Chapter 66 Kenaikan Kelas

Setelah serangkaian peristiwa dengan Rachel, hampir tidak ada masalah berarti yang terjadi di kelas kami. Kami belajar dengan giat seperti biasa di kelas dan tidak lupa berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Sama seperti tahun kemarin, tahun ini juga ada lomba olahraga untuk memeriahkan ulang tahun republik. Kami yang laki-laki akan berpartisipasi kembali dalam lomba futsal. Kelas kami dipertemukan dengan adik tingkat akselerasi.

Meskipun kehilangan Andra yang cukup lihai dalam menggocek bola, kami bisa mengalahkan adik kelas dengan skor tipis tanpa latihan intens. Aku merasa sedikit malu karena teringat insiden perkelahian dengan Bejo pada perlombaan edisi sebelumnya. Untunglah, kami bisa berdamai dan menjalin hubungan dengan lebih baik lagi.

Di sisi lain, tim basket perempuan harus menelan kekalahan dari adik kelas akselerasi. Tidak masalah, toh pada akhirnya tim futsal juga kalah melawan anak kelas dua belas pada pertandingan selanjutnya.

Selama acara sekolah ini, tak sekalipun aku melihat Rachel walaupun teman sekelasnya sedang bertanding. Apakah ia mengurung diri di kelasnya? Atau ia hanya berusaha semaksimal mungkin untuk tidak bertemu denganku ataupun anak-anak lain dari kelasku? Memikirkan hal tersebut, aku jadi merasa bersalah.

“Kamu lagi mikirin Rachel ya, Leon?” tanya Rika di kelas setelah pertandingan futsal yang terakhir.

“Sejak kapan kau mampu membaca pikiran orang, Rik?” tanyaku balik, berusaha menghindari kewajiban menjawab pertanyaannya.

“Ho ho ho, jangan salah pangeran kegelapan. Aku telah menguasai ilmu ini setelah melakukan perjalanan berbahaya ke puncak gunung Vandrella. Tak ada satupun kenyataan yang bisa kau tutupi dariku, ho ho ho.”

Sebagai balasan, aku menjentikkan jariku ke dahinya karena merasa kesal sekaligus gemas. Yang bersangkutan memegangi dahinya yang kesakitan.

“Ih, Leon kok kasar, sih. Sakit tahu.”

“Aku sudah memperkirakan kekuatanku Rika. Tak mungkin kau kesakitan hanya karena jentikan selemah itu.”

“Leon jahat!” katanya sambil menjulurkan lidah. Untunglah aku berhasil mengalihkan perhatiannya tadi.

Tak lama berselang setelah pembicaraan kami, aku melihat mantan teman sekelas kami datang berkunjung. Ada Andra, Dea, dan Yuri yang masuk secara hampir bersamaan. Tentu saja mereka langsung disambut dengan hangat oleh teman-teman yang lain terutama Kenji. Melihat aku dan Rika yang duduk bersebelahan, Andra memutuskan untuk menghampiriku yang disusul oleh saudarinya.

“Bung, dengar-dengar ada yang baru jadian, nih?” kata Andra sambil duduk di atas bangkuku.

“Enggak, kok,” kataku datar, namun menyunggingkan senyum tipis.

“Wah, gimana nih Rika? Masa pacar sendiri enggak mengakui hubungannya?” kini Dea yang bertanya ke arah Rika.

“Emang enggak, kok,” jawab Rika dengan gaya bicaranya yang seperti biasa.

“Heee, kok gitu? Gosipnya sudah menyebar ke mana-mana, loh,” timpal Andra dengan pandangan kebingungan.

“Dan gosip apakah itu?” tanyaku dengan suara yang tegas karena merasa tak suka sudah dijadikan bahan gosip.

“Jangan marah ya Le, tapi aku dengar dari teman sekelas kalau kamu membuat nangis salah satu perempuan tercantik di kelas sepuluh karena lebih memilih Rika.”

“Oh, itu,” aku membuang muka karena diserang rasa bersalah lagi. Mungkin Rika melihat bahasa tubuhnya yang terlihat tidak nyaman, sehingga ia memutuskan untuk menjelaskan yang sebenarnya ke Andra dan Dea. Tak lama kemudian, Yuri juga ikut bergabung ke dalam pembicaraan. Selama Rika bercerita, mereka semua diam mendengarkan tanpa berusaha menyela sekalipun. Rika memang punya bakat mendongeng yang luar biasa, mungkin setara dengan Kenji.

“Jadi, begitulah kejadian yang sebenarnya. Kalian jangan sampai mendengarkan gosip-gopsi yang enggak benar itu, ya,” pungkas Rika mengakhiri ceritanya.

“Tapi kalian memang saling sayang, kan?” Yuri bertanya secara blak-blakan. Padahal, dulu dia anak yang pemalu.

“Ehehehe, kalau itu..,” Rika tertawa gugup mendengar pertanyaan tersebut sambil mengusap-usap bagian belakang kepalanya. Yang lain ikut tertawa dan memutuskan untuk tidak mendesak kami lebih jauh. Aku merasa senang walau sudah tak satu kelas, kami masih bisa bertemu dan berbincang seperti itu. Oleh karena itu, kumanfaatkan momen ini untuk bertanya-tanya tentang kehidupan mereka di kelas reguler. Teman-teman kelas akselerasi yang lain segera ikut bergabung untuk saling berbagi cerita juga. Kejadian seperti ini tak pernah aku miliki dulu, membuat aku merasa sangat bersyukur bisa memiliki mereka semua sebagai teman.

***

Waktu berjalan dengan cepat sehingga tak terasa kami telah melewati ujian kenaikan kelas. Pada hari Sabtu minggu terakhir bulan September, kami menerima rapot. Sekali lagi aku kalah dari Kenji untuk bisa menduduki peringkat pertama. Aku memandangi kertas peringkat yang ada di tanganku dengan sedikit geram karena merasa gagal meraih target yang sudah aku canangkan. Mungkin Rika menyadari mimik wajahku yang serius, sehingga ia memegang pundakku dan bertanya apakah aku baik-baik saja.

“Tidak apa Rika, aku hanya kesal karena masih belum bisa mengalahkan Kenji.”

“Astaga, padahal nilai kalian hanya berbeda sedikit dan meninggalkan jauh teman-teman yang lain.”

“Tapi sejak kenaikan kelas kemarin, tujuanku adalah mengalahkan Kenji.”

“Iya, enggak apa-apa kok. Kegagalan kan juga pasti memiliki artinya sendiri. Kamu jangan menyerah, ya.”

“Entah, rasanya mau berusaha sekeras apapun aku tak akan pernah bisa mengalahkan Kenji.”

“Heee, Leon yang aku kenal enggak mudah menyerah, loh. Kan, masih ada Ujian Nasional tahun depan, coba kamu berusaha untuk mengalahkannya di sana. Lebih keren, loh.”

Aku tertawa ringan mendengar celetukan Rika yang polos itu. Aku menggumamkan terima kasih kepadanya dan dibalas dengan senyuman ceria yang sangat menyenangkan untuk dilihat. Rika benar, aku tidak boleh menyerah hanya karena kekalahan ini. Pasti ada waktu lain di mana aku bisa mengalahkan Kenji di bidang akademik.

“Tapi enggak enak ya kelas kita. Kenaikan kelas enggak ada liburnya dan langsung pelajaran kelas dua belas di hari Senin besok. Enggak kerasa tinggal beberapa bulan lagi kita lulus dan harus mengucapkan selamat tinggal kepada masa-masa SMA yang menyenangkan.”

Perkataan Rika membuatku teringat janjiku ke Kenji untuk bertemu dengan ayah setelah kenaikan kelas. Kenji sudah mengingatkan aku untuk menghubungi ayah beberapa kali. Tapi hingga hari ini, aku sama sekali belum melakukannya. Mungkin sepulang sekolah ini, aku akan menelepon paman untuk menanyakan kapan ia bisa datang ke rumah.

“Leon, kok tiba-tiba murung? Apa aku salah ngomong?” tanya Rika memecah lamunanku.

“Ah, enggak, Aku hanya teringat janjiku ke Kenji untuk berbicara dengan ayah setelah kenaikan kelas. Banyak pertanyaan yang ingin aku sampaikan kepadanya.”

Mendengar aku bercerita tentang ayah, wajah Rika langsung menunjukkan simpati yang dalam. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, ia hanya membelai lenganku dengan lembut seolah ingin memberikan kekuatan kepadaku. Rika sudah mengetahui semua kisah keluargaku, sehingga ia paham apa yang aku rasakan. Apalagi, Rika juga memiliki permasalahan keluarga juga.

“Rika, menurutmu aku perlu menceritakan kisah keluargaku ini ke teman-teman yang lain?”

“Boleh aja kok, tapi nunggu hatimu siap, ya. Jangan dipaksa.”

Aku menganggukkan kepala mendengar jawaban Rika. Baiklah, aku berjanji untuk bercerita tentang keluargaku kepada teman-teman yang lain jika aku sudah siap. Mungkin, setelah petemuan dengan ayah.

***

Kenji memutuskan untuk tidur di rumahku pada malam minggu ini. Katanya, ia ingin merayakan kenaikan kelas ini dengan menginap di rumah orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Aku tahu itu hanya kedok semata, karena yakin ia hanya ingin memastikan kalau aku benar-benar akan menepati janjiku untuk menghubungi ayah.

“Kau punya tujuan terselubung kan dengan acara menginap ini?” tanyaku ketika aku, Kenji, dan Gisel sedang menyantap makan malam di meja makan.

“Hahaha, kalau begitu akupun tak perlu repot-repot mengingatkannya kepadamu.”

“Oh iya, kakak janji mau ngomong sama ayah kan setelah kenaikan kelas?” Gisel memutuskan untuk ikut ke dalam perbincangan.

“Iya iya, setelah makan aku akan telepon paman. Kalian tenang saja.”

Maka setelah isi piringku tandas tak bersisa, aku segera mengambil ponselku yang ada di kamar. Setelah membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Rika, aku segera mencari nomor paman dan meneleponnya. Di dalam hati, aku berharap paman sedang sibuk sehingga tidak mengangkat telepon. Sayang, setelah tiga kali nada panggil, terdengar suara halo paman dari kejauhan sana.

“Halo paman, lagi repot?”

“Enggak kok Leon, lagi santai aja di rumah sama keluarga. Kamu sendiri gimana di sana? Baik-baik, kan?”

“Semua baik, paman.”

“Sekolahmu lancar, kan? Sekolah Gisel, juga?”

Sebelumnya, paman sudah kuberitahu tentang sekolah Gisel dan bagaimana ia bisa mendapatkan rekomendasi. Waktu itu, paman senang bukan kepalang sehingga mengirimi kami berbagai kebutuhan sekolah melalui paket. Gisel sangat senang menerima hadiah-hadiah tersebut.

“Lancar semua kok.”

Aku mengambil jeda beberapa detik sebelum mengutarakan maksud dari telepon malam ini.

“Paman, ada waktu kapan kira-kira untuk bisa ke sini?”

“Besok pun bisa Leon, kebetulan paman lagi enggak banyak pekerjaan. Emangnya kenapa? Tumben kamu minta paman datang ke rumah.”

“Aku…aku ada beberapa pertanyaan untuk ayah.”

Paman terdengar sedikit terkejut mendengar jawabanku. Butuh beberapa saat agar ia bisa mengendalikan dirinya.

“Begitu, baik Leon. Besok paman bisa ke sana dengan ayahmu. Mungkin sekitar sore kami sampai di sana. Enggak apa-apa, kan?”

“Enggak apa-apa paman, aku tunggu kedatangannya.”

Setelah itu, aku menutup telepon dan segera duduk di ranjangku. Mau tidak mau, aku langsung terpikirkan betapa beratnya pertemuan besok. Semoga aku bisa mengendalikan emosiku dengan baik. Semoga ayah bisa menjawab semua pertanyaan yang selama ini sudah menggantung di dalam benakku selama bertahun-tahun.

“Sudah telepon ayahmu, Le?” tanya Kenji setelah mengetok pintu kamarku yang terbuka.

“Sudah, besok mereka akan datang.”

“Begitu, baiklah. Kamu mau aku temani atau gimana?”

“Temani aku Kenji. Harus ada orang yang bisa menahan emosiku.”

“Baiklah, sekarang kamu istirahat aja. Aku tidur di ruang tengah seperti biasa. Kalau susah tidur, coba dipakai untuk baca buku.”

Setelah itu, Kenji menghilang dari pandanganku. Aku pun segera merebahkan diri di kasur dan meletakkan lenganku di atas kepala. Pertemuan besok adalah pertemuan yang paling aku nantikan sekaligus paling tidak aku nantikan. Entah apa yang akan terjadi besok, aku benar-benar tidak bisa membayangkan.