Bagian 20 Saat-Saat Terakhir

Akhir-akhir ini bu Imah sering merasa khawatir dengan kondisi Kia. Setelah pulang dengan mata sembab beberapa hari lalu, anak gadis tersebut tidak pernah keluar rumah lagi. Ketika ditanya, ia hanya menjawab kegiatan mengajarnya sudah dibubarkan tanpa bercerita apa penyebabnya. Karena takut makin menyakiti hatinya, bu Imah memutuskan untuk tidak mendesak Kia lebih jauh.

Meskipun begitu, Kia tetap mengajar Qila serta bu Imah dan pak Kusno. Perkembangan mereka berdua memang lambat, tapi Kia sama sekali tidak pernah mengeluh. Walaupun ketika mengajar sering terlihat kosong, Kia selalu menolak jika disuruh berhenti mengajar. JIka sudah demikian, bu Imah tidak bisa berbuat apa-apa.

Sore itu, ia sedang memperhatikan Kia sedang mengajar Qila. Kondisinya sudah membaik jika dibandingkan dengan sebelumnya. Setelah menimbang-nimbang dengan matang, bu Imah memutuskan untuk mengajak Kia ngobrol setelah selesai mengajar.

“Kia, bisa bicara sebentar?” tanya bu Imah setelah Qila membereskan alat tulisnya.

“Iya bu, ada apa?”

“Eh, kamu bener enggak apa-apa? Sudah satu minggu loh kamu enggak keluar rumah sama sekali. Enggak bosen apa?”

“Enggak kok bu, Kia baik-baik aja. Apalagi pak Kusno sekarang sering bawakan Kia buku-buku bekas, jadi Kia sama sekali enggak merasa bosen.”

“Oh begitu ya.”

Kia memahami perasaan khawatir yang dirasakan bu Imah. Orang yang sudah dianggap sebagai ibunya itu selalu mudah khawatir terhadap dirinya. Kia justru merasa senang mendapatkan perhatian yang sedemikian besarnya, sesuatu yang tidak ia dapatkan di dunianya sendiri. Untuk berusaha menenangkan bu Imah, Kia memutuskan untuk berbagi cerita.

“Bu, Kia kemarin mimpi sesuatu.”

“Apa itu?”

“Jadi, di mimpi Kia tersebut, Kia tinggal di rumah yang besar banget. Kamarnya aja seluas rumah ini. Pelayan rumah juga banyak, mau apa aja tinggal panggil. Pokoknya di mimpi tersebut Kia jadi orang yang kaya raya.”

“Oh begitu?”

“Tapi di mimpi tersebut Kia enggak bahagia, bu. Orang tua Kia sibuk bekerja, Kia enggak punya teman di sekolah, apa-apa sendirian. Mau ke mana juga enggak bebas, harus diantar sama supir. “

“Apa jangan-jangan itu ingatanmu tentang keluargamu? Soalnya kamu bisa ingat dengan detail.”

“Enggak kok bu, itu cuma mimpi. Tapi mimpinya enggak cuma begitu bu, masih ada lanjutannya.”

Maka sore itu, Kia bercerita banyak tentang dunianya yang disamarkan dalam bentuk mimpi. Bu Imah mendengarkannya dengan serius, membayangkan kehidupan bak seorang putri dari seorang Kia. Dengan sedikit bercerita, Kia merasa senang hingga tak terasa ia menitikkan air mata.

“Loh, kenapa kamu menangis?”

“Eh, maaf bu, Kia kebawa suasana. Kia cuma terlalu bahagia karena bisa tinggal sama ibu, sama bapak, sama Qila. Kia merasa benar-benar diterima sebagai anggota keluarga, walaupun Kia enggak ingat sama sekali masa lalu Kia. Kia benar-benar bersyukur…”

Tangisan Kia semakin kencang. Bu Imah bangkit dari duduknya dan memeluk Kia dengan lembut. Memang bu Imah tidak tahu apa yang sedang membebani Kia, tapi jiwanya sebagai seorang ibu membuatnya merasa wajib untuk membuat Kia merasa tenang. Ia tak akan melepaskan pelukan ini hingga Kia benar-benar merasa tenang.

“Sabar ya nak, semua ada hikmahnya kok.”

Sebagai jawaban, Kia menanggukan kepalanya perlahan. Ia sendiri tidak paham apa arti dari tangisannya. Apakah ia merasa bahagia tinggal di sini? Ataukah ia merasa rindu dengan dunianya? Atau malah ia teringat kesalahan yang ia perbuat di Karang Taruna? Apapun alasannya, ia tidak ingin melepaskan pelukannya ke bu Imah. Ia benar-benar merasakan pelukan seorang ibu yang menenangkan jiwa.

***

Kia sedang membaca sebuah buku yang membahas tentang luar angkasa ketika pak Kusno pulang kerja. Wajahnya terlihat letih, namun masih memancarkan semangat yang luar biasa. Bu Imah pun buru-buru menyiapkan makan malam karena mereka memang sedang menantikan kehadiran pak Kusno. Setelah makanan telah terhidang di atas meja makan, mereka pun menyantap makanan dengan khidmat. Di sela-sela makan, Kia ingin bertanya-tanya ke pak Kusno seputar pekerjaannya.

“Gimana pak kerja di pabrik? Nyaman?”

“Nyaman kok. Memang harus kerja keras dari biasanya, tapi bapak sih merasa senang karena sekarang punya gaji tetap. Enggak kayak dulu lagi yang penghasilannya enggak pasti.”

“Syukurlah pak kalau begitu.”

“Iya, terima kasih ya.”

“Eh, kok bapak terima kasih ke Kia?”

“Karena kamu, bapak bisa dapat pekerjaan di pabrik.”

“Tapi kan Kia enggak ngapain-ngapain pak.”

Pak Kusno tersenyum mendengar respon Kia. Ia mengunyah sesuap sendok terlebih dahulu sebelum menjawab keheranan Kia dan sedikit bercerita tentang masa lalunya.

“Karena kamu datang ke rumah ini, bapak jadi sadar kalau harus kerja lebih keras lagi. Dulu bapak cuma tinggal bertiga, lalu kamu datang. Dengan kerja serabutan seperti dulu, bapak merasa enggak mungkin untuk menghidupi empat orang sekaligus. Maka sejak hari pertama kamu ada di sini, bapak langsung memutuskan untuk kerja lebih keras lagi. Nah, awalnya bapak tetap kerja serabutan, tapi bapak lakukan dengan sebaik mungkin.

“Kebetulan, waktu itu ada atasan pabrik yang sedang cari orang buat membersihkan selokannya. Atasan tersebut nampaknya terkesan dengan kerja bapak, sehingga bapak ditawari kerja di pabriknya sebagai buruh. Tanpa banyak pikir, bapak langsung mengambil tawaran itu. Ternyata, atasan tersebut pemilik pabrik pangan hewan ternak, jadi bapak bisa cepat beradaptasi karena sebelumnya sudah sering berhubungan dengan sapi dan kuda.

“Seandainya kamu enggak pernah bergabung sama keluarga kami, mungkin bapak enggak akan pernah seperti ini. Kamu tahu sendiri kan, kalau bapak enggak bisa baca maupun nulis. Waktu kecil, bapak termasuk bandel, enggak mau sekolah enggak mau belajar. Akhirnya ya kayak sekarang ini, enggak punya keterampilan apa-apa. Mau melamar kerja enggak punya ijazah, siapa juga yang mau nerima pegawai seperti itu.

“Bapak baru berubah ketika orangtua bapak meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Bapak yang anak tunggal pun tiba-tiba harus berhadapan dengan kenyataan bahwa bapak harus cari uang sendirian. Bapak sempat stres sampai berpikir mau bunuh diri. Untunglah bapak ketemu ibu, sehingga bapak jadi punya semangat hidup lagi. Walaupun sempat ditolak waktu lamaran, bapak enggak menyerah hingga akhirnya diterima sebagai menantu.

“Lalu Qila lahir. Bapak senang sekaligus sedih ketika melihatnya. Senang, karena akhirnya bapak punya seorang anak. Sedih, karena bapak merasa bersalah tidak bisa memberinya kehidupan yang lebih baik. Bapak masih kerja serabutan, ibu dapat pekerjaan tetap sebagai pembantu setelah Qila cukup umur untuk ditinggal sendirian. Awalnya mau dititipkan ke orangtuanya ibu, tapi kami merasa enggak enak karena di sana sudah banyak orang yang tinggal.

“Kamu tahu, kenapa di tengah kesulitan ekonomi bapak menawari kamu tinggal bersama kami?” tanya pak Kusno kepada Kia yang matanya sudah terlihat sembab. Yang ditanya hanya menggelengkan kepala secara perlahan.

“Karena bapak tahu gimana rasanya sendirian. Enggak mungkin bapak meninggalkan kamu sendirian di gubuk itu dalam kondisi hilang ingatan. Awalnya bapak juga ragu, gimana caranya dapat uang lebih banyak untuk menghidupi kamu. Akan tetapi, ternyata keputusan bapak sama sekali tidak salah. Buktinya, semenjak kamu di sini, ada saja rezeki tambahan untuk kami.”

Sekali lagi Kia menumpahkan air matanya di hari itu. Ia tak menyangka ternyata seperti itu perjuangan hidup pak Kusno. Ia baru menyadari betapa keras usaha yang harus dilakukan oleh pak Kusno demi dirinya dan keluarganya. Bu Imah yang duduk di sebelah Kia membelai punggung Kia untuk menenangkannya. Butuh beberapa menit sebelum Kia berhenti menangis dan mengucapkan terima kasih. Pak Kusno hanya menjawab iya dengan tenang. Setelah itu, Kia membantu bu Imah untuk membersihkan meja makan dan beranjak tidur.

***

Ketika bersiap akan tidur, entah mengapa Kia ingin mengobrol dengan Qila. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak punya topik pembahasan. Maka dari itu, ia memulainya dengan basa-basi singkat ketika mereka berdua telah berada di atas kasur dengan posisi terlentang.

“Qila.”

“Iya kak?”

“Kamu sayang enggak sama kakak?”

“Ya sayang dong kak, kan kakak udah baik banget sama Qila. Di antara anak-anak yang lain, cuma Qila loh yang lancar baca tulis.”

“Hehehe, enggak boleh sombong ya tapi.”

“Enggak kok kak.”

“Eh Qila, seandainya kakak tiba-tiba pergi, kamu sedih enggak?”

“Kakak mau ke mana?”

“Enggak ke mana-mana kok, cuma tanya aja.”

“Ya sedih lah kak, kak Qila sayang banget sama kakak. Kakak jangan pergi ya, Qila mau sama kakak selamanya.”

“Iya, kakak bakal berusaha biar bisa sama kamu terus.”

Usai mengatakan hal tersebut, Kia jadi termenung. Sampai kapan dirinya akan berada di sini? Ia menyadari bahwa tak mungkin selamanya ia bisa berada di sini. Sudah berbulan-bulan ia berada di dunia ini, dan ia tak tahu akan sampai kapan ia bisa berada di sini. Hidupnya tak mungkin seperti ini terus. Seandainya ia memang tak pernah kembali ke dunia aslinya, tentu ia harus melakukan sesuatu demi melanjutkan hidup. Tapi, menjadi apa? Ia tak punya ijazah ataupun sertifikat apapun di dunia ini. Jika menilik dari cerita pak Kusno dan bu Imah, yang bisa ia lakukan adalah menjadi buruh rendahan atau pembantu rumah tangga.

Setelah lama berpikir, akhirnya Kia tertidur. Ia tak menyadari, dan memang tak mungkin menyadarinya, bahwa ia sedang merasakan saat-saat terakhir dirinya menjalani hidup bahagia bersama keluarga pak Kusno. Badai besar akan datang tak lama lagi untuk menghampirinya, membuat ia akan merasakan kepedihan hidup yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

***

“Hafalkan skenario tersebut baik-baik ya, tiga hari lagi kita laksanakan misi kita ini.” kata bu Dewo kepada seseorang di ujung teleponnya.

“Iya, ini mudah kok. Semua instruksi juga akan kita lakukan sebaik mungkin. Kita akan bawa anak itu jauh-jauh dari sini.”

“Bagus. Ingat ya, jangan sampai rencana ini bocor ke siapapun. Saya sudah bayar kalian cukup mahal.”

“Rahasia dijamin seratus persen aman bos! Untung kita pernah ikut teater waktu sekolah dulu.”

“Oke, kita lihat nanti. Kalau semua berjalan sesuai rencana, saya akan kasih bonus.”

Telepon berakhir. Bu Dewo merasa sedikit berdebar setelah menutup teleponnya. Entah karena ada kekhawatiran rencananya gagal atau karena terlalu senang karena sebentar lagi anak yang mengusik kehidupannya akan pergi untuk selamanya.

“Nikmati waktumu yang tersisa ya anak manis.” gumam bu Dewo kepada dirinya sendiri.

Di bagian lain rumah itu, Yoga yang sedang berada di kamar merasa gelisah hingga tak bisa tertidur. Semenjak kejadian itu, dirinya belum pernah bertemu dengan Kia sekalipun. Lala yang dimintai tolong pun belum bisa mengajak Kia berbicara empat mata. Tidak hanya itu, Yoga merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi. Ia memang memiliki insting yang kuat dan kerap benar, sehingga ia menjadi gundah seperti ini.

“Semoga kali ini saja instingku salah. Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, Kia juga akan segera kembali beraktivitas di Karang Taruna.”

Setelah berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, Yoga pun berusaha tidur kembali, meskipun butuh waktu berjam-jam hingga akhirnya ia bisa terlelap.