktu dua tahun sebelum tampil sebagai musuh utama.

Kemungkinan besar, Doctor Doom baru diperkenalkan pada film Fantastic Four: First Step yang akan tayang pada tahun 2025 mendatang. Film ini akan berlatar di universe lain, bukan Earth-616 tempat di mana para superhero yang kita kenal selama ini tinggal.

Di film tersebut, harusnya yang menjadi musuh utama adalah Galactus. Doctor Doom mungkin akan muncul, tapi tidak menjadi musuh utama. Dari sana, Penulis memperkirakan kalau entah bagaimana pada akhirnya Doctor Doom akan memicu kejadian yang akan terjadi di film Avengers: Secret Wars.

Kita lihat saja nanti apakah langkah frustasi yang diambil oleh Marvel ini berhasil menyelamatkan semestanya atau justru memperburuk keadaan.


Lawang, 7 Agustus 2024, terinspirasi setelah diumumkannya Robert Downey Jr. sebagai Doctor Doom

Foto Featured Image: GQ

Continue Reading

Fanandi's Choice

Blog ini milik Fanandi Prima Ratriansyah sejak 2018