Chapter 60 Adik Tingkat Kelas Akselerasi

Pierre benar-benar berusaha merealiasikan niatnya untuk membina hubungan baik dengan adik tingkat. Usulannya diterima oleh Bejo selaku ketua kelas. Kenji dan Rika ditunjuk sebagai pihak yang membuat janji dengan mereka. Berdasarkan penuturan Kenji, para adik tingkat tersebut bersedia dan justru mengajukan diri agar mereka yang ke kelas kami. Mereka sepakat akan ke kelas kami pada hari Sabtu besok seusai pelajaran ekstrakulikuler. Keputusan yang tepat, karena pada jeda itulah kami biasanya memiliki banyak waktu kosong.

“Ceweknya ada yang cantik lo, kayaknya tipemu deh Le.” kata Kenji sewaktu istirahat. Ia duduk di bangku milik Rika yang sedang kosong.

“Cantik bukan satu-satunya parameterku Kenji.” balasku datar, menunjukkan ketidaktertarikan topik yang disodorkan oleh Kenji.

“Asal cocok sama hati ya.”

Aku tak membalas perkataannya. Selain bingung, aku merasa kurang nyaman membahas hal-hal seperti ini. Seharusnya Kenji tahu hal tersebut, sehingga nampaknya ia sengaja menggodaku.

Setelah membahas beberapa hal yang tidak terlalu penting, bel tanda masuk berbunyi dan Kenji kembali ke bangkunya. Aku pun menyiapkan buku-buku untuk pelajaran berikutnya. Ketika selesai, aku melihat Rika memasuki kelas. Mata kami bertemu, dan ia pun tersenyum manis penuh arti yang kubalas dengan senyum pula, entah manis atau tidak.

***

Hari Sabtu yang dinanti-nanti pun telah tiba. Tidak ada persiapan khusus yang kami lakukan. Toh, ini hanya momen perkenalan agar hubungan antara adik dan kakak kelas tingkat akselerasi ini bisa berjalan dengan baik ke depannya. Aku sendiri berusaha memasang ekspresi bersahabat yang sebenarnya terlihat sangat susah. Untuk memastikannya, aku bertanya kepada Rika yang duduk di sebelahku.

“Rika, wajahku sudah terlihat bersahabat, kan?” tanyaku kepadanya ketika ia sedang sibuk menulis sesuatu di atas mejanya.

“Hmm, kayaknya enggak ada yang berubah deh.” jawabnya setelah mengamati wajahku beberapa detik.

“Setidaknya, tidak memancarkan aura permusuhan, kan?”

“Hahaha, emang kamu yang dulu? Udah, enggak usah terlalu dipusingin, jadi dirimu sendiri aja. Kayak aku kemarin waktu sama Kenji ke kelas adik tingkat.”

“Jangan bilang kau mengajak mereka dengan membawanya ke dunia fantasimu?”

“Seratus buat Leon!”

“Astaga Rika, kukira kau hanya mengajak orang-orang yang dekat denganmu.”

“Hehehe, katanya kita ingin menjalin hubungan yang dekat dengan adik kelas? Wajar dong kalau aku ingin mereka tahu seperti apa seorang Rika, biar nanti mereka enggak kaget.”

“Iya, benar juga dirimu.”

“Ada satu lagi Le.”

“Apa itu?”

Sebelum menjawab, Rika mencondongkan tubuhnya ke dekatku sembari meletakkan telapak tangan sebelah kiri di pipinya, seolah ingin menyembunyikan apa yang ingin ia ucapkan kepadaku.

“Mau kamu memasang wajah yang manapun, aku tetap sayang kok sama kamu.” kata Rika seperti orang berbisik.

Aku yakin pipiku menjadi merah waktu mendengar kalimat itu. Apalagi, kalimat tersebut diucapkan secara mendadak. Bingung berbuat apa, aku memutuskan untuk pura-pura tidak mendengar dan mengacak-acak isi tas. Aku bisa mendengar Rika terkikih pelan melihat responku. Tak lama setelah itu, aku mendengar suara keramaian dari depan kelas. Nampaknya para adik tingkat kelas akselerasi telah tiba. Untunglah, aku bisa mengalihkan perhatianku dari godaan Rika tersebut.

Personil kelas nampak lengkap dan duduk di bangku masing-masing, kecuali Kenji dan Bejo yang berada di luar kelas untuk berbicara dengan mereka. Entah mengapa jantungku sedikit berdebar. Mungkin dipicu oleh rasa penasaran. Seumur hidup aku belum pernah mengalami peristiwa semacam ini, di mana kita akan berkenalan dengan banyak orang sekaligus. Memang, aku berusaha untuk tidak peduli, akan tetapi kenyataannya ada sedikit dari bagian diriku yang menantikan pertemuan ini.

Leon dan Bejo nampak masuk ke dalam kelas dengan senyum. Mereka berdua berdiri di depan kelas dan mulai berbicara sesuatu.

“Baik teman-teman,” Kenji mulai bicara, “sesuai dengan kesepakatan kita kemarin, hari ini kita akan kedatangan tamu spesial, adik tingkat kita di kelas akselerasi. Mereka akan memperkenalkan diri mereka satu per satu, lantas kita juga akan memperkenalkan diri kita masing-masing. Kalau mau ada yang ditanyakan tentang mereka, langsung aja angkat tangan.”

“Jangan galak-galak sama mereka, terutama kamu Leon.” tambah Bejo dengan melirik ke arahku. Teman-teman yang lain merespon dengan tertawa kecil, sedangkan aku hanya tersenyum mendengarnya. Bejo tidak ada maksud untuk menyakitiku, ia hanya melempar candaan untuk membuat kami tertawa.

“Kalau begitu, silahkan masuk adik-adik sekalian. Atau kita panggil teman-teman saja ya? Toh beda kita hanya satu tahun.” ujar Kenji sambil melihat ke arah pintu.

Maka masuklah sekelompok anak dengan seragam yang masih terlihat baru. Mereka terlihat sedikit malu-malu ketika masuk ke dalam kelas. Ada yang menundukkan kepalanya, ada yang menutupi wajahnya, ada yang memegangi tangan temannya. Tapi ada satu wanita yang masuk dengan percaya diri. Mungkin, karena kecantikan yang dimilikinya. Bisa jadi, dialah wanita yang dimaksud oleh Kenji.

“Oke, kita mulai acara perkenalannya. Mungkin bisa dimulai dari ketua kelas terlebih dahulu.” Kenji benar-benar bertindak sebagai moderator, dan ia sangat cocok untuk pekerjaan tersebut.

“Baiklah, perkenalkan, nama saya Ayudia Ayunindya. Saya ketua kelas dari kelas akselerasi ini. Emm, apa lagi kak Kenji?” tanya wanita berkacamata dan beralis tebal itu.

“Mungkin nama panggilan, tempat tinggal, hobi, cita-cita, kenapa masuk ke sekolah ini, dan lain sebagainya.”

Maka perempuan tersebut menjelaskan apa saja yang disebutkan oleh Kenji. Setelah selesai memperkenalkan diri, Kenji bertanya kepada kami apakah ada pertanyaan untuk Ayu, nama panggilannya. Nampaknya, tidak ada yang ingin bertanya karena perkenalan yang dilakukan olehnya memang terlalu standar. Maka dari itu, Kenji meminta Ayu untuk memilih siapa yang selanjutnya akan memperkenalkan diri.

Aku tidak terlalu memperhatikan perkenalan mereka satu per satu, sehingga aku tidak akan hapal siapa saja mereka. Bukannya tidak mampu, hanya kurang tertarik saja. Rasa penasaran yang kurasakan tadi ternyata surut dengan cepat. Untuk menghargai upaya mereka, aku berusaha untuk tetap fokus menghadap depan. Aku menghitung komposisi laki-laki dan perempuannya. Setelah dihitung, ternyata laki-lakinya hanya ada lima orang, lebih sedikit ketika aku masuk ke kelas akselerasi untuk pertama kalinya. Waktu itu, ada enam orang walaupun sekarang sudah berkurang satu semenjak Andra turun ke kelas reguler.

Fokusku terpecah ketika wanita yang masuk ke kelas kami dengan percaya diri tadi memulai perkenalannya. Bagaimana tidak, ia bersuara cukup lantang sehingga siapapun yang melamun akan segera kembali ke dunia nyata. Teman-teman sebelumnya memperkenalkan diri dengan volume suara yang relatif rendah.

“Halo semua, perkenalkan namaku Rachel Trunajaya. Aku lahir tahun 1997 bulan September tanggal 5. Rumahku cukup jauh dari sini, tapi kalau ada yang mau main ke sana silakan aja, dibuka 24 jam, hahaha. Hobiku memasak, shopping, dan travelling. Paling suka ke pantai sih walaupun enggak sering, lebih sering ke mal. Cita-cita menjadi seorang chef terkenal, mungkin bisa jadi juri di ajang pencarian koki berbakat. Alasan masuk ke sekolah ini karena banyak hal, salah satunya karena kakak saya juga alumni sekolah ini.”

Ketika wanita itu berbicara, hampir semua fokus kepadanya. Aku yakin Pierre, yang duduk tepat di depannya, tidak berkedip sama sekali. Setiap bicara, ia tak lupa menyunggingkan senyumnya. Mungkin hanya perasaanku saja, tapi aku merasa ia sering melirik ke arahku waktu berbicara. Apakah ada yang aneh dari diriku?

Jujur, wanita itu membuatku teringat akan Jessica. Ia terlihat sebagai wanita yang “terlalu sempurna” hingga dijauhi oleh teman-teman wanitanya yang lain, namun diperhatikan oleh para lelaki. Akan tetapi, aku merasa ada sesuatu yang ganjil dari wanita ini. Berbeda dengan Jessica, nampaknya ia terlalu terbuka dengan orang lain. Selain itu, entah mengapa ia terlihat seperti sedang mengenakan topeng, sama seperti yang selalu dilakukan oleh Malik. Apakah ia gabungan antara Jessica dan Malik? Entahlah.

“Fokus banget Le merhatiinnya.” terdengar suara pelan Rika. Aku menoleh ke arahnya, melihat dirinya yang sedang memajukan bibirnya.

“Maaf, aku hanya merasa ada yang aneh dengan wanita itu, Rika.”

“Oh begitu.” jawab Rika dengan bibir yang semakin maju, lantas memalingkan wajahnya. Aku yang masih disibukkan dengan berbagai pikiran memutuskan untuk kembali melihat ke depan, mendengarkan satu per satu adik kelas yang belum memperkenalkan diri. Setelah mereka berlima belas selesai, saatnya kami yang memperkenalkan diri, dimulai dari Kenji. Anehnya, justru pada saat inilah aku benar-benar mendengarkan. Harapannya, ada hal-hal baru yang bisa aku ketahui tentang teman-temanku sendiri. Para adik kelas pun nampak lebih antusias dan sesekali melontarkan pertanyaan kepada mereka yang sedang memperkenalkan diri.

Pada akhirnya, tibalah giliranku setelah Juna selesai memperkenalkan diri. Aku pun berdiri dari bangkuku, membuatku sedikit merasakan dejavu ketika dulu harus melakukan hal yang sama pada saat MOS berlangsung.

“Nama saya Alexander Napoleon Caesar, biasa dipanggil Leon. Saya tinggal di dekat sekolah, salah satu alasan mengapa saya memilih untuk bersekolah di sini. Hobi saya belajar, dan cita-cita saya adalah…” aku mengambil jeda sejenak sebelum melanjutkan karena tiba-tiba teringat sosok Sica yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

“Cita-cita saya adalah menjadi seorang dokter spesialis paru-paru. Terima kasih.”

“Nah, kalau boleh sedikit menambahkan, aku sering mampir ke rumahnya karena rumah kami berdekatan. Ia punya adik perempuan lucu yang luar biasa cerdas, namanya Gisel. Kami berdua sering kewalahan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.” tambah Kenji, mungkin karena ia melihatku sedikit malas-malasan memperkenalkan diri. Bisa jadi, juga untuk mengurangi kecanggungan karena wajahku pasti menunjukkan mimik serius.

“Namanya kok keren mas? Yang ngasih nama siapa?” tanya salah satu laki-laki yang aku tak ingat namanya.

“Yang ngasih nama ayahnya kok.” jawab Kenji secara cepat. Ia tahu, aku bisa emosi jika harus menjawab pertanyaan tersebut.

“Kenapa ingin menjadi dokter spesiali paru-paru?” kali ini, Rachel yang memberi pertanyaan.”

“Tidak ada alasan khusus.” jawabku singkat.

“Adiknya kelas berapa kak?” tanyanya lagi.

“Sekarang, masih kelas satu.”

“Berarti selisih umurnya jauh, dong?”

“Iya.”

“Rumahnya dekat sini, berarti kita boleh mampir, ya?”

“Iya.”

“Sudah punya pacar belum?”

Suasana kelas langsung sedikit heboh ketika mendengar pertanyaan tersebut. Wanita ini sangat agresif, dan aku membenci hal tersebut. Aku hanya memandangnya dengan tatapan dingin tanpa berkeinginan untuk menjawab pertanyaannya.

“Kenji, sekarang giliranku memperkenal diri, ya?” ujar Rika sambil mengangkat tangannya.

“Baik Rika, kamu yang terakhir, silakan.” Kenji mempersilahkan Rika. Ia pasti sadar, bahwa suasana bisa berubah menjadi buruk jika wanita itu terus melancarkan pertanyaan kepadaku.

“Halo adik-adik, mungkin kalian sudah tahu namaku waktu kemarin aku mampir ke kelas kalian, ya. Namaku Adriana Rika Kayana, bisa kalian panggil Rika. Hobiku membuat cerita dan memasukkan orang lain ke dalam fantasiku. Cita-citaku menjadi penulis novel terkenal. Dan satu lagi…” Rika beranjak dari bangkunya dan secara tiba-tiba merangkul lenganku.

“Cowok bertampang seram ini adalah pacarku.”

Suasana kelas langsung menjadi sangat canggung. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Teman-teman sekelas tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Rachel melihat ke arah kami dengan pipi yang bersemu merah, terlihat berusaha menahan rasa malunya. Mungkin juga marah. Kenji berusaha mengendalikan situasi dengan kata-katanya.

“Jadi, kita semua sekarang sudah saling kenal. Kami harap kerjasamanya untuk beberapa tahun ke depan, setidaknya hingga kami lulus tahun depan, hahaha.”

“Iya kak Kenji, aku mewakili teman-teman juga mohon bantuannya. Sebagai junior, kami berharap bisa belajar banyak dari kakak-kakak sekalian.” kata Ayu yang nampaknya juga merasa butuh mengendalikan situasi.

“Baik, jadi momen perkenalan ini mungkin kita akhiri sekarang karena sebentar lagi bel akan berbunyi. Jangan sungkan-sungkan untuk main ke kelas kami, walaupun kelas kami tidak buka 24 jam seperti rumah Rachel!”

Semua tertawa mendengar perkataan Kenji, kecuali Rachel. Ia tak bisa menyembunyikan ekspresi gusarnya. Mungkin, ia merasa telah dipermalukan oleh Rika. Hingga pada saat adik-adik kelas akselerasi tersebut meninggalkan kelas, Rachel tetap memasang wajah penuh benci ke arah Rika.