Chapter 58 Senja Membayang di Dalam Kelas

Kenji mengajakku pulang seperti biasa, namun aku menolaknya dengan halus karena ingin menanyakan apa yang mengganjal di pikiranku tadi siang kepada Rika. Dengan mata yang penuh selidik, Kenji memutuskan akan ke rumahku terlebih dahulu untuk mengajari Gisel seperti biasa. Untunglah Kenji adalah seseorang yang sangat pengertian. Ia hampir tidak pernah berkata tidak jika ada yang meminta tolong kepadanya. Ia hampir tidak pernah sakit hati jika ada perkataan maupun perbuatan yang menyakitinya. Aku sangat bersyukur bisa dekat dengannya.

Begitu Kenji balik badan dan berjalan menuju pintu, aku memanggil Rika sebelum ia bangkit dari bangkunya. Gurat kesal itu masih tersisa di wajahnya, walaupun sudah berkurang secara drastis.

“Rika, kau tak apa-apa?”

“Tak apa-apa bagaimana maksud kau itu?” ia justru balik bertanya dengan meniru logatku yang tentu telah dilebih-lebihkan.

“Eh, kau nampak murung sewaktu Pierre memanggilmu tadi, ada masalah?”

“Bukan urusanmu Le, aku butuh waktu sendiri.”

Ah, nampaknya Rika sedikit merasa tersinggung dengan peristiwa kemarin, ketika aku menolak untuk bercerita tentang masalahku. Maka sebelum ia beranjak dengan gusar, aku menahan tubuhnya untuk tetap tinggal di kelas. Baiklah, aku akan menceritakan tentang surat itu kepadanya.

“Tunggu Rika, kau marah karena aku enggak mau cerita kemarin kan? Duduklah, aku akan menceritakannya sekaligus meminta saran darimu.”

Nampaknya bujukanku berhasil, dan Rika kembali duduk di bangkunya. Wajahnya menunjukkan ekspresi yang campur aduk sehingga sangat susah menebak apa yang ada di dalam hatinya. Namun karena ia bersedia untuk mendengarkan ceritaku, aku menganggap Rika masih peduli denganku dan benar-benar ingin membantuku. Bisa jadi karena ia merasa berhutang budi kepadaku.

“Aku sudah cerita tentang ayahku bukan?” tanyaku sebagai awalan cerita.

“Sudah.”

“Ia meninggalkan sepucuk surat untukku. Isinya adalah permohonannya untuk bertemu denganku karena ada beberapa hal yang harus ia sampaikan. Itu membuatku dilema, karena di satu sisi aku tak sudi bertemu dengannya lagi. Di sisi yang lain, banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan kepada laki-laki tersebut, termasuk tentang foto-foto yang aku dan Kenji temukan.”

“Lalu di antara kedua hal tersebut, mana yang lebih berat?” tanya Rika.

“Aku rasa sama beratnya Rik, kebencianku sebanding dengan rasa penasaranku.”

“Kalau gitu, tinggal kurangi kebenciannya bukan?”

Jika orang lain, aku jelas akan mengabaikan perkataannya barusan. Mereka tidak tahu bagaimana perlakukan ayah kepadaku sehingga aku membencinya setengah mati. Akan tetapi, karena yang berbicara Rika sebagai orang yang juga mengalami kekerasan dari keluarganya, aku merasa segan untuk sekadar menganggapnya angin lalu. Kata-kata Kenji tempo hari terngiang kembali di kepalaku, tentang memaafkan ayah dan berdamai dengan masa lalu.

“Kok kamu jadi diam Le? Aku salah bicara ya?” Rika menepuk-nepuk lenganku karena mendadak terdiam.

“Bukan Rika, aku hanya bingung bagaimana merespon pernyataanmu. Andai aku bisa memaafkan semudah dirimu.”

“Kenapa kamu susah memaafkannya?”

“Karena laki-laki itu sudah membuatku menderita selama bertahun-tahun sejak aku kecil.”

“Hanya itu?”

“Apa maksudmu hanya itu?”

“Karena kalau hanya itu, aku bisa memberimu saran Le.”

Aku memandangi dua bola matanya yang bulat. Dengan gerakan samar, aku mengiyakan perkataannya yang terakhir. Jika dipikir-pikir, memang hanya itu yang membuat aku membenci ayah. Ketika kecil aku dikekang sedemikian rupa, lantas ia seleweng ketika ibu bunuh diri, meninggalkan aku dan Gisel sebatang kara yang untungnya bisa hidup dengan uang kiriman paman. Semua hal tersebut benar-benar membuat hidupku menderita.

“Coba kamu ingat-ingat, apa perbuatan baik yang sudah ayahmu lakukan kepadamu Le?”

“Tidak ada sama sekali.” jawabku dengan cepat dan tegas.

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

“Dulu sewaktu kamu masih hidup dengan ayahmu, siapa yang membiayai hidup kalian sehari-hari?”

“Pamanku, ia mengirimi ayahku uang untuk keberlangsungan hidup keluarga kakaknya.”

“Benarkah? Maaf, memangnya ayahmu enggak kerja Le?”

Ketika aku akan menjawab tidak, tiba-tiba aku mengorek kembali memori masa laluku. Apakah ayah pernah bekerja? Seharusnya ia punya pekerjaan bukan sebelum melamar ibu? Orangtua mana yang rela melepas anak perempuannya dinikahi oleh laki-laki yang tidak memiliki penghasilan? Logikanya seperti itu, tapi bagaimana kenyataannya masih terselubung oleh pekatnya kabut. Tambah lagi satu pertanyaan yang membuatku ingin bertemu dengan ayahku.

“Entahlah, seingatku ia hanya bermalasan di rumah.” jawabku pada akhirnya.

“Mungkin memori masa kecilmu hanya menyimpan memori-memori yang sifatnya traumatik Le, sehingga seolah-olah hanya ada kenangan buruk dengan ayahmu.”

“Kau sendiri, apakah pak Toro pernah berbuat baik kepadamu?”

Rika tertawa renyah mendengarkan pertanyaanku yang sebenarnya kulontarkan dengan sedikit kasar. Pembahasan tentang ayah selalu membuat aku susah mengendalikan emosi, walaupun lawan bicara yang kuhadapi adalah seorang Rika. Untunglah ia tidak tersinggung dengan pertanyaanku.

“Setidaknya, ia sudah memberiku tempat tinggal, memberiku makan, membiayai kebutuhan sekolahku meskipun uang yang digunakan memang hakku. Aku selalu berusaha mencari sisi positif dari beragam peristiwa yang kualami Le. Mungkin itulah yang membuatku bisa memaafkan mereka dengan cepat.”

Jawaban Rika membuat aku berpikir keras untuk mengingat-ingat hal baik apa yang telah dilakukan oleh ayah. Satu menit aku diam dan berpikir keras dengan pose patung The Thinker, sama sekali tidak muncul satu kebaikan pun. Rika dengan sabar menantiku untuk berbicara kembali, mungkin sambil berharap aku berhasil menemukan kebaikan ayahku.

“Percuma, aku sama sekali tidak bisa mengingat hal baik tentangnya.” kataku pada akhirnya.

“Kalau gitu, minimal kita cari hikmah dari peristiwa tersebut. Aku yang baru kenal kamu satu tahun aja tahu apa hikmah segala kejadian buruk tersebut untukmu.”

“Apa memangnya?”

“Ya kamu coba jawab dulu dong.”

Untuk kesekian kalinya Rika membuatku berpikir secara mendalam. Hikmah yang bisa dipetik? Rika benar, memang ada.

“Aku merasa menjadi laki-laki yang tangguh, aku menjadi gila belajar sehingga bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Mentalku terasah menjadi kuat, walaupun aku merasa masih kalah dari adikku dan kau. Aku menjadi terbiasa hidup mandiri. Mungkin itu.” jawabku dengan semangat berapi-api.

“Nah, kurang lebih yang ada di pikiranku juga seperti itu Le. Peristiwa-peristiwa buruk yang kamu alami telah membentuk dirimu menjadi pribadi yang kuat. Itulah hikmahnya, maka jadikanlah hikmah itu sebagai alasan untuk memaafkan ayahmu dan turutilah permintaannya untuk bertemu denganmu. Aku yakin, kamu akan merasa lebih baik setelah berbicara dengan ayahmu. Apakah kamu akan memaafkannya setelah itu urusan nanti.”

Walaupun sudah sering dikejutkan oleh Rika, aku benar-benar terkesima dengan kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya, membentuk satu paragraf nasihat yang sangat mengena di hatiku. Apa yang ia ucapkan telah meluluhkan kekerasan hatiku untuk menuruti permintaan ayah, walaupun mungkin hal tersebut tidak akan terealisasikan dalam waktu dekat. Biarlah, aku masih butuh waktu untuk menata diri agar bisa menerimanya di rumahku dengan baik. Yang pasti aku akan bertemu dengan orang yang paling kubenci itu sekali lagi, untuk mendengarkan ceritanya dan menanyakan semua hal yang sudah tertumpuk di dalam otakku.

“Terima kasih Rika, kata-katamu benar-benar telah membuka mataku. Aku janji, aku akan segera menemuinya, entah kapan.” ucapku sembari memberikan senyum kepada Rika.

“Lebih cepat lebih baik Le.” balas Rika.

“Iya, tapi karena aku udah cerita, kau jangan pasang lagi wajah cemberut. Sama sekali tidak cocok dengan karaktermu.”

“Hahaha, sebenarnya aku begitu bukan karena kamu enggak mau cerita ke aku Le.”

“Lalu apa?”

Rika melipat-lipat tangannya dan mengalihkan pandangannya dari wajahku. Tampaknya memang ada hal yang disembunyikan dariku, dan sekarang ia sedang mempertimbangkan untuk memberitahukannya kepadaku.

“Sebenarnya aku merasa malu Le jika ada yang menggoda kita, seperti yang dilakukan sama Rena tadi.”

“Ah begitu, kalau begitu biar aku minta tolong Kenji supaya teman-teman berhenti menggoda kita.”

“Bukan cuma itu Le.” tambah Rika.

“Apalagi?”

“Sebenarnya akhir-akhir ini aku sering merasa gelisah dan susah tidur. Jantungku sering berdebar dengan cepat kalau…” Rika menggantungkan kalimatnya cukup lama.

“Kalau apa?”

“Kalau, kalau aku ngobrol sama kamu.”

“Memangnya aku kenapa? Apa aku terlihat menakutkan?”

“Bukan Le, bukan mendebarkan yang seperti itu.”

“Lantas yang seperti apa?”

“Aku juga bingung Le, yang jelas aku seperti ini sejak kamu membantuku keluar dari rumah orangtuaku itu.”

Aku semakin tidak paham ke mana arah pembicaraan ini, hingga aku hanya bisa diam menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh Rika.

“Apakah kamu masih mencintai Sica, Le?” tanya Rika tiba-tiba.

“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu?” tanyaku balik dengan nada yang mulai meningi karena merasa kesal dengan ketidakjelasan yang ditunjukkan oleh Rika.

“Aku hanya ingin memastikan itu Le.”

Sebenarnya aku sedikit tersinggung karena merasa Rika sudah melampaui batas privasiku. Kalau masalah orangtua, aku bisa memaklumi karena kami memiliki latar belakang yang sama sehingga bisa saling memahami. Tapi, apa urusannya Rika dengan perasaanku terhadap Sica?

“Kalaupun aku  mencintai Sica, ia telah tiada. Melakukan hal yang percuma tidak pernah menjadi aktivitas favoritku.”

“Maaf Le kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu.” kata Rika dengan wajah yang semakin menunduk dalam. Gesturnya tersebut tentu meredakan emosiku. Siapa yang tega marah jika ia sudah berpose ketakutan seperti itu? Maka aku memegang kedua pundaknya untuk membuatnya tegak kembali.

“Coba katakan dengan jujur, sebenarnya kau kenapa sih Rika?”

Ia menatap kedua mataku dengan matanya yang sudah sedikit berair. Nampaknya aku sudah terlalu kasar kepadanya. Senja mulai menampakkan bayangnya di dalam kelas, sebagai tanda Rika harus segera pulang. Jangan sampai aku melepas Rika dalam keadaan seperti ini. Aku berusaha mengatur lagi ekspresi wajahku agar terlihat bersahabat, sehingga Rika tidak merasa takut. Sekali lagi aku melempar senyum dengan harapan bisa mengusir segala ketakutan maupun ketegangan yang dari tadi aku rasakan. Teknikku berhasil, Rika kembali tersenyum dan mengeluarkan sepatah kalimat.

“Kayaknya aku jatuh cinta sama kamu Le.”