Chapter 63 Seorang Aktivis HAM

“Rika.”

Aku memberanikan diri untuk memanggil nama tersebut setelah kegagalan yang terjadi kemarin Senin. Aku ingin meluruskan segala kesalahpahaman yang terjadi di antara kami berdua. Selain itu, aku juga tidak ingin berada di dalam situasi yang tidak nyaman seperti ini. Apalagi, aku punya topik yang bisa digunakan untuk berbasa-basi terlebih dahulu sebelum membicarakan masalah utama.

“Iya?” Rika menjawab tanpa mengangkat kepalanya. Matanya masih tertuju pada buku yang ada di atas mejanya. Tangan kanannya terlihat aktif mencatat di buku tulisnya.

“Gisel mendapatkan rekomendasi ke kelas enam.”

Begitu mendengar kalimat ini, muka Rika langsung berubah. Ekspresinya menunjukkan dilema, antara merasa senang atau mempertahankan sikap dingin yang ia tunjukkan akhir-akhir ini. Beberapa detik kemudian, Rika mengambil jalan tengah dengan menunjukkan simpati secara formal.

“Selamat Leon, sampaikan salamku ke adikmu. Aku ikut senang dengarnya.” kata Rika dengan mimik wajah yang berusaha mempertahankan kedatarannya.

“Terima kasih Rika, kamu orang kedua yang aku beritahu setelah Kenji tadi pagi.”

“Oh, yang kedua ya.” gumam Rika pelan, namun telingaku masih bisa menangkap suara tersebut.

“Kenapa Rika, ada yang salah?” tanyaku melihat perubahan wajahnya yang kembali murung.

“Enggak, enggak ada apa-apa kok.” Rika kembali berfokus ke buku yang ada di hadapannya. Aku benar-benar tidak tahan dengan suasana yang seperti ini. Hari ini aku harus bicara serius dengannya.

“Rika, aku harus membicarakan sesuatu denganmu.”

Tepat setelah kalimatku berakhir, terdengar suara wanita memanggil namaku dari ambang pintu. Di sana, terlihat Rachel sedang membawa sebuah kotak makanan diiringi dengan senyuman lebar yang ia tujukan kepadaku. Melihat kedatangan Rachel, Rika langsung menutup bukunya dengan kasar dan berjalan meninggalkan kelas. Rachel sendiri seolah berpura-pura tidak melihat Rika ketika jalan mereka beririsan. Wanita itu langsung duduk di bangku Juna dan menyodorkan kotak bekal yang ia bawa.

“Pagi kak, hari ini aku masakin bekal buat Kak Leon. Kakak mau cobain, kan?” tanya Rachel dengan sedikit genit. Karena ia sudah susah payah membuatkannya, tentu saja aku merasa berat untuk menolaknya. Maka dari itu, aku memutuskan untuk menganggukkan kepala. Nampaknya ia membuat nasi goreng dengan telur mata sapi.

“Maaf aku cuma buat nasi goreng, soalnya aku belum tahu apa makanan favorit Kak Leon.”

“Tidak apa, terima kasih.”

“Makanan favorit Kak Leon apa sih?”

“Tidak ada makanan favorit, semua sama saja.”

Karena sejak lulus SD terbiasa sendiri, aku menjadi tidak rewel dengan yang namanya makanan. Aku dulu sering membantu ibu di dapur, sehingga bisa memasak sedikit-sedikit. Sesekali Gisel berinisiatif masak bahkan menyiapkan sarapanku, walau dulu aku sering membuangnya. Mengingat kekejamanku kepada Gisel di masa lalu, aku jadi merasa malu dan marah kepada diriku sendiri.

“Kenapa kak, makanannya kurang enak?” pertanyaan dari Rachel memutus lamunanku.

“Tidak, tidak apa-apa. Makananmu enak, terima kasih.”

“Syukurlah kalau kakak senang. Besok mau dimasakkan apa?”

Besok? Apakah wanita ini berencana untuk datang ke kelasku setiap hari dan membawakan bekal? Jika memang itu keinginannya, maka niatku untuk berbaikan dengan Rika akan semakin menjauh.

“Tidak usah Rachel, aku tak ingin merepotkanmu.”

“Enggak apa-apa kak, toh aku juga suka masak sebelum berangkat sekolah. Tenang aja, sama sekali enggak merepotkan, kok.”

Aku tidak bisa membantah ataupun mencari alasan lain agar ia menghentikan niat baiknya tersebut. Pada akhirnya, aku hanya bisa diam menghabiskan makanan yang ada di dalam kotak bekal.

***

Rika langsung meluncur keluar kelas begitu saja ketika jam pelajaran terakhir telah usai. Aku sempat melihat Sarah melemparkan pandangan yang menyalahkan ke diriku, namun tak ada kalimat yang keluar dari bibirnya. Sembari memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas, aku mendengar suara Kenji datang menghampiriku.

“Ayo Le pulang, aku belum memberi selamat ke Gisel secara langsung. Apa kita perlu bikin acara syukuran kecil-kecilan, ya?” kata laki-laki itu dengan nada ceria seperti biasanya.

“Boleh saja Ken, tapi maaf kemarin malam aku dan Gisel sudah merayakannya dengan masak bersama. Aku ingin mengajakmu, tapi takut kau masih masih sibuk dengan urusanmu.”

“Ah, tak apa Le, santai aja. Syukuran dua kali juga enggak dilarang, kan?”

Maka kami berdua pun jalan bersama keluar kelas. Kenji sudah mulai mendaftar apa saja yang bisa kami masak untuk sore ini beserta bahan yang dibutuhkan. Ketika melewati kelas kami yang lama, aku mendengar suara Rachel memanggil namaku.

“Sore kak, udah pada mau pulang, ya?” tanya Rachel dengan bersemangat seperti biasanya.

“Iya nih, kami mau ke rumah Leon buat merayakan sesuatu bareng adiknya.” jawab Kenji dengan tak kalah semangat.

“Wah, asyik dong. Aku boleh ikutan?”

Jantungku langsung berdegub kencang, walau hanya sekali. Aku tak tahu harus menjawab apa sehingga memasrahkan jawabannya kepada Kenji. Yang bersangkutan juga terlihat sedang menyusun jawaban di otaknya yang cemerlang itu.

“Boleh aja kok, Leon juga enggak keberatan, kan?”

Kenji sialan, aku yang berharap padanya justru melemparkan keputusan padaku. Dari ekor matanya, aku melihat Kenji sengaja melakukan hal ini entah apa alasannya. Maka aku tak bisa berbuat apa-apa selain menganggukkan kepala dan kami bertiga pun berjalan menuju rumah.

Sesampainya di rumah, Gisel menyapa kami dengan riang. Apalagi, ia melihat kehadiran Kenji yang sudah ia harapkan sejak kemarin. Gisel memandang keheranan ketika menyadari ada seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

“Halo Gisel, perkenalkan namaku Rachel. Aku adik kelasnya kakakmu.”

“Halo kak, namaku Gisel, salam kenal.”

Setelah itu, kami pun masuk ke dalam rumah dan mengambil tempat masing-masing di ruang tamu. Kenji segera memimpin pembicaraan, yang aku yakin ia lakukan demi menghindari terjadinya hal-hal yang kurang menyenangkan.

“Jadi Rachel, sebenarnya tadi aku dan Leon berencana untuk membuat acara syukuran kecil-kecilan karena Gisel berhasil mendapatkan rekomendasi ke kelas enam. Rencananya, kami akan memasak sesuatu yang istimewa.” ujar Kenji kepada Rachel yang mendengarkan secara saksama.

“Oh begitu, Gisel hebat banget bisa dapat rekomendasi dari kelas satu langsung ke kelas enam. Pasti Gisel pinter banget.” kata Rachel sambil memegang tangan Gisel yang duduk di sebelahnya.

“Enggak kok, Gisel bisa begini juga karena ada kakak dan Kak Kenji yang dengan sabar ngajarin Gisel.”

“Anak pinter. Omong-omong, ke mana orangtuamu? Aku belum salim ke mereka.”

Suasana hening sejenak ketika pertanyaan tersebut keluar dari Rachel. Aku tahu cepat atau lambat pertanyaan ini akan keluar dari dirinya. Karena itulah sebenarnya aku keberatan ada orang asing datang ke rumahku. Bahkan teman kelasku saja belum semua mengetahui fakta keluargaku. Pada akhirnya, Gisel lah yang menjawab pertanyaan tersebut.

“Ibu kami sudah lama meninggal kak, sekitar empat tahun yang lalu. Kalau Ayah sekarang tinggal sama Paman di Surabaya, kerja di sana.”

“Oh, jadi kalian berdua cuma tinggal sendirian di sini?”

“Iya kak, tapi kami berdua bisa kok tinggal sendirian. Apalagi Kak Leon sangat bisa diandalkan.”

Rachel melirik ke arahku dan tersenyum, “Iya, aku bisa lihat itu kok, Sel.”

“Oke, kita kembali ke topik utama tentang syukuran ini. Menurut Rachel, kita bikin apa hari ini?” Kenji mengalihkan pembicaraan, mungkin khawatir aku akan lepas kendali.

Maka setelah itu, kami semua mendiskusikan masalah makanan yang akan dibuat walaupun aku lebih banyak diam. Setelah menentukan jenisnya, Kenji mengajak Rachel untuk berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan. Meskipun sempat terlihat enggan, Rachel menyanggupi ajakan tersebut.

“Kenapa kenalannya kakak cantik-cantik banget, sih?” tanya Gisel sewaktu Kenji dan Rachel sudah meninggalkan rumah.”

“Kamu harus hati-hati sama kakak itu. Jangan asal cerita.”

“Kenapa, kak? Kayaknya Kak Rachel baik kok.”

“Udah, percaya sama kakak.”

Selang 30 menit kemudian, Kenji dan Rachel telah kembali dan berhasil mendapatkan semua bahan yang dibutuhkan. Kami pun segera menuju dapur untuk menyiapkan semuanya. Di sela-sela aktivitas memasak, Kenji mulai bertanya-tanya seputar kehidupan Rachel.

“Rachel punya saudara?”

“Aku punya satu kakak, namanya Zane. Zane Trunajaya. Selisih kami agak jauh, lima belas tahun. Makanya enggak terlalu deket-deket banget. Apalagi dia sibuk banget.”

“Zane Trunajaya? Aktivis HAM yang lagi naik daun itu?”

“Kok kakak tahu? Iya, kakakku memang seorang aktivis HAM yang sering belain orang-orang kecil.”

“Aku pernah baca beberapa kasus yang ditangani sama kakakmu di koran. Omong-omong, aku kerja jadi loper koran loh, Chel, jadi sering baca berita-berita terkini.”

“Oiya? Wah, hebat masih sekolah udah bisa dapat yang sendiri.”

“Hehe, biasa aja kok. Sekarang kakakmu lagi menangani kasus penggusuran lahan di Jawa Tengah, kan?”

“Iya benar, walau ada beberapa kasus lain yang sedang ditangani, sih.”

“Kalau aku enggak salah, sebenarnya kakakmu itu pengusaha, kan? Tapi karena sering lihat ketidakadilan untuk rakyat kecil, ia memutuskan untuk terjun langsung. Apalagi, kakakmu lulusan hukum di BelandaS.”

“Kak Kenji bisa tahu banget, ya? Iya, kakak kan mewarisi perusahaannya almarhum papa. Sekarang udah dipegang sama CEO lain, kakak jadi komisaris sekaligus pemilik aja.”

“Wah hebat, belum tiga puluh tahun tapi udah bisa kayak gitu.”

“Hehehe, dia memang kakak yang hebat kok. Dia juga sayang sama mama dan aku. Kalau ada waktu, pasti dia mampir ke rumah.”

Meskipun terlihat cuek, aku mendengarkan percakapan mereka dengan baik. Aku sangat tertarik dengan kisah keluarga Rachel yang bagiku cukup unik. Apalagi, kakaknya terdengar sangat luar biasa. Walaupun kaya raya, ia tetap memperhatikan nasib orang lain yang kurang beruntung dan membutuhkan pertolongan dari pihak lain. Entah mengapa aku merasa bahwa pembicaraan ini akan aku butuhkan nanti di masa depan.

Setelah semua masakan telah siap, kami pun berpindah ke ruang makan. Kenji masih mengobrol banyak hal dengan Rachel. Mereka berdua terlihat cocok, walau Rachel sering berusaha menarikku untuk ikut ke dalam pembicaraan. Di sisi lain, Kenji memang selalu ramah dan aktif berbicara bahkan ke orang yang baru ia kenal. Tapi kali ini, aku merasa ia sedang mengumpulkan informasi secara diam-diam. Benarkah? Rasanya aku perlu menanyakan kepadanya secara langsung.

Kami pun menyantap makanan dengan lahap. Selama makan, Gisel mulai bercerita tentang sekolahnya kepada Rachel. Nampaknya, Gisel mulai merasa nyaman dengan Rachel. Aku akui, kepribadian wanita ini memang menarik. Lantas, mengapa ia bisa susah mendapatkan teman? Apakah karena ia terlalu berfokus mengejar diriku atau ada alasan lain? Apakah ia dianggap terlalu sempurna oleh teman-teman wanitanya seperti Jessica? Hingga acara makan-makan ini berakhir dan Rachel berpamitan, aku tidak menemukan jawabannya.