Chapter 57 Kawan yang Berharga

“Leoon, kenapa melamun?” lagi-lagi Rika memecah lamunanku ketika aku melakukannya di kelas. Tampaknya gelar pemecah lamunan yang selama ini dipegang oleh Kenji harus berpindah tangan ke Rika.

“Tidak ada apa-apa Rika.”

“Kamu tuh enggak pinter bohong Le, setiap kepikiran sesuatu pasti langsung gitu wajahnya.”

“Gitu gimana?”

“Ya gitu, gimana yang mendeskripsikannya, susah Le.”

“Maaf Rika, tapi aku butuh waktu untuk sendiri.”

Rika meresponnya dengan mengangkat wajahku dengan kedua tangannya. Wajahnya nampak serius namun terlihat rasa iba pada kedua matanya. Butuh beberapa detik sebelum ia mulai berbicara.

“Kamu nyuruh aku untuk selalu cerita kalau ada apa-apa kan Le? Aku juga berharap kamu melakukan hal yang sama kepadaku.”

Aku terdiam mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Rika. Aku memegang kedua tangannya dan melepaskannya dari wajahku.

“Maaf Rika, tapi untuk kali ini aku benar-benar belum bisa bercerita kepadamu.”

***

Tentu yang sedang aku pikirkan adalah surat ayah. Sebenarnya isinya singkat saja. Ia minta waktu untuk bertemu denganku sekali saja karena ada beberapa hal yang harus ia sampaikan. Tidak ada pesan lain yang tertulis di sana. Bahkan kata maafpun tidak. Hal tersebut membuatku dilema setengah mati.

“Jadi, kamu sudah baca surat dari ayahmu Le?” tanya Kenji ketika kami berada di rumahku.

“Sudah.”

“Lalu, kalau boleh tahu, apa isinya?”

“Hanya ingin bertemu untuk menjelaskan beberapa hal.”

“Kamu mau?”

“Aku belum menentukan jawabannya.”

“Apa yang membuatmu belum menentukan jawabannya?”

“Karena ini ayah. Jika Rika yang membuat surat untuk bertemu tentu aku akan menemuinya tanpa berpikir panjang.”

“Ah, jadi kamu masih belum bisa memaafkan ayahmu ya.”

“Anggap saja begitu.”

“Omong-omong karena kamu tadi menyebut nama Rika, anak-anak mulai menggosipkan kalian lo, hahaha.”

“Maksudnya?”

“Hubungan kalian sangat dekat, interaksi kalian sangat intens. Mereka menduga telah tumbuh cinta di antara kalian, atau setidaknya salah satu dari kalian.”

Aku memandang Kenji dengan bingung. Kami memang sangat dekat, tapi cinta? Aku rasa tidak. Kami cocok satu sama lain, dan kami telah melalui banyak hal bersama. Kisah pedihnya aku ketahui, dan ia pun mengetahui kisah pedihku. Tentu semua hal tersebut membuat kami menjadi dekat, dan aku tidak merasa ada yang aneh dengan hal itu.

“Kalau boleh aku tanya, kamu menganggap Rika apa?”

“Teman.”

“Sama seperti lainnya?”

“Tentu.”

“Apakah kamu akan memperlakukan temanmu yang lain seperti kamu memperlakukan Rika?”

Ketika aku akan menjawab iya, tiba-tiba saja mulutku tak bisa diajak bekerjasama dan memilih untuk menutup diri. Seperti sebuah film, di kepalaku terbayang apa saja yang sudah kulakukan untuk Rika. Bagaimana aku memeluk Rika untuk membantunya melepaskan beban, bagaimana aku mengacak-acak rambutnya untuk menyemangatinya, hingga bagaimana aku berjanji akan menjadi pembeli novel pertamanya.

Apakah aku akan melakukan hal yang sama jika Rika adalah orang lain? Bagaimana jika dia adalah Sarah atau Rena atau Nita, akankah aku berani untuk memeluknya? Bagaimana jika dia adalah Yuri atau Gita atau Ve, akankah aku akan mengacak rambutnya agar ia kembali tersenyum? Bagaimana jika dia Dea, atau bahkan Sica, akankah aku berusaha menjaganya sedemikian rupa?

“Le? Kok malah bengong? Hahaha.” kata Kenji memutus lamunanku. Nampaknya ia masih pantas menyandang gelar sebagai pemutus lamunan.

“Maaf Kenji, sampai mana kita tadi?”

“Sudahlah lupakan saja Le, toh nanti kalau sudah waktunya kamu akan menyadarinya.”

“Omong-omong, bagaimana pekerjaanmu?”

“Sebagai loper atau sebagai tukang kliping?”

“Dua-duanya.”

“Hmm, tidak ada yang menarik dari pekerjaan sebagai loper, aku hanya perlu mengantar koran tiap pagi sesuai jadwal. Ada beberapa informasi menarik sewaktu aku mengerjakan pekerjaan kliping, tapi rasanya tidak akan menarik perhatianmu.”

“Sewaktu Rika menginap di sini, kau tidak mengantar koran?”

“Kebetulan waktu itu jatah liburku Le, jadi aman.”

“Kau mengantar dengan sepeda tuamu itu kan?”

“Iya Le, kenapa?”

“Aku penasaran, apakah sepeda itu ada sejarahnya?”

“Kalau tidak salah, sepeda itu warisan dari kakekku. Ia mewariskannya ke ayah, lalu diwariskan lagi ke aku. Walaupun lebih tua dari kita, sepedaku tidak pernah rewel yang macam-macam.”

“Itu karena kau pandai menjaga barang.”

“Hahaha, mungkin saja. Tapi memang kualitas sepeda itu sangat bagus Le.”

“Apa mereknya?”

“Bukan merek terkenal kok Le, dijual pun tak akan laku.”

“Begitu.”

Keheningan pun menghampiri kami. Tak ada lagi topik pembicaraan yang muncul dari mulut kami berdua. Sepinya suasana yang mengepung kami membuat aku melamun tak karuan lagi. Seandainya aku mengiyakan permintaan ayah, apakah aku bisa mengontrol diri? Apakah aku akan merasa lebih baik setelah mendengar segala perkataan dan ceritanya? Apakah aku harus memaafkannya? Segala pertanyaan tersebut menggantung di pikiranku, dan tidak ada tanda-tanda aku bisa menjawabnya sekarang.

***

 

Serbuan pertanyaan dari Kenji tentang Rika kemarin membuatku merasa sedikit canggung ketika aku bertatapan mata dengan Rika, keesokan harinya. Seandainya aku pandai menyembunyikan perasaan melalui mimik wajah, tentu hal tersebut bukan menjadi masalah. Sayang, berpura-pura tak akan pernah menjadi keahlianku, dan Rika yang bukan seorang peramal pun akan menjadi heran melihat keanehan pada diriku.

“Kamu kenapa Le, lagi demam?” tanya Rika sewaktu guru yang seharusnya mengajar harus datang terlambat karena masih ada rapat. Waktu kosong seperti ini bagi sebagian teman-teman merupakan kenikmatan yang sangat jarang mereka dapatkan. Bagiku, tentu ini merupakan sebuah kerugian besar, dan biasanya aku memutuskan untuk belajar sendiri.

“Enggak, aku baik-baik aja Rika, terima kasih.”

“Hmm, mencurigakan.”

“Duh pagi-pagi udah pacaran aja.” Rena yang duduk di depan Rika langsung saja berkomentar tidak sopan. Bukan hanya aku, Rika pun menjadi salah tingkah mendengarnya. Sang penggoda pun hanya bisa tertawa ringan melihat reaksi kami berdua. Aku berusaha mengalihkan perhatian dengan memanggil Juna yang sekarang duduk di depanku. Aku yakin, Juna bukan tipe orang yang suka menggoda orang seperti yang dilakukan oleh Rena.

“Juna.” panggilku sambil menepuk pundaknya.

“Iya Le?” jawab Juna sembari membalikkan badannya.

Aku sempat diam beberapa detik karena tidak memiliki bahan pembicaraan sama sekali. Apalagi, Juna merupakan tipe anak yang sangat pendiam dan tidak akan bicara kecuali diajak bicara. Otak yang sering kubanggakan sama sekali tidak mau kuajak kerjasama untuk menemukan topik pembicaraan yang tepat dengan Juna. Untunglah, Juna juga merupakan tipe orang yang sangat sabar, sehingga ia menungguku bersuara tanpa protes. Setelah dua puluh detik, muncul satu topik yang bisa kujadikan bahan pembicaraan panjang dengan Juna.

“Eh, kau tahu negara Saint Vincent and Grenade?”

Sama seperti Gisel, Juna pun mengoreksi kesalahan pengucapanku. Seperti dugaanku, Juna memiliki pengetahuan yang luas, termasuk tentang negara-negara. Bahkan, ia memanggil Pierre untuk ikut bergabung dengan kami. Siapa yang menyangka, mereka berdua ternyata cukup akrab dan sering berdiskusi tentang banyak hal. Ketika aku mengingat-ingat, sepertinya aku baru satu kali berbicara cukup panjang dengan mereka. Maka pada kesempatan kali ini, aku berusaha untuk lebih mengenal mereka.

“Aku kira kau hanya minat mendalami pengetahuan di bidang teknologi Pierre.” kataku sewaktu selesai mendengarkan penjelasannya tentang negara-negara kepulauan Karibia.

“Oh tidak dong Le, aku juga suka mempelajari sesuatu yang unik. Kebetulan, negara-negara kecil seperti yang kamu sebutkan tadi aku anggap unik, sehingga aku sering baca-baca di internet. Tapi untuk masalah geografi, tanyakan kepada ahlinya, Juna.” cetus Pierre sambil menepuk-nepuk pundak Juna. Tentu, sambil mengarahkan telapak tangannya ke hadapan Juna agar ia menunggu 5 detik untuk merespon.

“Ah enggak kok. Kebetulan membaca atlas hobiku sewaktu kecil, jadi sampai sekarang masih suka baca-baca tentang diplomasi antar negara. Lumayan buat selingan dari rumus-rumus.”

Benar juga, kami kelas akselarasi secara otomatis akan dikategorikan sebagai kelas IPA, sehingga pelajaran IPS tidak akan kami dapatkan. Bagi yang tidak menyukai bidang humaniora sepertiku tentu itu merupakan hal yang membahagiakan. Akan tetapi, ternyata ada yang merindukan pelajaran yang hanya berisikan tulisan tersebut. Ini membuktikan bahwa aku masih belum terlalu dekat dengan teman-temanku yang lain.

“Berhubung kita sedang berbicara tentang negara, aku sudah lama penasaran, kenapa namamu sangat berbau Prancis?” tanyaku pada Pierre.

“Karena orangtuaku bertemu di Prancis sewaktu sama-sama mendapatkan beasiswa di Sorbonne. Semenjak itu, mereka berdua semakin terobsesi dengan negara tersebut, sehingga jadi beginilah namaku.” jelasnya dengan menunjukkan mimik wajah yang menggambarkan perasaan malu.

“Kau malu dengan namamu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

“Dulu iya Le, tapi sekarang udah enggak terlalu. Biarlah namaku diolok-olok, toh ini nama pemberian orangtuaku.”

Aku dan Juna sama-sama menganggukkan kepala, berusaha memahami apa yang dirasakan Pierre. Aku juga memiliki nama yang sangat berbau asing, namun rasanya belum pernah namaku dijadikan bahan olok-olokan. Mungkin saja karena nama yang disandang Pierre lebih terdengar mencolok jika dibandingkan dengan namaku.

“Omong-omong, kalian sudah kenalan sama adik kelas tingkat akselerasi?” tanya Pierre membelokkan topik pembicaraan ke arah yang lebih santai.

“Belum.” jawabku datar.

“Kayaknya kita perlu kenalan sama mereka deh, biar hubungan antar anak akselerasi enggak kayak kemarin. Kita tunjukkan bahwa kita bisa menjadi panutan bagi mereka.” kata Pierre berapi-api. Siapa sangka anak kurus berkacamata ini bisa memikirkan hal-hal seperti itu.

“Kalau begitu, nampaknya aku enggak perlu ikut. Takutnya malah bikin onar.” kataku realisitis.

“Kamu kan udah berubah Le, enggak usah khawatir. Tanya aja sama Rika, iya kan Rik?”

“Eh, apa?” ternyata Rika sedang melamun sehingga tak sadar sedang ditanya oleh Pierre.

“Cie ngelamun, hahaha.” goda Pierre. Aku kira Pierre bukan tipe laki-laki yang luwes jika berbicara dengan perempuan. Ternyata ia sama sekali tidak memperlihatkan kecanggungan ketika berhadapan dengan wanita. Aku memang benar-benar masih butuh mengakrabkan diri dengan teman-temanku yang lain.

“Apaan sih Pier.” balas Rika dengan jutek, sesuatu yang jarang ia lakukan.

“Maaf maaf, habis kamunya gitu sih. Aku tadi tanya…”

Omongan Pierre terpotong oleh bunyi bel pergantian jam pelajaran, dan yang bersangkutan pun memutuskan untuk kembali ke bangkunya. Aku melirik Rika yang masih memasang wajah sebal. Sepulang sekolah, aku akan coba untuk menanyakan apa yang membuatnya menekuk wajah. Bagaimanapun, Rika adalah salah satu kawanku yang berharga sama seperti yang lain, sehingga wajar jika aku begitu peduli terhadapnya.