Bagian 17 Hasutan Beracun

Yoga sedang mengerjakan tugas kuliah di kamarnya. Diterangi oleh sebuah lampu baca berwarna merah marun di atas mejanya, ia membalik-balikkan halaman buku yang membahas tentang politik internasional. Membuat tugas berbentuk esai seperti ini merupakan favorit Yoga karena ia bisa menyisipkan opini-opininya. Ia memang sangat suka memperhatikan apa yang terjadi dengan dunia internasional, termasuk berbagai pertikaian yang terjadi antar kerajaan di luar sana.

“Kenapa Kia dulu tanya tentang republik ya?” tanya Yoga kepada dirinya sendiri.

Teringat akan Kia, ia pun jadi memikirkan seorang gadis yang tiba-tiba datang ke desanya tanpa pernah tahu darimana ia berasal. Ibunya sering berbicara pedas jika sedang membicarakannya, sesuatu yang tak pernah ditanggapi olehnya secara serius. Ia paham watak ibunya yang gemar bergunjing dan berburuk sangka kepada orang lain. Anehnya, dirinya seperti kebalikan dari ibunya. Ia tidak terlalu suka ikut campur permasalahan orang lain. Ia juga selalu berusaha untuk berpikir positif tentang orang lain, termasuk Kia.

“Kira-kira darimana ya dia berasal?”

Meskipun sering melarang anggotanya di Karang Taruna untuk membahas asal muasal Kia, dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia penasaran. Secara logika, mustahil tiba-tiba ada seorang perempuan muncul begitu saja di sebuah gubuk tua tak berpenghuni. Pasti ada alasan yang mendasari mengapa ia bisa berada di kampung ini. Kabur dari rumah karena bertengkar dengan orangtua? Melihat sifat Kia yang pendiam dan tidak banyak bicara itu, rasanya mustahil. Kalaupun dimarahi, tentu ia akan lebih memilih bungkam dan menundukkan kepala.

Ataukan justru karena sifatnya tersebut, ia memutuskan untuk kabur karena tidak tahan menghadapi omelan orangtuanya? Ia cenderung menolak teori ini, karena Kia bukan tipe orang yang berani untuk berbuat nekat seperti itu. Ataukah hanya dirinya saja yang belum mengenal Kia sebenarnya? Mereka berdua baru kenal beberapa bulan, dan sesungguhnya mereka tidak terlalu dekat karena sifat tertutup yang dimiliki oleh Kia.

Dalam beberapa kesempatan, Yoga berusaha memancing Kia untuk bercerita sesuatu kepada dirinya. Ia berharap bisa menemukan petunjuk tentang masa lalu Kia. Akan tetapi, jawaban Kia selalu normatif, seolah ingin mengelak dari pertanyaan tersebut. Jika berada di posisi seperti itu, Yoga tidak ingin mendesak Kia lebih dalam. Takut membuatnya merasa tidak nyaman. Padahal, Yoga memiliki misi bagaimana caranya Kia bisa nyaman berada di sini karena kemampuan mengajar yang dimilikinya sangat bermanfaat.

“Tidak, tidak cuma itu, Kia anak yang baik, ia harus betah tinggal di sini setidaknya sampai ingatannya kembali.”

Tapi sampai kapan? Lantas, jika iya harus kembali ke rumahnya, bagaimana dengan kegiatan mengajar yang telah dibangun? Tidak mungkin ia melakukan itu sendirian. Anggota lain pun tidak ada yang bisa sepandai Kia. Apakah ia harus mengakhiri apa yang telah mereka lakukan selama ini begitu saja? Yoga jadi menyadari, betapa tergantungnya mereka kepada Kia sekarang dengan adanya kegiatan ini.

Yoga menutup bukunya, merasa lelah dengan semua pemikirannya tentang Kia. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan mengerjakan tugasnya.

***

Kia sedang berjalan bersama bu Imah pada malam yang sama ketika Yoga sedang mengerjakan tugasnya. Mereka berdua sama-sama baru saja dari kamar mandi bersama. Jika bisa, Kia selalu minta ditemani ke kamar mandi oleh bu Imah ataupun Qila karena merasa was-was akan ada yang mengintip dirinya. Kalau sedang tidak ada orang sama sekali, barulah ia memberanikan diri untuk pergi ke kamar mandi tersebut. Tentu, dengan terburu-buru. Untunglah, pak Kusno sedang membangun kamar mandi yang akan selesai tidak lama lagi. Entah mengapa, kata bu Imah, semenjak Kia menjadi bagian dari keluarga pak Kusno, ada saja rezeki yang mengalir.

“Ah, enggak kok bu, saya kan enggak ngapain-ngapain.” kata Kia ketika mendengar perkataan bu Imah tersebut.

“Tapi bener loh, pak Kusno dapat kerjaan di pabrik, gajinya lumayan. Ibu juga naik gaji dan sering dikasih sama bonus sama majikan. Qila juga bisa baca tulis sekarang.”

Kia merasa tersipu mendengar pujian dari bu Imah. Tapi iya yakin, kalau semua itu bukan karena dirinya, melainkan karena kebaikan yang telah dilakukan oleh keluarga pak Kusno kepadanya. Tidak semua orang bisa dengan ikhlas memberi tempat tinggal dan makan kepada seorang asing yang tidak jelas asal usulnya seperti dia. Ingin rasanya Kia memeluk bu Imah, akan tetapi ia tidak tahu bagaimana memulainya karena jarang melakukannya.

“Oh iya, ibu lihat kamu jadi deket sama Yoga ya?” tanya bu Imah tiba-tiba.

“Eh, Kia deket sama semuanya kok bu.”

“Tapi Yoga punya tempat spesial kan di hatimu?”

Kia hanya menjawab dengan senyuman canggung. Sebenarnya, Kia tidak terlalu paham apa yang dimaksud dengan spesial oleh bu Imah. Ia merasa Yoga adalah laki-laki yang baik, yang selalu berusaha membuat dirinya merasa nyaman berada di dalam lingkungan Karang Taruna. Bahkan, terkadang ia merasa terlalu dispesialkan karena tidak pernah sekalipun dirinya dimarahi oleh Yoga. Padahal, anggota lain kerap disemprot, terutama para anggota yang lalai dalam mengerjakan tugasnya.

“Kamu suka ya sama Yoga?” bu Imah kembali bertanya dengan ekspresi wajah yang menggoda.

“Suka gimana maksudnya bu?”

“Hehehe, kamu itu bener-bener polos ya. Ya suka gitu, jatuh cinta.”

Kia menatap bu Imah dengan keheranan. Yang ditatap malah memberikan senyum lebar yang tak bisa diterjemahkan oleh Kia. Jatuh cinta? Seumur hidup Kia tidak mengenal frase tersebut. Bagaimana kita bisa jatuh cinta kalau tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis? Baru di dunia inilah Kia bisa berbicara banyak dengan laki-laki tanpa merasa takut. Memang benar ia terkesan dengan kebaikan Yoga, akan tetapi ia merasa masih sangat jauh untuk jatuh cinta.

“Tapi kamu betah kan tinggal di sini?”

“Betah sekali bu, meskipun sampai saat ini Kia belum bisa kasih apa-apa ke ibu dan bapak.”

“Ah, itu lagi. Kan sudah ibu bilang, kamu enggak perlu mikirin itu. Kamu kan udah ngajarin Qila baca tulis, jadi anggap saja itu pemberianmu yang paling berharga.”

“Iya bu.”

Sebuah pikiran terlintas di dalam pikiran Kia sewaktu mereka berdua telah sampai di rumah.

“Bu, Kia boleh tanya?”

“Boleh, kenapa?”

“Eh, mohon maaf sebelumnya kalau Kia menyinggung perasaan ibu, tapi gimana kalau Kia ngajar ibu dan bapak baca tulis juga, sama seperti Qila?”

Bu Imah sedikit terkejut mendengar Kia, tidak menyangka pertanyaan tersebut akan keluar dari mulut Kia. Ia merasa sedikit malu ditanya seperti itu, walaupun ia sama sekali tidak tersinggung.

“Eh, gimana ya Kia, ibu udah terlalu tua buat belajar. Ibu malu.”

“Enggak usah malu bu, Kia enggak bakal cerita ke siapa-siapa kok. Setidaknya dengan begitu, Kia bisa merasa bisa bermanfaat untuk ibu dan bapak.”

Bu Imah menghela napas panjang. Ia paham dengan niat tulus Kia yang ingin mengajarinya membaca dan menulis. Hanya saja, ia tetap tidak bisa mengusir rasa malu yang bersarang di dirinya. Kia sudah ia anggap sebagai anak sendiri, dan diajari oleh anak bukan hal yang lumrah terjadi di tempatnya tinggal.

“Nanti coba ibu omongkan ke bapak ya.”

“Iya bu, Kia enggak maksa kok. Kalau memang ibu keberatan juga enggak apa-apa.”

“Terima kasih ya. Oh iya, kegiatan mengajarmu kapan lagi?”

“Besok sore bu.”

“Oh begitu, ya udah kamu istirahat sana, capek kamu hari ini seharian bantu ibu bersih-bersih rumah.”

“Iya bu, selamat malam.”

“Kia.” panggil bu Imah sebelum Kia memasuki kamar.

“Iya?”

“Kamu hati-hati ya, jaga diri baik-baik selama mengajar.”

Kia sekali lagi tidak terlalu memahami maksud bu Imah. Untuk menjaga perasaan, ia menganggukan kepala sembari melempar senyum manis.

***

Keesokan harinya, sekitar pukul empat, bu Dewo sedang menghirup teh hangatnya di ruang tamu. Ia sedang menunggu beberapa orang, tepatnya beberapa remaja Karang Taruna yang ia undang ke rumahnya. Kegiatan mengajar yang dilakukan Kia makin lama makin mengkhawatirkannya. Oleh karena itu ia butuh “orang dalam” untuk mengetahui lebih detail tentang kegiatan itu. Memang benar ia bisa bertanya kepada anaknya sendiri, Yoga. Akan tetapi, anak itu selalu menceritakan yang baik-baik saja kepada dirinya. Ia butuh sesuatu yang buruk.

Lima menit berselang, yang dinanti akhirnya datang.

“Silahkan dinikmati kuenya anak-anak.” kata bu Dewo kepada beberapa anggota Karang Taruna yang baru saja duduk. Ada 5 anak laki-laki yang datang sore itu.

“Iya bu terima kasih.” kata Rei, anggota Karang Taruna yang memiliki tubuh paling tinggi di antara lainnya. Sebenarnya mereka sedikit takut ketika diajak bu Dewo untuk ke rumahnya karena tahu reputasinya sebagai orang terkaya di kampung yang memiliki temperamen tinggi. Akan tetapi, mereka juga tidak memiliki nyali untuk menolak undangan tersebut.

“Ibu yang berterima kasih sama kalian karena udah mau datang kemari.”

“Jadi ada perlu apa bu?” tanya Rei.

“Ibu mau tahu pendapat kalian tentang anak asing yang tinggal di rumah pak Kusno itu. Siapa namanya?”

“Kia bu.”

“Nah iya itu. Kalian enggak curiga apa, tiba-tiba ia bisa ada di sini dengan alasan hilang ingatan?”

“Sebenarnya agak curiga sih bu.”

“Kalian harus hati-hati sama dia, jangan-jangan dia punya niat jahat di sini. Coba kalian awasi, terus lapor ke ibu kalau ada apa-apa. Bisa jadi ia kabur dari rumah gara-gara hamil di luar nikah, terus pura-pura hilang ingatan untuk menghilangkan jejaknya. Bisa aja loh, banyak kasus seperti itu.”

“Iya bu, bisa jadi seperti itu. Kita juga curiga dia yang laporan ke mas Yoga kalau kita malas-malasan belajar. Padahal kita enggak seperti itu.” kata Rei semakn berani mengeluarkan unek-uneknya.”

“Oh iya? Wah, kurang ajar. Anak baru berani-beraninya seperti itu. Nanti ibu bantu bilang ke Yoga.”

“Makanya itu bu, sejak awal kita udah enggak suka sama dia. Sok polosnya itu loh.”

“Terus, kegiatan mengajarnya itu gimana?”

“Membosankan bu, apalagi Kia itu merasa dirinya paling pintar. Padahal kan enggak semua dari kita butuh diajari sama dia, makanya kita sering enggak datang waktu kegiatan mengajar itu.”

“Begitu ya? Enggak nyangka ibu. Terus katanya sekarang anak-anak kecil juga mulai diajari sama dia ya?”

“Iya bu, sore ini juga ada.”

“Ibu jadi khawatir, gimana kalau dia ngajarin hal-hal yang enggak bener. Mong dianya sendiri enggak bener, asal usul enggak jelas.”

“Iya bu, kami juga khawatir.”

“Ya udah, kalian hati-hati pokoknya. Kalau perlu bikin dia enggak betah di sini. Oh iya, ini ada sedikit amplop buat kalian.”

Bu Dewo pun membagikan amplop yang berisikan selembar uang seratus ribu kepada lima anggota Karang Taruna yang hadir di rumahnya sore itu. Mereka menerimanya dengan tangan terbuka karena jumlah tersebut cukup besar untuk mereka. Setelah berbasa-basi sebentar, mereka semua memutuskan pamit sembari membawa misi rahasia dari bu Dewo: Membuat Kia tidak betah untuk tinggal di sini.

Setelah mereka semua pergi, bu Dewo tersenyum kepada dirinya sendiri. Mudah saja mempengaruhi anak-anak labil tersebut. Ia yang sejak awal tidak senang dengan kedatangan Kia makin benci dengan kepopuleran yang dimiliki oleh Kia, apalagi dengan kegiatan mengajarnya itu. Kalau anak-anak sini jadi pintar semua, nanti mereka bisa mencari uang sendiri. Kalau bisa cari uang sendiri, nanti tidak ada orang yang meminjam uang ke dirinya lagi. Bisa jatuh miskin lagi dirinya jika hal tersebut sampai terjadi.

Untunglah ia bisa tahu siapa-siapa anggota Karang Taruna yang kurang menyukai Kia. Ia manfaatkan mereka demi ambisi pribadinya. Anak-anak di sini enggak boleh pintar, begitu yang ada di benak bu Dewo. Apalagi, jika sampai kegiatan ini sukses, bisa-bisa para orang tua di sini yang buta huruf ikut belajar juga. Kalau mereka bisa membaca, bu Dewo tentu tidak bisa menipu mereka dengan berbagai kontrak yang biasanya langsung ditandatangani tanpa dibaca terlebih dahulu. Padahal, kontrak tersebut merupakan tombak utama bu Dewo untuk mengeruk keuntungan dari warga sekitar. Oleh karena itu, ia mulai mengeluarkan hasutan beracun untuk menghentikan Kia. Pertama anak-anak itu, lalu nanti warga kampung ini.

“Siapapun yang menghalangi jalanku harus disingkirkan.” kata bu Dewo kepada dirinya sendiri di depan cermin.