Chapter 61 Rachel Trunajaya

“Kalian beneran pacaran?” entah siapa yang bertanya seperti itu karena aku berpura-pura tidur dengan kedua tanganku menjadi bantalnya. Aku tak punya wajah untuk berhadapan dengan teman-teman sekelasku setelah Rika berkata lantang seperti itu. Aku hampir tak bisa mendengar suara Rika yang tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh teman sekelas. Hal tersebut wajar. Desas-desus kami berpacaran sudah sering berhembus akibat kedekatan kami berdua, walaupun pada dasarnya kami belum pernah mendeklarasikan diri. Kalimat tegas dari Rika seolah-olah membenarkan isu tersebut.

“Eh, aku cuma kesel sama perempuan sok cantik itu kok. Enggak sopan banget, kenal aja enggak udah tanya-tanya hal pribadi.” pada akhirnya terdengar suara Rika yang seperti suara keputusasaan.

“Tapi kamu cemburu kan ada cewek cantik yang berusaha tebar pesona ke Leon?” suara ini nampaknya berasal dari Rena.

“Eh, itu…” Rika terdengar kebingungan.

“Pipi kamu merah banget loh Rika.” tambah Rena lagi.

“Leon malah pura-pura tidur lagi. Hei, bangun dong, pacarmu sedang kesusahan nih.” kata Pierre sambil menyenggol diriku.

Karena tidak tahan dengan semua ini, aku membuat gerakan tiba-tiba yang membuat teman-teman terkejut. Aku mengambil sembarang buku catatan dan pensil, lantas menerobos kerumunan dengan kasar tanpa melirik ke arah Rika sedikit pun. Sempat kebingungan ingin ke mana ketika berada di ambang pintu, aku memutuskan untuk melangkahkan kaki ke perpustakaan. Setidaknya, aku bisa menenangkan diri di antara tumpukan buku yang ada di sana, sehingga aku bisa menghadapi teman-teman kelas dengan lebih baik tanpa emosi.

Untunglah, perpustakaan tidak terlalu ramai. Jam setelah kegiatan ekstrakulikuler memang termasuk jam sepi perpustakaan. Aku mengambil posisi duduk di sudut ruang dan segera meletakkan buku dan pensilku. Tidak adanya tujuan khusus selain melarikan diri membuatku sempat terdiam beberapa saat di kursiku. Petugas perpustakaan beberapa kali melirik ke arahku, namun memilih untuk membiarkan diriku sendirian. Baguslah, itu yang aku butuhkan, kesendirian.

Setelah mengatur napas, aku mencoba untuk menjernihkan pikiran. Apa yang membuatku sedemikan kesal? Godaan teman-teman yang belum pernah aku alami sebelumnya? Bisa jadi. Apakah aku kesal karena Rika menyatakan bahwa kami berpacaran sedangkan kenyataannya tidak? Bukan, aku rasa bukan. Aku yakin Rika mengatakan hal tersebut karena keagresifan yang dimiliki oleh adik kelas tersebut. Aku yakin Rika ingin melindungiku dari pertanyaan-pertanyaan personal yang bisa membuatku marah.

Lantas, apakah aku mau berpacaran dengan Rika? Bukan, bukan itu pertanyaannya. Apa itu pacaran? Sebuah status hubungan semu yang sebenarnya sama sekali tidak mengikat? Aku tidak pernah tertarik dengan yang namanya pacaran, walaupun sudah bertemu dengan Sica dan Rika. Apakah itu sebuah keharusan, agar wanita yang kita sayangi tidak berpindah ke lain hati? Apakah tak cukup kita saling menjaga perasaan satu sama lain hingga nanti tiba waktunya untuk menjadi sepasang suami istri?

Aku menyayangi Rika, itu sebuah fakta. Untuk berganti status menjadi pacaran, jujur aku belum siap. Aku harus benar-benar memahami dulu esensi dari pacaran sebelum melakukannya. Hal ini mungkin bisa aku diskusikan dengan Rika sepulang sekolah. Akan tetapi, mungkinkah hal itu aku lakukan sekarang, setelah semua kegaduhan yang tercipta? Apakah aku punya muka untuk mengajaknya bicara di hadapan teman-teman yang terus membicarakan kami?

“Kak Leon?”

Sebuah suara perempuan terdengar dari arah belakangku. Ketika memutar tubuhku ke belakang, aku melihat wanita itu sedang berdiri di sana dengan mata sembab tanda sehabis menangis. Karena merasa tersakiti setelah mendengar kalimat Rika?

“Aku boleh duduk di samping kak Leon?” tanyanya lagi, menunjuk kursi yang berada di sebelah kiriku.

Aku meresponnya dengan membalikkan badanku dan menarik kursi tersebut sebagai tanda silakan duduk. Rachel memahami bahasa tubuhku, sehingga ia melangkahkan kakinya untuk duduk di dekatku.

“Sebelumnya aku minta maaf kalau aku kurang ajar selama di kelas tadi. Semua pertanyaan yang aku lontarkan tadi murni spontanitas semata. Aku sama sekali enggak tahu kalau kak Leon sudah punya pacar.”

Aku hanya menganggukkan kepala pelan sembari memainkan pensil dengan jari-jari di tangan kananku.

“Mungkin kak Leon enggak ingat, tapi aku adik kelas kakak di SD dan SMP.”

Pensil yang aku putar-putar terjatuh ke lantai. Aku mengarahkan mataku ke arahnya, memerhatikan mimik wajahnya untuk mengetahui apakah ia sedang jujur atau hanya sekadar membuat cerita agar aku berempati kepadanya. Dilihat sekilas, ia benar-benar terlihat jujur.

“Aku sudah tahu tentang kak Leon karena dulu kakak terlihat begitu kesepian di sekolah. Waktu SD, ketika ngintip ke kelas kakak, aku lihat kakak duduk termenung sendirian di kelas. Aku mau menawarkan diri untuk menjadi teman kakak, karena aku pun termasuk anak yang enggak punya teman ketika sekolah. Sayangnya, sampai lulus aku enggak punya keberanian untuk mendekati kakak.

“Ketika kakak lulus, aku mencari informasi di mana kakak melanjutkan sekolah dengan harapan aku bisa satu sekolah dengan kakak lagi. Bahkan, ketika orang tuaku pindah, aku memutuskan untuk tetap melanjutkan di SMP kakak meskipun jauh. Toh, hanya butuh naik satu kali angkutan umum. Enggak cuma itu, aku berusaha berubah untuk lebih percaya diri lagi. Butuh berbulan-bulan untuk melatih kepercayaan diriku di SD dan ternyata aku bisa melakukannya, walau perubahan tersebut tidak membuatku memiliki teman dekat.

“Ketika masuk SMP, aku bertemu lagi dengan kak Leon. Kakak tetap sendirian, tapi raut wajahnya sudah berubah total, dari kesepian jadi penuh benci. Beberapa kali aku berusaha memanggil kakak, tak pernah sekalipun kakak menoleh ke arahku. Melirik pun tidak. Kepercayaan diri yang sudah kubangun selama ini runtuh begitu saja. Walaupun begitu, aku tidak ingin membuang begitu saja upayaku selama ini, sehingga aku mempertahankan rasa percaya diri yang kumiliki. Aku menjadi terkenal, banyak laki-laki yang berusaha mendekati diriku dan kutolak semuanya. Para perempuan lebih sering memandang iri ke arahku, membuatku tetap merasa kesepian seperti dulu.

“Waktu berlalu begitu saja, hingga kak Leon lulus. Aku mendengar kabar bahwa kak Leon berhasil masuk kelas akselerasi di sekolah ini. Semenjak itu, aku memutuskan untuk masuk ke kelas akselerasi juga. Kali ini, aku memutuskan untuk tidak membuang kesempatan agar keberadaanku diketahui oleh kak Leon. Oleh karena itu, aku masuk ke dalam kelas kakak dengan percaya diri dan langsung bertanya banyak hal, agar kak Leon mengingatku baik-baik. Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk ketiga kalinya. Aku harap kak Leon mau memaklumi tindakanku tadi.”

Setelah bercerita panjang lebar, Rachel terlihat sangat lega. Mungkin, beban itu telah ia panggul selama ini tanpa pernah kusadari. Jujur, aku memang sama sekali tidak mengingat sosoknya di memori masa kecilku, tapi ceritanya yang runtut membuatku memercayai semua kata-katanya. Aku berusaha memahami perasaannya. Ia anak yang kesepian, lantas menemukan anak kesepian lainnya yang mungkin bisa diajak untuk berteman. Sayangnya, kekelaman masa laluku mempertebal jarak antara kami, sehingga niatnya tersebut selalu tertahan. Di SMA ini, ia hanya berusaha untuk menyadarkanku bahwa ada seorang perempuan bernama Rachel yang sudah lama ingin berteman denganku.

“Rachel Trunajaya, aku akan mengingat namamu baik-baik. Percayalah.” kataku pada akhirnya.

Rachel tersenyum sangat lebar, matanya berkaca-kaca. Ekspresi di wajahnya berbeda dengan yang ia tunjukkan di kelas tadi. Tidak ada kepalsuan yang digunakan untuk menutupi wajahnya. Semua terlihat tulus.

“Terima kasih kak, aku sangat senang. Aku balik ke kelas dulu kalau gitu.”

Ia pun beranjak dari kursinya dan melewatiku. Aku tetap duduk di kursiku sambil memandang kosong rak-rak buku, hingga tiba-tiba sebuah dekapan menyergapku dari belakang. Saking terkejutnya, aku tidak bisa memberikan respon apa-apa.

“Meskipun kak Leon sudah punya pacar, aku enggak akan menyerah gitu aja. Kak Leon sudah lama menjadi tujuanku, aku enggak keberatan untuk melakukannya lebih lama.”

Seusai mengatakan hal tersebut, ia melepaskan dekapannya dan terdengar suara langkah kakinya menjauh dari arah perpustakaan. Petugas perpustakaan sudah keluar ruangan dari tadi, membuat tidak ada satu orang pun melihat kami berdua. Tanganku terasa bergetar hebat entah karena apa. Napasku tak beraturan. Otakku yang sering kubanggakan tidak bisa berbuat banyak untuk menolongku keluar dari keadaan ini. Jika tidak terdengar bunyi bel masuk, mungkin aku akan seharian berada di perpustakaan, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

***

“Sesuatu telah terjadi sewaktu kamu ke perpustakaan tadi, ya?” tanya Kenji setelah sepulang sekolah di rumahku.

“Begitulah, silahkan tebak seperti biasa.” jawabku asal-asalan.

“Entahlah, Rachel menghampirimu ke perpus?”

“Tuh, kau selalu bisa menebak dengan benar.”

“Hahaha, buang semua kemungkinan. Apapun yang tersisa, semustahil apapun, pasti benar. Bukankah aku pernah mengutip kalimat dari Sherlock Holmes tersebut?”

“Ya ya, terserah kau sajalah.”

“Tapi aku sama sekali tidak bisa menerka apa yang kalian bicarakan hingga kau kembali ke kelas dengan wajah yang lebih muram. Teman-teman hingga takut melihatmu.”

“Aku tidak terlalu peduli tentang itu Kenji.”

“Kau tidak ketemu Rika? Tadi ia bilang ingin menyusul dirimu di perpus.”

Aku terperangah mendengar kalimat terakhir dari Kenji. Rika? Aku tidak melihatnya sama sekali. Jangan-jangan, ia masuk ke dalam perpustakaan ketika Rachel datang sehingga ia mengurungkan niatnya? Atau yang lebih buruk, ia melihatku ketika dipeluk oleh Rachel dari belakang?

“Kalau kamu cerita apa yang telah terjadi, mungkin aku bisa membantumu Le.” kata Kenji dengan ekspresi yang tetap ceria.

Maka aku memutuskan untuk menceritakan semuanya, dari kedatangan Rachel, ceritanya sebagai adik kelasku dari SD, hingga pelukan dadakan yang membuatku terkejut. Mimik wajahnya tetap tenang sewaktu mendengarku bercerita, tidak ada ekspresi terkejut sama sekali. Setelah aku mengakhiri ceritaku, Kenji mengambil napas panjang.

“Gejolak kawula muda memang seperti itu Le, aku sama sekali tidak terkejut.”

“Lantas, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menjalin hubungan dengannya karena…” aku tidak melanjutkan kalimatku.

“Karena kamu menyayangi Rika, aku sangat memahami itu kok. Masalahnya, kamu tidak bisa mengabaikan seseorang yang memiliki latar belakang cerita menyedihkan seperti Rachel, kan?”

Aku menganggukkan kepala. Mau tidak mau, cerita Rachel membuatku merasa iba kepadanya. Sebagai orang yang juga biasa sendiri, aku tahu bagaimana menyakitkannya sendiri itu. Karakter yang dibentuknya setelah lulus SD tidak banyak membantunya untuk mendapatkan teman. Aku belum tahu bagaimana latar belakang keluarganya, mungkin bisa memiliki andil terhadap kesendiriannya itu.

“Kamu memang orang baik ya, Le.” kata Kenji sewaktu hening menghampiri kami berdua.

“Baik dan naif itu kadang beda tipis Kenji.” jawabku.

“Mau bagaimanapun, keputusan akhir tetap ada di tanganmu Le. Kamu yang berhak menentukan akan berbuat apa kepada Rachel. Aku tidak bisa memberikan solusi, kalau sekadar masukan mungkin masih bisa. Tapi aku yakin kok Le kalau kamu bisa menemukan jalan keluarnya. Ingat satu hal, ajak Rika bicara untuk meluruskan kesalahpahaman yang ada.”

Aku menutup kedua mataku dan mengarahkan kepalaku ke arah langit-langit. Inilah risiko menjalin hubungan dengan orang lain, selalu saja datang masalah. Aku tidak menyesalinya, karena menjadi sendiri telah terbukti lebih menyakitkan. Aku sudah pernah kehilangan semuanya, aku tidak ingin kehilangan lagi teman-teman berhargaku, termasuk Rika. Sudah kuputuskan, besok aku akan bicara kepada Rika tentang seorang wanita yang bernama Rachel Trunajaya itu.