Chapter 65 Kita Harus Memilih

Rachel benar-benar datang kembali ketika hari Senin telah tiba. Begitu wanita tersebut terlihat di ambang pintu, Rika langsung beranjak dari bangkunya. Secara refleks, aku menggenggam tangannya untuk menahan kepergiannya. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia menoleh ke arahku.

“Rika, duduklah. Ada yang ingin kubicarakan tentangmu,” kataku dengan intonasi nada yang sedikit memerintah. Rika pun anehnya patuh begitu saja dan kembali duduk. Rachel sempat melihat tanganku memegang tangan Rika, namun nampaknya memilih untuk berpura-pura tidak melihatnya.

“Pagi kak Leon, kali ini aku bawa makanan ala bento Jepang buat kak Leon. Nanti pulang sekolah aku ambil kotak bekalnya ya,” kata Rachel sambil meletakkan kotak bekal berwarna merah hati itu di atas mejaku.

“Sebentar Rachel, ada yang ingin kubicarakan.”

Rachel yang terlihat hendak membalikkan badan mendadak terpaku. Senyum tetap ada di wajahnya, walau matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Kau tak perlu lagi membawakanku makanan.”

“Eh, kenapa kak?”

“Karena…karena,” aku sedikit berdeham untuk mengusir keraguan, “karena pacar di sebelahku ini tidak suka melihatnya.”

Hening seketika menghampiri kami bertiga. Rachel memandangku dan Rika secara bergantian, ekspresinya sudah tidak karuan. Rika sendiri memasang wajah terkejut dan bingung. Melihat mereka berdua, aku tahu aku harus memperjelas apa maksudku.

“Seperti yang sudah kau tahu sejak perkenalan kita, kami berdua saling menyayangi satu sama lain. Selama ini aku menerima masakanmu karena merasa tak enak untuk menolaknya. Aku minta kamu untuk menghargai hubungan kami ini dengan berhenti membawakanku bekal.”

Senyum itu telah sirna sepenuhnya dari wajah Rachel. Air mata sudah tergenang dan hanya menunggu sedikit dorongan untuk tumpah.

“Maafkan aku Rachel, aku harus memilih dan aku memilih Rika. Terima kasih atas semua perhatian dan kebaikanmu selama ini. Aku harap kita tetap bisa menjalin hubungan dengan baik, tapi aku benar-benar tidak bisa menerima makanan buatanmu lagi.”

Tumpahlah air itu dari matanya. Aku memanglingkan wajahku karena tak kuasa melihat seorang wanita menangis. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berjalan keluar kelas dengan sedikit berlari. Rika yang dari tadi hanya diam tiba-tiba beranjak dari bangkunya. Ia terlihat ingin mengucapkan sesuatu kepadaku, namun membatalkan niatnya dan pergi keluar kelas. Aku hanya duduk di bangkuku, memandangi kotak bekal yang ada di hadapanku.

***

Tak ada satu kata pun terucap dari bibir Rika ketika ia kembali ke kelas. Walaupun begitu, aura wajahnya terlihat berubah. Merasa senang karena aku memilihnya? Aku tak tahu pasti. Aku menduga bahwa ia ingin menyampaikan unek-uneknya sepulang sekolah.

Benar saja, ketika pelajaran terakhir telah usai, Rika memintaku untuk tinggal sebentar di kelas.

“Nampaknya ini kali pertama kau mengajakku bicara dalam satu minggu terakhir Rika,” kataku datar setelah seisi kelas telah keluar dan menuju rumahnya masing-masing.

“Iya, dan aku ingin bicara sesuatu yang mungkin udah kupendam selama satu minggu,” jawab Rika dengan gelisah, terlihat dari kebiasannya memainkan jari.

“Silakan, aku akan mendengarkannya semua.”

“Pertama, aku mau minta maaf Leon, aku sadar udah jahat ke kamu selama satu minggu ini. Aku diemin kamu hanya karena…” Rika tak kuasa melanjutkan kalimatnya, sehingga ia membuang mukanya.

“Karena cemburu?” jawabku berusaha membantunya menjawab. Rika menganggukkan kepala secara perlahan.

“Aku tahu aku udah bertindak kekanakan. Padahal kita juga belum ada status apapun, tapi udah main cemburu aja. Hanya saja, sewaktu aku lihat Rachel meluk kamu, aku langsung kalap dan marah sama kalian.”

Selama pembicaraan ini, Rika tak pernah sekalipun mengarahkan pandangannya ke arahku. Ia hanya melihat ke kanan dan ke kiri sambil sesekali menatap lantai yang sama sekali tidak menarik. Sedemikian besarkah rasa bersalahnya hingga ia tak berani menatapku?

“Tak apa Rika, aku paham. Aku juga minta maaf kalau tindakanku menyakiti hatimu. Tapi aku berani bersumpah kalau aku tidak memiliki perasaan apa-apa ke Rachel.”

“Sarah sudah cerita ke aku tentang masa lalu Rachel. Aku udah tahu. Sebenarnya, aku memang ingin ngomong sama kamu hari ini.”

“Begitu.”

“Jujur aku merasa cemburu melihat Rachel yang begitu cantik dan baik. Aku minder karena merasa tidak ada apa-apanya dengan dia. Apalagi ia sangat perhatian dan rajin membuatkan bekal yang lezat untuk kamu. Aku takut kamu akan berpaling ke dia dan melupakan aku.”

“Rachel memang cantik dan baik, tapi bukan hanya itu patokanku Rika. Aku pikir kau sudah paham bagaimana pola pikirku.”

“Iya, tapi yang namanya lagi cemburu gimana ya, Le. Semua mendadak serba gelap gitu.”

Mendadak kami berdua saling terdiam satu sama lain. Mata kami tertuju ke sembarang arah, saling menanti apa lagi yang akan disampaikan oleh lawan bicara. Aku sendiri bingung ingin berkata apa lagi, sebelum akhirnya sadar kalau aku belum meminta maaf.

“Aku minta maaf Rika karena kurang peka terhadap perasaanmu. Aku minta kamu maklum, karena aku benar-benar masih belajar memahami yang namanya hubungan dengan manusia lain.”

“Iya Leon, aku juga minta maaf. Mulai sekarang kita kayak biasa lagi aja, ya. Capek masang wajah murung terus, hehehe,” Rika akhirnya berani melihat ke arahku sambil memamerkan senyum yang biasa melekat pada dirinya. Itulah yang selama satu minggu terakhir hilang dari dirinya dan jujur, membuatku merindukannya. Kami berdua pun memutuskan untuk pulang. Aku akan mengantarnya hingga ke jalan raya dan menemaninya hingga mendapatkan angkot.

“Tapi Leon, kalau misal Rachel mau ngasih kamu bekal lagi aku gak bakal marah lagi kok. Aku udah tahu gimana perasaanmu,” kata Rika ketika kami sudah berjalan keluar sekolah.

“Lebih baik tidak. Aku juga tidak ingin memberikan harapan kosong untuk Rachel.”

“Tadi waktu aku ngejar dia, kami ngomong sebentar. Aku jadi tahu gimana perasaannya ke kamu dan aku merasa udah jadi orang yang jahat. Seharusnya aku enggak berhak melarang ini itu ke kamu karena sejatinya aku bukan siapa-siapa untuk kamu.”

Mendengar kalimat tersebut, aku menghentikan langkahku. Butuh beberapa langkah ke depan hingga Rika sadar aku berhenti. Mata kami bertemu tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Aku menarik napas panjang sebelum mengeluarkan kalimat yang sebenarnya dari tadi ingin kuucapkan.

“Kamu orang yang berharga untukku Rika. Tidakkah itu cukup membuatmu menjadi orang yang spesial?”

Rika hanya membuka mulutnya, lantas menutupnya kembali dan membentuk segaris senyum. Setelah itu, kami pun kembali berjalan ditemani senja yang sama di hari itu, ketika kami berdua untuk pertama kali mengungkapkan perasaan satu sama lain.

***

Keesokan harinya ketika jam istirahat, aku berencana untuk mengembalikan kedua kotak bekal milik Rachel ke kelasnya. Aku merasa berat untuk ke kelasnya, namun hal ini harus aku lakukan. Pertama, kotak bekal ini milik Rachel. Kedua, aku ingin memastikan keadaannya baik-baik saja setelah peristiwa kemarin.

Rika melihatku sedang memegang kotak bekal Rachel. Ia menawarkan dirinya untuk menemaniku yang aku tolak dengan halus. Pergi ke kelasnya dengan Rika hanya akan menambah luka di hati Rachel. Aku sudah belajar banyak tentang rasa dan aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.           Aku pun meneguhkan diri untuk keluar kelas dan berjalan menuju kelas adik tingkat. Aku membayangkan teman-teman sekelasnya akan menatapku dengan mata penuh benci. Hal tersebut wajar saja, mengingat aku sudah melukai perasaan teman satu kelasnya.

Ternyata, hal tersebut tidak terjadi. Ketika aku masih berada di depan kelas, adik-adik kelas yang namanya tak bisa kuingat menyapaku dengan ramah. Aku pun menanyakan apakah Rachel ada di dalam kelas, dan mereka menunjuk ke arah bangkunya. Rachel terlihat di sana sedang melamun. Tidak ada satu pun teman kelasnya yang berusaha berinteraksi kepadanya. Apakah karena Rachel sedang murung dan tidak ingin diganggu oleh siapapun? Atau memang ia selalu seperti ini? Aku pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kelas lamaku dan mengembalikan kotak bekalnya.

“Rachel, aku mau mengembalikan kotak bekalmu ini.”

Yang bersangkutan terlihat terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. Ia nampak bingung harus merespon seperti apa, sebelum akhirnya mengambil kotak bekal yang ada di tanganku dan bergumam terima kasih dengan lirih. Aku merasa tidak mungkin hanya pergi begitu saja dan meninggalkan Rachel dalam keadaan seperti itu.

“Aku minta maaf jika sudah menyakiti perasaanmu. Sama seperti kataku kemarin, aku tetap berharap kita bisa berhubungan dengan baik. Aku tahu bagaimana sakitnya sendirian, sehingga aku ingin kamu percaya bahwa kamu tidak pernah sendirian. Pasti ada orang-orang yang peduli denganmu.”

Rachel menatapku dengan nanar, lantas menganggukkan kepalanya. Aku merasa ia butuh waktu untuk merenungkan semuanya, sehingga memutuskan untuk meninggalkannya.

***

“Benarkah kita tidak akan pernah bisa menyenangkan semua orang?” kataku kepada Kenji di rumahku, sepulang sekolah seperti biasa.

“Benar kok Le,” jawab Kenji tanpa mengalihkan pandangannya dari buku belajar Gisel.

“Begitu, ya.”

“Enggak usah terlalu dipikirin Le. Selama kamu selalu berusaha untuk berbuat baik, udah cukup kok”

Kenji mendadak terdiam dan memandangi langit-langit rumahku dengan serius. Aku memperhatikannya beberapa saat sebelum mengajukan pertanyaan.

“Ada masalah?”

“Bukan masalah, sih. Hanya saja akhir-akhir ini aku sedang banyak pikiran,” jawabnya dengan mata yang masih memandang ke arah atas.

“Boleh aku tahu?”

“Tentu saja, toh ini juga ada kaitannya denganmu,” Kenji akhirnya memandang ke arahku dan tak lupa memasang senyuman khasnya.

“Ada kaitannya denganku?”

“Kamu tahu belakangan ini aku sering pulang duluan dengan mengatakan ada urusan. Jujur, aku sempat heran karena kamu enggak pernah menanyakannya.”

“Karena aku menganggap itu wilayah privasimu, dan kau tahu sendiri aku termasuk anti masuk wilayah privasi orang lain.”

“Hahaha, benar juga. Tapi urusan yang sedang aku pelajari ini memang harus kamu ketahui.”

“Dan apakah itu?”

Kenji yang dari tadi sedang duduk dengan posisi santai menegakkan tubuhnya. Jari-jari di tangannya saling bertemu seolah sedang membentuk segel. Ada sedikit ketegangan di wajahnya yang ramah itu, seolah ia bersiap untuk memaparkan rahasia yang selama ini ia sembunyikan.

“Semenjak kamu menemukan foto ibu kita, aku merasa penasaran apa hubungan yang dimiliki oleh orangtua kita. Aku pun berusaha mengingat informasi sekecil apapun yang ada di ingatanku seputar ibu. Aku juga membongkar dokumen apapun yang ada di rumah, termasuk deretan buku-buku yang ada di rak. Siapa tahu, ada petunjuk sekecil apapun. Sayangnya, aku belum menemukan apapun yang berarti, sehingga sementara aku hanya bisa mengadalkan cerita ayahku sewaktu kecil. Katanya, ibu adalah seorang aktivis ketika masa kuliah. Ia bersama beberapa teman sering bersuara vokal menentang rezim yang waktu itu terlalu berkuasa. Hanya sebatas itu cerita dari ayahku.”

“Jadi maksudmu, foto yang aku temukan itu adalah foto para aktivis? Ibuku juga termasuk aktivis?”

“Kita belum bisa menyimpulkan secepat itu, tapi kemungkinan besar iya. Beberapa waktu lalu, aku bertanya ke Rachel apakah dia memiliki saudara. Aku tahu ada seorang aktivis bernama Zane Trunajaya yang sering masuk ke dalam koran. Nama keluarga mereka sama, sehingga aku ingin memastikannya.”

“Jadi maksudmu, kedua ibu kita juga seorang aktivis HAM seperti kakaknya Rachel?”

“Aku juga belum tahu, Le. Siapa tahu kakaknya pernah tahu kasus-kasus masa lalu yang pernah dihadapi oleh ibu kita. Tapi itu nanti, setelah kita bisa memastikan siapa saja yang ada di foto itu dan apa yang mereka lakukan. Oleh karena itu, sekarang kita butuh konfirmasi dari saksi hidup.”

Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Ayahmu pasti tahu sesuatu tentang ibu kita, Le. Ayahmu adalah kunci dari misteri ini. Semakin kamu menunda pertemuan ini, semakin cepat kita bisa mengetahui fakta sebenarnya.”

Sudah kuduga. Kenji memang lihai mencari celah untuk melunakkan hatiku yang keras. Semua kalimatnya memang masuk akal. Ayah mengenal ibu sejak lama, sehingga pasti tahu apa saja kegiatan yang dilakukan.

“Baiklah, tapi setelah kenaikan kelas seperti kataku dulu. Aku ingin kita fokus ujian dulu sebelum berurusan dengan segala misteri ini.”

“Kamu keras kepala seperti biasa ya Leon, hahaha,” Kenji tertawa dengan kencang, wajahnya telah kembali normal. Sama seperti ketika aku harus memilih antara Rika dan Rachel, kali ini aku juga harus memilih antara memecahkan misteri foto itu dengan bertanya kepada ayah atau mendiamkannya. Dalam hidup, kita memang selalu disodorkan pilihan-pilihan. Terkadang, kedua pilihan bisa sama-sama sulit seperti sekarang.