Connect with us

Cerpen

Titik-Titik Kehidupan

Published

on

Ia memandang dirinya sendiri di depan cermin tinggi itu. Lihatlah, betapa semu senyumnya yang dibalut kostum wisuda lengkap dengan toganya. Tatapan kosongnya menunjukkan segalanya. Dia merasa hampa dengan kelulusannya, dengan gelar sarjananya. Semua mengarah ke satu hal, ia tak tahu harus kemana setelah ini.

***

Lulus dari universitas ternama tentu impian dari semua orang, terutama orang tua. Semakin besar universitas tersebut, semakin tinggi derajat mereka naik, semakin tinggi harga diri mereka melambung. Karena itu banyak orang tua menginginkan anaknya masuk ke universitas ternama, bagaimanapun caranya termasuk menyumbang ambulan.

Untunglah orangtuanya bukan termasuk golongan tersebut. Ia diberi kebebasan untuk memilih jurusan yang ia inginkan. Sayangnya, ia salah langkah dalam memanfaatkan kebebasan tersebut, atau setidaknya ia merasa begitu. Jurusan yang ada di dalam imajinasinya ternyata jauh berbeda dengan realitas. Bayangannya sirna setelah ia melihat daftar pelajaran di semester awal. Ia terjebak dalam pusaran ilmu yang belum pernah ia kuasai dan tidak ingin ia kuasai. Ia terkurung dalam kerumitan matematis yang penuh logika.

Untunglah, ia memiliki banyak kawan yang terus mendukungnya, yang senantiasa membantunya termasuk menyelesaikan skripsinya. Maka luluslah ia dari penjara itu.

Namun itu hanya mengantarkannya ke sebuah kekosongan.

***

Terasa sia-sia saja ia membuat begitu banyak rencana, mulai A sampai F. Ia hanya bisa membuat rencana tanpa bisa mengambil keputusan. Ia terlalu banyak menimbang-nimbang hingga timbangan tersebut berkarat. Percuma saja membuat pilihan jika tidak berani memutuskan, karena sesungguhnya pilihan hanya tersedia bagi orang yang siap untuk memutuskan.

Ia mencoba untuk menjadi orang yang realistis, bukan orang yang penuh dengan mimpi seperti dulu ketika ia pertama kali menapakkan kaki di kampusnya. Melamar pekerjaan seperti kebanyakan fresh graduate adalah pilihan yang ia anggap paling realistis. Maka ia pun melamar sana-sini, yang sayangnya dengan setengah hati, karena sebenarnya ia tidak begitu suka bekerja kantoran. Hasilnya pun sudah jelas terlihat, ia tidak pernah dipanggil untuk interview pekerjaan.

Namun suatu hari, ia melihat iklan di salah satu stasiun televisi yang menyasar anak muda, sehingga ia terlihat berbeda dengan stasiun televisi lain. Begitu kentara bagaimana stasiun televisi tersebut lebih kreatif, anti mainstream, dan berani menyuguhkan sesuatu yang tidak hanya sekedar mengikuti keinginan pasar. Stasiun televisi tersebut sedang mencari rekrutan baru untuk menjadi karyawannya. Terlebih lagi, beberapa posisi tidak mempedulikan apa gelar sarjanamu. Maka dengan semangat meluap-luap ia memutuskan, tujuan hidupnya adalah bergabung dengan televisi itu, dan hanya itu satu-satunya yang ia inginkan.

***

Setelah lolos tahap administrasi via online, terbanglah ia ke Jakarta untuk menjalani tes tahap pertama. Ia tahu ia akan menghadapi puluhan ribu pesaing -begitu yang tertera di berita- dalam memperebutkan posisi di stasiun televisi tersebut. Justru itu yang membuatnya terpacu, karena pada dasarnya ia adalah orang yang sangat kompetitif dan ambisius. Ia ingin selalu menang dengan kemampuannya sendiri, ia tidak suka dengan bantuan orang lagi apalagi sampai mengemisnya. Sayangnya realitas dunia perkuliahan menyurutkan sifatnya tersebut.

Tes tahap pertama berlangsung di Sentul, Bogor, di sebuah gedung eksebisi yang bisa menampung lautan manusia. Membutuhkan waktu berjam-jam, pagi hingga siang hanya untuk sekedar antri masuk ke dalam gedung. Baru kali ini ia terjebak dalam keramaian seperti itu, karena biasanya ia menghindar dari hal tersebut. Baginya, kenyamanan adalah kesendirian.

Setelah berhasil memasuki gedung dan mendapatkan duduk, maka dimulailah rangkaian acara tersebut. Diawali dengan sambutan dari CEO, ditambah dengan beberapa artis yang memiliki acara di stasiun televisi tersebut, bertambahlah semangatnya untuk bergabung dengan tim yang ia anggap keren ini. Lihat saja seragamnya, terlihat sangat kece. Belum lagi tingginya frekuensi untuk bertatap muka dengan artis-artis tersebut. Dengan banyaknya motivasi, ia kerahkan seluruh kemampuannya dalam mengerjakan soal tes tahap pertama.

Butuh tiga hari untuk mengetahui hasilnya, dan ia lolos untuk lanjut ke tes tahap kedua. Bertambahlah kepercayaan dirinya karena dari sekitar 50 ribu peserta, hanya tersisa sekitar 2 ribu peserta. Setidaknya, ia sudah mengalahkan 48 ribu peserta lainnya. Maka ia berangkat dengan perasaan berbunga-bunga menuju tempat tes tahap kedua di daerah Semanggi menggunakan ojek online.

Sama seperti tes sebelumnya, ia mengerjakan tesnya dengan semangat menggebu-gebu, dengan optimisme yang begitu besarnya. Tidak lupa ia kumpulkan curriculum vitae yang telah ia siapkan dengan matang sebelumnya, karena setelah tes berakhir peserta diminta untuk mengumpulkannya.

Ia kembali ke tempat dimana ia bermalam, dan menunggu hasil pengumumannya yang akan keluar tiga hari lagi.

***

Hari itu telah tiba, dan ia tersenyum dengan puas. Ia lolos tes tahap kedua dan lolos ke tahap terakhir, tahap interview. Interview akan dilakukan di daerah Kuningan, tepat di sebelah calon kantornya berlokasi. Ia memiliki dua hari untuk mempersiapkan diri, maka ia manfaatkan betul waktunya untuk berlatih, baik latihan berbicara sendiri maupun membaca tips wawancara. Bisa dimaklumi, karena ini pertama kali ia akan melakukan interview pekerjaan.

Ketika waktu wawancara tiba, ia sudah bersiap mulai pagi. Dibacanya berulang-berulang berbagai tips. Dilatihnya jawaban-jawaban yang ia anggap sebagai jawaban terbaik untuk pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya akan keluar. Semua ia lakukan sendirian karena ia merasa bisa melakukannya sendiri.

Dengan ojek online, ia tiba di lokasi tes. Sebelum memasuki lokasi, ia memandang sebentar gedung kantor stasiun televisi tersebut. Ia tatap lama-lama, berimajinasi bagaimana nantinya ketika ia sudah bekerja di gedung tersebut dengan seragam kece yang telah ia idamkan. Bahkan ia mulai bertanya ke tukang ojek, dimana ada tempat kos di area ini. Takut kehabisan waktu, ia segera masuk ke dalam gedung dimana tes tahap terakhir akan dilaksanakan.

Ia telah menyisihkan setidaknya 1.200 orang, karena hanya ada 800 orang yang lolos ke tahap ini. Nantinya dari tahap ini akan diambil 300 orang untuk menjadi karyawan stasiun televisi tersebut. Para orang terpilih ini akan menerima wajib militer selama sebulan terlebih dahulu sebelum bekerja sebagai kru. Sebenarnya ini membuatnya agak gentar, karena ia benci dengan segala hal yang berbau kemiliteran. Akan tetapi, keinginannya untuk bergabung lebih besar dari ketakutan tersebut.

Sekitar sepuluh menit setelah ia duduk, nomor antriannya telah disebutkan untuk maju ke salah satu meja interviewer. Dengan menarik nafas panjang dan sedikit melompat-lompat untuk menghilangkan ketegangan, ia melangkah dengan yakin ke meja sang interviewer. Doanya agar interviewer laki-laki terkabul, karena ia khawatir apabila interviewer-nya wanita, ia akan merasa grogi dan membuyarkan segala persiapan di pikirannya.

“Selamat siang, saya akan menjadi pewawancara Anda.” sapa laki-laki tersebut.

“Selamat siang.” jawabnya dengan memberikan senyuman terbaiknya.

“Tolong perkenalkan diri Anda.”

Ia telah menduga pertanyaan ini pasti muncul, sehingga ia hanya perlu mengulang jawaban yang telah ia persiapkan sebelumnya. Jawabannya dikemukakan dengan tenang, namun tidak mengurangi kepadatan jawabannya. Sang pewawancara hanya mengangguk-angguk kecil. Selanjutnya ia menanyakan tentang dunia perkuliahan yang telah dilakukan selama ini.

Meskipun dalam hati kecilnya ia tidak menyukai pertanyaan ini karena ia merasa tidak banyak melakukan sesuatu, ia mencoba untuk menjawabnya dengan sejujur-jujurnya, apa-apa yang sudah dilakukan selama kuliah dan apa yang sudah dipelajari disana. Sama seperti sebelumnya, pertanyaan ini sudah ia duga akan muncul.

“Siapa tokoh favorit kamu?”

Ia jelaskan sosok yang menginspirasinya selama ini, seorang yang berhasil merevolusi berbagai macam industri mulai dari komputer, musik hingga ponsel. Tidak lupa ia sebutkan salah satu tokoh bangsa agar dicap nasionalis.

“Mengapa kamu memilih di stasiun televisi ini?”

Ia jelaskan bahwa banyak hal yang berbeda dengan stasiun televisi ini jika dibandingkan dengan stasiun televisi lain. Ia tambahkan bahwa bekerja disini akan menambah pengalaman dan pengetahuannya. Ia merasa cocok bekerja di dunia pertelevisian karena ia merasa kreatif dan berpengetahuan luas. Ditambahkannya pula bahwa ia hafal dengan semua acara yang ada di stasiun televisi ini.

“Baik, demikian wawancaranya kali ini, terima kasih atas kedatangannya.”

“Sebentar mas, kemarin waktu tes tahap kedua kami diberitahu bahwa kami harus menunjukkan bakat yang kami miliki.”

“Waduh yang antri masih banyak mas.”jawab sang pewawancara sambil melirik ke antrian peserta.

“Saya cuma mau mengumpulkan beberapa tulisan yang pernah saya buat. Kebetulan saya pernah mengulas acara dari stasiun televisi ini.”

“Ya sudah dikumpulkan disini saja, terima kasih ya.”

Maka dengan perasaan tidak tentu, ia keluar dari tempat wawancara. Ia merasa semua jawabannya memuaskan, dan ia sama sekali tidak merasa tegang ataupun terbata ketika menjawab. Namun respon dingin dari pewawancara membuatnya khawatir. Ia harap, itu bukan pertanda buruk.

***

Malam setelah wawancara ia memutuskan untuk pulang kembali ke tempat asalnya karena ada suatu urusan yang harus diselesaikan. Toh hasil wawancara juga masih tiga hari lagi, nanti ia bisa terbang kembali ke Jakarta.

Sayangnya, pengumuman ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. Makin berdebarlah ia menanti hasilnya, dalam ketidakpastian pula. Hampir setiap hari ia membuka akunnya di situs resmi stasiun televisi tersebut, di email, bahkan di Instagram. Selama empat hari, tidak pernah ada kabar dari hasil wawancara tersebut.

Hari kelima, ia melihat komentar-komentar Instagram stasiun televisi tersebut. Salah satu komentarnya adalah:

-Hasil tes sudah keluar teman-teman-

Maka ia segera mengecek akunnya di website. Nihil. Ia membuka emailnya, hasilnya sama, nihil. Setiap 5 menit ia refresh browsernya, berharap tampilan lamannya berubah dan memunculkan tulisan “SELAMAT, ANDA DITERIMA UNTUK BERGABUNG DENGAN KAMI”. Tiga jam ia lakukan hal tersebut berulang-ulang, tidak ada yang berubah hingga ia sadar sesuatu. Ia gagal.

***

Sudah seminggu lamanya ia meratapi kegagalannya. Terlalu tinggi ia menggantung asa. Ia menghormati bung Karno, tapi ia tak dapat memahami kalimat mutiara dari beliau.

“Gantunglah mimpimu setinggi langit, ketika kau jatuh maka kau akan jatuh diatara bintang-bintang”

Ia tidak dapat melihat dimana bintang-bintang itu. Bahkan kalaupun dapat, apa manfaatnya? Apa yang ia dapatkan sekarang selain kehilangan tujuan hidup?

Tampaknya ia harus mengambil rencana yang selama ini dihindari untuk lepas dari kesedihan ini.

Ia akan minta untuk bekerja di perusahaan orangtuanya.

***

Dengan niat ‘sementara’ dan tujuan ‘membantu’, maka mulailah petualangan barunya. Kebetulan di tempat ayahnya bekerja, terdapat tim konsultan properti yang membutuhkan tenaga tambahan.

Ia dikenalkan kepada pimpinan tim konsultan properti, pak Yudi namanya. Dengan beliaulah ia akan berkoordinasi dan menerima berbagai macam jobdesk. Ia langsung menemukan kecocokan, karena mereka berdua sama-sama memiliki hobi membaca, terutama buku yang berkategori self improvement. Selain itu terdapat pula mas Edi, bagian desain. Usianya yang hanya terpaut 4 tahun membuatnya nyaman untuk berdiskusi.

Pekerjaan pertamanya adalah membuat konten untuk website yang akan dibangun untuk perusahaan. Karena hobinya menulis, maka ia senang saja melakukan hal tersebut.

***

Setelah itu, ia mulai mendapatkan berbagai macam jenis tugas yang variatif, mulai dari mempersiapkan even, menyusun teks iklan radio, menghubungi pihak advertising, mencari klien untuk kerjasama, hingga yang menjadi rutinitasnya: menjadi admin sosial media. Disini ia merasa apa yang ia pelajari di bangku perkuliahan dan passion-nya terhubung meskipun dalam skala kecil. Akan tetapi, masih ada ganjalan di hatinya, ia belum berdiri dengan kaki sendiri.

Di suatu senja ketika kami beranjak keluar kantor, tiba-tiba saja kami bertiga terlibat suatu diskusi tentang hidup. Tentang masa depan.

“Apa tujuan hidup kamu?”

Ia hanya terdiam. Semenjak ia gagal lolos dalam tes tersebut, ia belum menentukan tujuan hidupnya yang lain.

“Ingin keluar negeri pak.”

Hanya itu yang terlontar dari bibirnya. Entah mengapa justru jawaban kekanak-kanakan yang keluar.

“Apa tujuannya?”

Lagi-lagi ia terdiam. Memang, sejak kecil ia ingin sekali keluar negeri. Hobinya saja membaca atlas. Dewasa sedikit, ia membeli buku ‘Bagaimana Hidup dan Tinggal di Kanada’. Namun sejujurnya, ia tidak tahu mengapa ia harus keluar negeri.

“Ya asal keluar negeri saja pak.”

“Kenapa hanya asal keluar negeri saja? Kenapa tidak ada tujuan spesifik yang memiliki value? Kenapa tidak keluar negeri dengan tujuan, misal, melanjutkan studi S2?”

Termenung ia mendengar penuturan pak Yudi. Mas Edi pun memerhatikan pembicaraan mereka dengan seksama. Ia langsung teringat, awal kuliah, ia memasang begitu banyak gambar universitas di luar negeri, mulai Oxford, Cambridge, Harvard, dan banyak lainnya. Semua ditempelnya di depan meja belajarnya agar dirinya termotivasi untuk belajar dengan tekun. Sayangnya, lagi-lagi realitas perkuliahan membuat semuanya pudar.

“Kenapa tidak berusaha mengambil beasiswa keluar?”

Boro-boro beasiswa, lulus saja dengan susah payah, begitu yang ada dalam benaknya. Namun karena teringat sopan santun, ia hanya menjawab dengan:

“Karena saya merasa banyak yang lebih layak dari saya.”

“Apa yang membuat kamu merasa tidak layak?”

Ia menjawab dengan berbagai macam alasan. Pak Yudi menunggunya dengan sabar hingga ia selesai.

“Kamu bisa lihat, yang membatasi dirimu adalah dirimu sendiri. Selama kamu masih memiliki mental block yang membatasi, maka kamu akan sulit untuk bergerak. Jika ada pikiran-pikiran yang membatasi seperti itu, lakukanlah counter believe, berikanlah serangan balik berupa pikiran positif, keyakinan positif.”

Omongan dari pak Yudi senja itu pun terus terngiang di kepalanya hingga ia beranjak tidur.

***

Iseng-iseng, ia bertanya kepada teman-teman kuliahnya, siapa saja yang mau melanjutkan studi ke S2. Teman-temannya sudah ada yang lanjut studi di dalam negeri dengan biaya sendiri. Ada yang bergulat dengan skripsinya. Ada yang masih baru mencari dosen pembimbing.

Namun ada satu temannya, Aji, yang membalas pesannya secara personal.

-Aku mau cari beasiswa keluar, ayo ikut-

Seketika, ia merasa titik-titik yang telah ia alami selama beberapa bulan terakhir mulai tersambung. Kabar ini ia beritahukan kepada pak Yudi.

“Ambil.”

Hanya itu yang terucap dari pak Yudi. Ia merasa bahwa ia mulai menemukan tujuan hidupnya yang baru, meskipun belum seratus persen yakin.

***

Ia diberitahu beberapa persyaratan yang harus dipersiapkan untuk mengambil beasiswa. Salah satunya adalah mengambil tes IELTS. Maka ia memutuskan untuk mengurangi waktunya di kantor karena ia butuh mengambil kursus persiapan IELTS.

Ternyata, IELTS yang merupakan akronim dari International English Languange Test System sangat berbeda dari TOEFL yang pernah ia ambil. Selain memiliki lebih banyak bagian -selain reading dan listening, terdapat tes writing dan listening-, tes tersebut juga memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Setelah menyelesaikan 10 pertemuan, ia dan temannya, Aji, merasa kurang puas dan memutuskan untuk mencari tempat les lain yang lebih intens. Dan pilihan itu jatuh di kampung Inggris, Pare.

***

Setelah berpamitan dengan pak Yudi, mas Edi dan beberapa karyawan lainnya, ia pun berangkat dengan penuh harapan. Hanya saja, tempat yang ia inginkan untuk belajar IELTS baru dibuka pada awal September, sedang waktu ia berpamitan masih akhir Agustus. Akhirnya ia memutuskan untuk mengambil dua minggu untuk kursus bahasa Inggris secara general, toh ia juga belum mahir grammar.

Dua minggu awal di Pare bisa dianggap sebagai pemanasan yang baik. Selain mendapatkan ilmu, kesempatan itu juga digunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dengan beragamnya manusia yang datang ke tempat ini membuatnya mendapat macam pengalaman dari berbagai daerah, mulai ujung barat hingga timur. Baru beberapa hari disini, ucapan mas Edi tentang “hati-hati kerasan disana” sudah terbukti.

Lagipula, ini merupakan pengalaman pertamanya merantau dan merasakan kehidupan anak kos. Bagaimana tidak, mulai TK, SD, SMP hingga SMA-nya berada pada satu kelurahan. Lalu ketika beranjak ke universitas, ia menumpang di rumah neneknya, hitung-hitung menemani beliau yang tinggal sendirian. Karena itu ia sangat menikmati pengalaman ini, meskipun satu kamar digunakan untuk berdelapan orang.

Rutinitas yang dimulai pukul 5 pagi hingga usai pukul 8 malam membuat ia dapat menjaga ritme kehidupan yang baik. Meskipun tidak ingin menjadi pekerja kantoran, sesungguhnya ia menyukai rutinitas teratur. Apabila ia memiliki waktu luang, ia manfaatkan untuk melakukan hobi terbesarnya, membaca.

Salah satu buku yang ia baca adalah buku Strawberry Generation karangan seorang guru besar universitas negeri, Rhenald Khasali. Isi buku tersebut adalah tentang gambaran generasi sekarang yang diibaratkan sebagai strawberi. Begitu menarik, namun rapuh. Begitu kreatif, namun mudah menyerah. Ia merasa ditampar. Kegagalannya untuk bergabung dengan stasiun televisi favoritnya sempat membuat ia merasa jatuh, padahal sesungguhnya itu bukan apa-apa. Ia terlalu mudah menyerah.

Selain itu, buku tersebut juga menuliskan tentang rupa pendidikan di Indonesia sembari sekali waktu membandingkannya dengan pendidikan di luar negeri seperti Selandia Baru. Ia pun membandingkan dengan pengalamannya sendiri ketika mengajari anak-anak Karang Taruna di kampungnya. Apa yang terucap dari mereka? Banyak keluhan tentang banyaknya jam pelajaran membuat mereka tidak bisa melakukan aktivitas lain selain belajar. Selain itu, sebagian dari mereka pun sangat minim kreativitas, tidak memiliki tanggung jawab, dan kurang berinisiatif. Tulis Rhenald Khasali, salah satu penyebabnya adalah sistem kurikulum kita.

Ia pun termenung oleh buku tersebut dan memang buku tersebut banyak benarnya karena ia telah membuktikannya sendiri. Ia kembali mengevaluasi tujuan hidupnya. Apakah sekedar lulus sebagai Master di luar negeri sudah cukup sebagai tujuan akhir? Atau apakah dibutuhkan tujuan yang lebih besar dari itu, tujuan yang bermanfaat bagi negaranya?

Ia teringat, ia dulu pernah memiliki keinginan untuk menjadi pengajar seperti dosen. Salah satu alasannya adalah ketika mengajar anak-anak Karang Taruna, ia merasakan kesenangan ketika dapat mentrasfer ilmunya dan yang menerima transfer tersebut dapat memahaminya. Selain itu, ilmu yang bermanfaat termasuk amal jariyah, amal yang tak akan putus ketika kita meninggal. Jangan-jangan, inilah passion yang tidak disadarinya. Jangan-jangan, inilah tujuan hidup yang lebih besar untuk diraih.

***

Dua minggu berlalu dengan cepat, ia mengucapkan perpisahan kepada teman-teman satu camp-nya, terutama yang satu kamar dengannya. Tak lupa ia mengucapkan selamat tinggal kepada sepeda pixie yang selama ini menemaninya berkeliling, selamat tinggal kepada warung Ojo Dumeh yang harganya sangat bersahabat dengan kantong, dan selamat tinggal kepada para tutor yang mengawasi disana. Ia akan segera memulai persiapan IELTS-nya.

Ketika sampai di tempat tujuan, ia langsung melakukan placement test untuk menentukan apakah ia layak untuk masuk ke dalam IELTS Camp. Karena sebelumnya telah kursus, ia tidak kaget sewaktu membaca soal. Sebaik mungkin ia coba untuk menyelesaikan soal-soal yang berupa reading task sebanyak 13 soal dan writing task sebanyak 250 kata. Dalam hati kecilnya, sebenarnya ia ingin mengikuti kelas persiapan dulu sebelum masuk ke IELTS Camp. Namun ia akan memutuskannya setelah hasil ujian ini keluar.

Sekitar 15 menit setelah mengerjakan tes, ia dipanggil ke dalam untuk wawancara. Hasil tesnya, reading task benar 10 dari 13 dan writing task hanya kurang memahami struktur penulisan akademis. Ia dinyatakan lulus untuk masuk ke dalam IELTS Camp oleh Mozel -panggilan miss atau mrs. disana- Yuli. Begitu pula kawannya Aji. Sore itu juga, ia pindah ke camp yang dinamakan kondo.

Setelah memindahkan barang-barangnya, ia berkenal dengan dengan rekan sebelah kamarnya. Yang tinggi besar bernama Udin dari Bekasi dan yang gemuk lucu bernama Putra dari Jakarta. Mereka berdua lulusan universitas negeri terkemuka yang berbeda. Selain itu, si Udin memiliki gelar yang sama dengan kami. Malamnya setelah makan malam, kami berdiskusi banyak dalam rangka mengakrabkan diri. Ia pun mengetahui, si Udin sama-sama ingin menjadi dosen seperti dirinya. Tekadnya untuk menjadi seorang dosen pun semakin mantap.

Lalu keesokan harinya, semakin banyak yang masuk ke dalam kondo. Ada yang dari Surabaya, Aceh, Bangka, Makasar, Bengkulu, dan lain sebagainya. Jurusannya pun banyak yang horor, mulai dari Fisika Nuklir, Teknik Kimia, Geodesi, dan banyak lagi lainnya. Rata-rata, semua lulusan universitas negeri terkemuka. Ini membuatnya sedikit membuatnya merasa tertekan, namun ia ingat nasihat pak Yudi, bahwa yang membatasi diri kita adalah diri kita sendiri, pikiran kita sendiri. Maka ia buang jauh-jauh perasaan tersebut.

Hari pertama telah tiba, kami semua memasuki kelas. Seperti tempat lainnya, hari pertama digunakan untuk perkenalan diri. Majulah mereka satu per satu, memberitahu dirinya dalam bahasa Inggris kepada teman-teman tentang nama, asal, jurusan hingga tujuan universitas. Semua terdengar sudah memiliki rencana yang begitu matang, mengapa mereka memilih untuk kuliah di luar dan mengapa kampus itu. Nampanya mereka semua benar-benar sudah mempersiapkan diri dengan baik.

Ketika gilirannya tiba, ia pun menyebutkan destinasinya, kuliah di Australia dengan jurusan yang berbeda dengan jurusan yang telah ia anggap salah ambil, namun masih memiliki keterkaitan dengan jurusan tersebut. Ia ingin menjadi dosen, namun bukan dosen jurusan-gelar-Sarjananya, karena itu ia mengambil ranah lain yang masih memiliki kesinambungan dengan gelar yang disandangnya.

Maka dimulailah rutinitas padatnya, lebih padat dari dua minggu awalnya di Pare. Untungnya ia dapat menikmati detik demi detiknya, mempelajari bagaimana cara menakhlukkan IELTS dan mendapatkan band score yang diinginkan.

Ketika kami memiliki waktu kosong, chief kami, Permadi, memiliki inisiatif untuk mengumpulkan kami semua dalam rangka berbagi kisah yang kami miliki. Mereka semua memiliki kisah-kisah yang hebat. Ada penulis yang telah menerbitkan bukunya. Ada yang telah keliling dunia namun masih sempat untuk membangun sekolah alam di tanah Celebes dan berencana membangun taman baca. Ada yang memutuskan untuk menjadi seorang dokter gigi yang mengabdi di daerah terpencil. Dan masih banyak lagi kisah-kisah hebat lainnya.

Bahkan ia belajar bagaimana menghadapi kegagalan berdasarkan cerita dari Udin, kawan sebelah kamarnya. Ia bercerita bagaimana ia telah gagal dua kali dalam tes IELTS, tentang bagaimana ia sudah berada di tahap akhir seleksi untuk mendapatkan beasiswa ke Australia dan gagal. Ia memang sempat down, namun ia selalu dapat keluar dari jurang keputusasaan dan bangkit untuk mencobanya kembali.

Semua cerita ini semakin membuatnya merasa kecil, merasa bagaikan quark dalam susunan materi alam. Ia merasa tersindir, apa saja yang sudah ia lakukan selama ini? Padahal semua teman-teman ini berusia kurang lebih sama dengan dirinya, namun mengapa pengalaman yang mereka alami jauh lebih luas dari dirinya?

Jika saja ia tidak pernah dengan berdiskusi dengan pak Yudi ditambah dengan membaca buku rekomendasinya –Awaken the Giant Within karangan Anthony Robbins-, ia pasti sudah merasa malu dan memilih untuk pulang kampung. Untunglah, ia dapat menguasai diri dan tetap optimis memandang masa depannya di tempat ini, di kelilingi oleh orang-orang hebat ini. Ia merasa, lingkungan yang seperti inilah yang ia butuhkan, lingkungan yang dapat membantunya untuk menjaga motivasi tetap berada di puncak.

***

Sebulan berlalu dengan cepat, hampir tak terasa. Satu per satu kawan seperjuangan kembali ke tempat asalnya, melanjutkan mimpi mereka. Ada beberapa yang memutuskan untuk tetap tinggal di Pare, namun mayoritas memilih untuk pulang kampung. Kesedihan akan perpisahan merasuk ke dalam jiwa, seolah menolak untuk ditinggalkan. Meskipun baru sebulan, ia merasa telah mengenal mereka begitu lama, ia merasa mereka adalah bagian dari anggota keluarganya. Ia memutuskan untuk rehat dulu sejenak, pulang ke tempat asal selama seminggu, lalu ia akan kembali ke tempat ini karena ia percaya, inilah tempat terbaik untuk belajar. Inilah tempat terbaik untuk menghubungkan titik-titik kehidupannya.

***

Karena ia memutuskan untuk kembali itulah, aku memiliki kesempatan untuk mendengarkan kisahnya, lalu mendokumentasikannya melalui tulisan ini. Sungguh, itulah bukti bahwa Tuhan selalu punya rencana. Keping-keping kejadian yang pada mulanya terlihat berantakan dan tidak memiliki hubungan, ternyata dapat menyatu bagaikan kepingan puzzle yang tercecer.

Kegagalannya untuk menjadi kru stasiun televisi ternyata membawa hikmah tersendiri. Keputusannya untuk melawan idealismenya ternyata membawa berkah, ia bertemu dengan orang yang dapat memandunya keluar dari gerbang ketidakpastian. Ia temukan kawan yang memiliki satu visi dengannya. Ketidakpuasannya dengan tempat kursus dekat rumahnya membuatnya memutuskan untuk merantau untuk pertama kalinya. Di tempat rantau ia menemukan inspirasi tentang bagaimana menjadikan pendidikan Indonesia lebih baik dari sekarang. Dengan pilihan hidup menjadi dosen, ia berharap bisa menemukan jawabannya.

Di IELTS Camp, ia bertemu dengan banyak kawan-kawan yang luar biasa, membuat ia semakin terpacu bukan secara kompetitif, melainkan secara kolaboratif. Disana mereka saling bahu-membahu, saling mengisi kekurangan masing-masing dan memberikan pengetahuan yang mereka miliki. Kalaupun ada sifat ingin mengalahkan, itu semata-mata digunakan untuk memacu dirinya sendiri untuk menjadi lebih baik. Sama sekali tidak ada keinginan untuk saling menjatuhkan. Meskipun notabene mereka bersaing untuk mendapatkan beasiswa, mereka percaya bahwa semua sudah memiliki rezeki masing-masing.

Meskipun diantara kami bertiga, sahabat yang sudah 10 tahun bersama, ia satu-satunya yang belum memiliki pekerjaan, aku kagum dengan semangatnya untuk meraih apa yang ia anggap dulu sebagai kemustahilan. Ia berani menggantungkan mimpi setinggi itu setelah mimpi-yang-tidak-seberapa-tingginya mengalami kegagalan dan benar-benar membuatnya frustrasi. Mungkin suatu saat aku dapat seperti dirinya, dan aku yakin bisa, untuk menghubungkan berbagai titik-titik kehidupan yang telah aku alami menjadi sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku, menjadi tujuan yang memanduku untuk mengemudikan perahu kehidupanku.

 

“If you really wanna do something, you’ll find a way. If you don’t, you’ll find an excuse”

Anonymus

-End-

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Cerpen

Ingin Hilang Ingatan

Published

on

By

Hilang ingatan. Aku ingin hilang ingatan. Tidak perlu semuanya, cukup tiga hingga empat tahun terakhir. Aku ingin melupakan semua kenangan yang terjadi pada rentang waktu itu. Aku ingin semuanya seolah-olah tidak pernah terjadi. Bisakah keinginanku ini dikabulkan oleh Tuhan?

***

Aku lupa tanggal pastinya, tapi kejadian itu terjadi sekitar tiga setengah tahun lalu tanpa sengaja. Pada hari itu, seorang tetangga baru datang menempati rumah kosong yang berlokasi tepat di depan rumahku.

Dari desas-desus yang aku dengar dari orangtuaku, penghuni rumah tersebut merupakan keluarga kecil yang terdiri dari papa, mama, dan seorang anak perempuan yang sepertinya seusiaku.

Kata mama, ia sudah bertemu dengan keluarga tersebut. Mereka keluarga yang ramah dan anaknya cantik sekali. Pertemuan ini terjadi di kala aku masih berada di kampus, sehingga aku belum berkesempatan untuk bertatap muka dengan mereka.

Aku pun penasaran dengan keluarga ini, sehingga sesekali mengintip tetangga depan melalui jendela ruang tamu. Aku telah melihat sekilas pasangan suami istri tersebut yang nampaknya sangat bahagia. Namun, aku belum pernah melihat putri mereka sekalipun.

***

“Mas Bayu, kan?”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Terlihat seorang perempuan berambut sebahu tersenyum dengan lesung pipi menghiasi kedua pipinya. Aku melihatnya keheranan, bagaimana perempuan ini bisa tahu namaku?

“Namaku Cleo, tetangga baru yang tinggal di depan rumah mas. Boleh aku duduk di sini?” tanyanya sembari menarik kursi di hadapanku meskipun belum terucap kata iya dari bibirku.

Kejadian ini berlangsung di kafe dekat rumah, tempat favoritku untuk mengerjakan tugas kuliah yang selalu menumpuk seolah tak ada habisnya. Selain karena kenal dengan pemilik tempat ini, aku juga terbiasa memanfaatkan Wi-Fi gratis yang ada di sini.

“Kamu kok tahu aku?” tanyaku padanya, tetap berusaha memasang pagar pembatas karena aku tak pernah merasa nyaman dengan orang asing.

“Aku pernah ke rumah mas buat kenalan sama orangtuanya mas. Di sana, aku lihat foto keluarga besar dan mamanya mas ngasih tahu aku nama mas. Pas ke sini aku lihat ada orang yang mirip dengan foto itu, jadi sambil mastiin aku sekalian mau kenalan sama mas. Apalagi, mas kan gampang dikenalin dengan rambut gondrongnya itu.”

Jawabannya logis, sehingga aku tidak meragukan kejadian tersebut. Kuteguk segelas kopi hitam yang ada di sebelah laptopku dan mengambil sebatang rokok dari saku kemejaku.

“Keberatan kalau aku merokok?”

“Silakan mas, asal jangan disemburkan ke mukaku, ya!”

Perempuan ini nampaknya kerap mengeluarkan hawa dan energi positif. Jawabannya yang mempersilakan justru membuatku mengurungkan niat dan kembali melirik laptop. Tugas telah menanti di sana untuk diselesaikan, tapi obyek di depanku jauh lebih menarik. Akhirnya kami pun berdiskusi banyak hal, mulai dari yang remeh-temeh hingga permasalahan serius.

Ketika kami akan pulang ke rumah masing-masing, pagar pembatas yang kupasang telah terlepas dengan sempurna.

***

Selain tetangga depan rumah, ternyata kami juga melanjutkan studi di kampus yang sama walaupun berbeda fakultas. Aku mengambil jurusan Hubungan Internasional, sedangkan ia mengambil jurusan Akuntansi di Fakultas Ilmu Administrasi. Ia satu angkatan di bawahku.

Rumah kami yang berdekatan membuat aku sering menawarkan tumpangan kepadanya, baik ketika berangkat maupun pulang. Awalnya ia merasa tidak enak karena takut merepotkan, walau pada akhirnya ia selalu menerima tawaranku. Kami pun menjadi dekat hingga diisukan berpacaran oleh para tetangga yang selalu nyinyir.

Sebagai laki-laki normal, tentu saja aku tertarik dengan Cleo. Ia cantik, ramah, terbuka, open-minded, berwawasan luas, dan memiliki banyak kesamaan denganku. Kami sama-sama suka baca buku, terutama karya-karya penulis seperti George Orwell dan Ernest Hemingway. Kami juga tidak terlalu suka menonton film karena merasa tidak ingin imajinasi kami diatur oleh sutradara.

Sekitar tiga tahun kami menjalin hubungan yang dekat seperti ini tanpa status apapun. Aku, yang belum pernah jatuh cinta seumur hidup, merasakan dorongan untuk mengungkapkan perasaan hingga ke taraf yang tak tertahankan. Aku pun mencoba untuk masuk ke topik ini ketika kami sedang berada di kafe dekat rumah untuk mengerjakan tugas masing-masing.

“Kamu percaya cinta?” tanyaku secara tiba-tiba, membuatnya tersedak karena aku bertanya ketika ia sedang menenggak minumannya.

“Apa sih mas kok tiba-tiba banget, aku kan jadi kaget.”

“Maaf, aku cuma penasaran.”

“Enggak apa-apa kok, aku cuma kaget aja. Cinta, ya? Hmmm, percaya kok. Cinta dari orangtua, dari sahabat, banyak cinta yang udah aku dapatkan hingga sekarang.”

“Termasuk dari tetangga ya,” kataku memberi sedikit kode.

“Hahaha, bisa aja mas.”

“Aku sayang sama kamu Cleo.”

Cleo terdiam beberapa saat, sebelum menjawab pernyataanku.

“Aku juga sayang sama mas . . . sebagai kakak.”

***

Setelah kejadian di kafe itu, kami berusaha menjalin hubungan seperti biasa. Masalahnya, aku jadi kesusahan mengontrol diriku. Aku menjadi perhatian berlebihan, posesif, sering mempertengkarkan hal sepele, cemburu buta, dan lain sebagainya.

Hal ini membuat Cleo secara perlahan mulai menjauhi diriku. Kami sudah jarang berangkat bersama karena ia menolak untuk pergi denganku. Kamu juga jarang menghabiskan waktu bersama di kafe seperti biasa. Pesanku pun mulai sering diabaikan olehnya.

Mungkin karena belum pernah jatuh cinta, aku menjadi terobsesi berlebihan kepadanya. Merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan terkadang membuat seseorang menjadi tolol tak terkira.

Aku menjadi bukti nyatanya. Aku jadi merasa tidak bisa hidup tanpanya, merasa hampa, merasa Cleo adalah satu-satunya perempuan yang cocok untukku. Kesalahanku adalah karena aku terlalu mencintainya, terlalu sayang kepadanya, terlalu peduli kepadanya.

Ingin mengakhiri semua penderitaan ini, aku memutuskan untuk mengajak bicara Cleo untuk yang terakhir kalinya. Aku mengajaknya untuk bertemu di sebuah taman dekat kompleks perumahan yang terkenal sepi. Ia pun menyanggupi permintaan tersebut.

“Kamu tahu, aku merasa hubungan kita akhir-akhir ini memburuk,” kataku membuka percakapan. Cleo hanya menganggukkan kepalanya tanpa melirik sedikitpun ke arahku.

“Aku tahu ini salahku. Seharusnya aku tidak mengungkapkan perasaanku waktu itu. Dengan demikian, hubungan kita akan baik-baik saja seperti dulu, seperti tiga tahun terakhir ini.”

Cleo masih tidak memberikan respon apa-apa.

“Kamu tahu, tiga tahun terakhir ini bisa dibilang masa-masa terindah dalam hidupku. Aku membuat banyak kenangan sama kamu. Aku membuat banyak cerita indah sama kamu. Seharusnya aku sudah puas dengan itu, tapi aku malah meminta lebih.”

Aku menatap Cleo yang pandangan matanya entah mengarah ke mana.

“Aku ingin diberikan kesempatan kedua, aku ingin memperbaiki semuanya. Kalau kamu sayang aku sebagai kakak, aku akan berusaha menjadi kakak yang baik buat kamu.”

“Maaf mas, tapi aku enggak bisa.”

Jawaban tersebut sungguh di luar dugaan dan membuatku tersentak. Cleo, perempuan yang selama ini kukenal karena kebaikannya yang luar biasa, bisa memberi penolakan yang sangat menusuk hati.

“Kenapa?”

“Aku udah punya pacar.”

Tanpa sadar, aku mengarahkan tanganku ke lehernya dan memberikan tekanan yang kuat. Benar kata orang, kemarahan bisa menambah kekuatan seseorang berkali-kali lipat. Tubuh Cleo yang meronta-ronta bisa kutahan dengan sedemikian rupa. Pada dasarnya, laki-laki memang ditakdirkan lebih kuat dari wanita kebanyakan, sehingga ia tak akan bisa melepaskan diri dariku.

Beberapa menit aku mencekik lehernya, tubuhnya menjadi lunglai. Tak ada lagi perlawanan darinya. Ia sudah mati, mati di tangan orang yang begitu mencintainya.

***

Hilang ingatan. Aku ingin hilang ingatan. Begitu yang terpikirkan di kepalaku setelah aku membunuh Cleo, satu-satunya perempuan di dunia ini yang begitu aku cintai. Aku terlalu mencintainya hingga aku telah membunuhnya. Aku harus membunuhnya agar ia hanya menjadi milikku seorang. Tidak boleh ada laki-laki lain yang boleh memilikinya.

Tapi aku tetap ingin hilang ingatan. Ingatan pernah bertemu dengan Cleo, kenangan yang pernah kubuat dengan Cleo, hingga fakta bahwa aku baru saja melakukan tindakan kriminal dengan membunuh seorang perempuan. Aku ingin semua itu hilang dari ingatanku dan kembali menjalani rutinitasku sebagai mahasiswa yang normal.

Ternyata Tuhan tidak mengabulkan keinginanku. Ingatan tersebut tetap tersimpan di kepalaku dan tak mau lepas. Aku masih terbayang-bayang wajah Cleo, mulai dari awal pertama kali bertemu dengan senyum dan lesung pipitnya, hingga wajah sesaknya ketika aku mencengkeram lehernya.

Aku tidak bisa menghilangkan ingatan tersebut. Ingatan tersebut kini justru menghantuiku dan membuatku takut. Cleo seolah tak rela ia mati sendirian. Ia ingin aku ikut bersamanya, menemaninya di alam baka.

Itulah mengapa sekarang aku berada di pinggir jembatan, ketika pihak kepolisian mulai mencari keberadaanku. Pasti mereka sudah menemukan mayat Cleo yang aku tinggalkan begitu saja di taman sepi itu.

Aku memandangi air sungai dangkal yang mengalir tenang di bawah sana. Aku melihat wajah Cleo memantul di permukaan sungai. Ia tersenyum kepadaku seolah menyambut kedatanganku. Senyum itu sama dengan yang ia berikan ketika kami bertemu pertama kali. Siapa yang menyangka, senyum itu pula yang aku lihat terakhir darinya.

Aku membalas senyum itu dan melangkahkan kaki ke arahnya. Aku datang Cleo.

 

 

Kebayoran Lama, 24 November 2019, terinspirasi setelah menamatkan anime Golden Time

Foto: Michael Heuser

Continue Reading

Cerpen

Seorang Wanita di Antara Kawan Pria dan Kekasihnya

Published

on

By

Seorang pria terhadap kawan wanitanya…

Dia tak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Katanya, cinta adalah sesuatu paling omong kosong di semesta ini. Tawa sinis selalu ia keluarkan ketika melihat pasangan sedang memadu kasih. Bahkan seandainya memungkinkan, mungkin ia akan meludah.

Dari berbagai cerita yang ia bertahukan kepadaku, tak pernah secara gamblang ia memberikan alasan mengapa tidak percaya cinta. Apakah mungkin karena ia tidak pernah merasakan cinta yang sebenarnya? Bisa jadi.

Pernah pada suatu malam kami berdiskusi secara sengit. Waktu itu, aku sedang membahas suatu adegan romantis dari sebuah film. Ketika aku menyatakan pendapatku mengenai adegan itu, ia justru menunjukkan ekspresi ingin muntah.

Boy, itu cuma film yang penuh dengan kemunafikan. Bisa-bisanya kamu baper dengan yang kayak gitu.” katanya sambil memegang pundakku, seolah aku adalah orang yang patut dikasihani. Dia memang sering memanggil aku dengan sebutan boy.

“Tapi film itu diangkat dari kisah nyata, dan aku yakin hal tersebut lumrah bagi orang yang sedang jatuh cinta.”

“Dari mana kamu tahu itu dari kisah nyata? Percaya sama aku, adegan itu pasti didramatisir. Hidup ini sudah penuh dengan drama boy, tak perlulah kau menambahinya dengan film-film picisan seperti itu.”

Aku tak menyangkalnya lagi karena tahu bagaimana keras kepalanya kawan wanitaku yang satu ini. Hingga muntah darah pun ia tak akan mengendurkan pendapatnya. Mungkin sifatnya yang satu ini juga membuat ia belum menemukan cintanya,

Suatu hari, saat kami berdua sedang duduk di sebuah taman setelah berolahraga, lagi-lagi aku mengusik pandangannya terhadap cinta. Benar-benar dibuat penasaran aku olehnya.

“Orang tuamu bertemu dan akhirnya menikah karena cinta bukan?” tanyaku padanya sambil mengusap keringat di dahi menggunakan handuk yang menggantung di leher.

“Huh, aku tidak percaya mereka menikah karena cinta. Pasti ada motif lain yang memaksa mereka untuk menikah.”

“Apa semua pasangan di seluruh dunia seperti itu?”

“Kalaupun ada, pasti hanya sekadar cinta-cintaan. Tidak ada yang namanya cinta sejati.”

“Jadi, kamu enggak akan nikah seumur hidup nih?”

“Kalau sendiri lebih enak, ngapain harus menjalani hubungan rumit dengan orang lain.”

Aku mengurungkan niatku untuk mendesaknya lebih jauh lagi. Raut mukanya menunjukkan ketidaksukaan terhadap topik yang aku angkat. Rahangnya mengeras seperti menahan amarah yang bergejolak di dalam hatinya.

Aku hanya ingin menolongnya dan menyadarkan bahwa cinta itu memiliki sisi yang membahagiakan. Aku buktinya. Semenjak bertemu dengan Chelsea dan menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, kami berdua merasa dunia jauh lebih cerah.

Bertemu tanpa sengaja ketika ada sebuah even pameran lukisan salah satu maestro dalam dunia seni lukis, kami langsung cocok satu sama lain. Walaupun aku menyukai karya Monet dan ia lebih menyukai goresan Andy Warhol, kami bisa menghargai perbedaan satu sama lain.

Aku tidak mengetahui kapan kawan wanitaku ini mulai memandang rendah cinta. Memang sudah lama ia sering berkata bahwa ia tidak peduli dengan yang namanya cinta, tapi akhir-akhir ini ia semakin menunjukkan kebencian terhadap anugerah dari Tuhan tersebut.

Chelsea tahu kedekatanku dengan kawan wanitaku ini, dan ia sama sekali tidak mempermasalahkan. Toh, aku kenal dengan kawanku terlebih dahulu sebelum bertemu Chelsea, jadi ia tidak ingin hubungan kami rusak hanya karena kehadirannya.

Aku selalu meminta ijin ke Chelsea apabila ingin bertemu dengan kawanku dan ia sama sekali tak keberatan karena percaya denganku. Aku benar-benar mencintai Chelsea karena kebaikannya, dan aku berharap kawan wanitaku akan menemui seorang pria sebaik Chelsea.

Aku ingin kawan wanitaku percaya dengan cinta, seperti aku mempercayainya…

 

Seorang wanita terhadap kekasih dan kawan wanitanya…

Namaku Chelsea, dan aku memiliki seorang kekasih yang sangat baik hatinya. Kami bertemu tanpa sengaja di sebuah acara pameran lukisan, ketika kami sama-sama sedang memandangi sebuah lukisan abstrak yang menggambarkan pertarungan antara dua ekor elang.

“Lukisan ini memang layak untuk dijadikan masterpiece.” ujarnya yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri, hanya saja aku tertarik untuk menyahutinya.

“Kenapa mas berpendapat seperti itu? Menurut saya lebih pantas lukisannya yang berjudul Kereta di Ufuk.”

Ia nampak terkejut gumamannya direspon oleh orang lain. Butuh beberapa detik agar ia bisa menjawab pertanyaanku. Kami berdiskusi ringan mengenai lukisan yang ada di hadapan kami, lantas memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan kami di sebuah kafe.

Kami langsung cocok satu sama lain. Sebelum berpisah, ia meminta nomor teleponku yang dengan senang hati kuberikan. Walaupun ia berkata bahwa tujuannya meminta nomor untuk berdiskusi tentang lukisan lagi, aku yakin ia punya maksud lain.

Setelah itu, semua mengalir begitu saja. Hingga suatu hari, ia menyatakan perasaannya dan aku menyambutnya dengan senang hati. Kami resmi menjadi sepasang kekasih.

Ia pernah bercerita bahwa dirinya memiliki kawan sejak kecil yang tak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Meskipun kami berstatus sebagai pasangan, aku tak pernah menyuruhnya menjauhi kawannya tersebut.

Bukannya karena aku tidak peduli dengan kekasihku. Aku menyadari bahwa aku hadir sebagai orang baru, dan aku tidak ingin merusak hubungan perkawanan yang sudah lama terjalin tersebut.

Suatu hari, aku dikenalkan oleh kawan wanitanya tersebut. Dilihat sekilas, ia terlihat jutek dan sering memasang wajah cemberut. Ia tak pernah ramah kepadaku meskipun aku sudah berusaha baik kepadanya.

Bisa jadi, ia merasa cemburu terhadap hubunganku dengan kawan prianya…

 

Seorang wanita terhadap kawan pria dan kekasihnya…

Dia yang terlalu percaya dengan cinta, terlihat begitu menjijikkan bagiku. Semenjak bertemu dengan wanita sok baik bernama Chelsea, kawan priaku itu seolah-olah hidup di alam lain yang tak memiliki kepahitan hidup.

Kawan priaku itu selalu berusaha memberiku pertanyaan-pertanyaan seputar cinta, dan kami akan berdebat panjang mengenai hal tersebut. Kami tidak akan menemukan kesepakatan apapun pada debat tersebut.

Bertahun-tahun aku hidup dalam zona nyaman kesendirianku dengan membawa teman-teman yang aku percaya ke dalam lingkaran, termasuk kawan priaku tersebut. Harus kuakui, dia adalah pria yang baik.

Ia adalah tipe orang yang tidak bisa membiarkan orang lain kesusahan. Tangannya selalu ia ulurkan untuk menolong orang lain. Ia selalu mendahulukan kepentingan orang lain terlebih dahulu daripada dirinya sendiri.

Di luar pembahasan cinta, banyak hal yang sering kami diskusikan hingga larut. Agama, filsafat, semesta, sebut sama semua bidang yang diajarkan di bangku kuliah, aku berani bertaruh semua sudah pernah kami bahas.

Pernah ketika kami sedang ngobrol di beranda rumahku, tiba-tiba ia diam memandangku. Merasa tak nyaman, aku segera mendorong dirinya.

“Apaan sih ngelihatin kayak gitu.”

“Heran aja, kamu itu sebenarnya manis, tapi sama sekali enggak tertarik punya hubungan sama cowok lain.”

It’s not your business.”

Of course it’s my business because you’re my best friend. Siapa sih yang enggak khawatir kalau kawan baiknya seapatis itu sama cinta.”

Entah apa yang kulakukan waktu itu, aku tak bisa mengingatnya. Yang jelas, tak lama setelah itu kami mendiskusikan hal lain mengenai alasan eksistensi kita di alam semesta yang luas ini.

Kami sudah berkawan sejak kecil, bahkan berangkat sekolah bersama. Ia tak pernah berubah dari dulu: polos, murah senyum, pintar, walaupun agak penakut dan sering gugup.

Bisa dibilang, aku memiliki sifat yang berlainan dengannya. Aku dikenal sebagai pribadi yang jutek, pemarah, tak peduli dengan orang lain, dan lain sebagainya. Mereka yang berpendapat seperti itu adalah mereka belum mengenalku terlalu dalam.

Buktinya, aku memiliki banyak teman yang sering berbagi cerita kepadaku. Di antara cerita-cerita tersebut, sering terselip luka yang diakibatkan oleh cinta. Bahkan, temanku pernah hampir bunuh diri karena merasa depresi ditingal oleh kekasihnya.

Melihat kawan-kawanku sering tersakiti oleh cinta, aku memutuskan untuk tidak akan pernah percaya dengan cinta. Aku menjauhkan diri dari segala tetek bengek yang absurd itu.

Hanya saja, semakin lama aku merasa bahwa aku memiliki perasaan yang berbeda kepada kawan priaku ini. Aku berusaha menjauhkan segala pikiran tersebut. Namun semakin dijauhkan, perasaan tersebut justru semakin dekat.

Aku memendam semua perasaan ini dalam-dalam, karena tidak ingin meruntuhkan ideologiku terhadap cinta. Keras kepala memang sudah menjadi salah satu sifatku yang nampaknya tidak akan pernah hilang.

Tidak mungkin aku yang sudah banyak mencaci cinta tiba-tiba menyatakan cinta kepada orang yang sudah mendengar cacianku. Apalagi, ada kekhawatiran bahwa kawan priaku tersebut akan berubah jika aku mengungkapkan perasaanku.

Sewaktu kawan priaku mengajak pergi ke sebuah acara pameran lukisan, aku tidak bisa menemaninya karena sedang demam parah. Keputusan yang kusesali karena sepulang acara tersebut, ia telah menambatkan hatinya untuk wanita lain. Ya, si Chelsea itu.

Semenjak itu, ia semakin jarang menemuiku. Setiap ingin bertemu denganku, ia akan minta ijin kepada kekasihnya walaupun tak pernah diminta. Ketidakpercayaanku kepada cinta yang mulai runtuh kembali berdiri tegak.

Aku kembali menegaskan diriku untuk tidak percaya dengan yang namanya cinta. Cinta hanya akan membawa sengsara dan derita. Ia akan melukai kita tanpa menunggu kita siap untuk dilukai.

Dan pria yang sudah membuatku tak percaya cinta lagi selalu bertanya kenapa aku tak percaya cinta. Pria memang terkadang tolol tak terkira.

 

 

Kebayoran Lama, 31 Januari 2019, terinspirasi dari seorang wanita yang katanya tak percaya dengan cinta

Foto: Tom Sodoge

Continue Reading

Cerpen

Lelatu

Published

on

By

Kobaran api menjalar ke udara di tengah pekatnya malam. Langit cerah tak berawan, memperkecil kemungkinan hujan turun untuk memadamkan kebakaran di rumah tetanggaku yang sedang dilalap api ini. Entah apa yang menjadi pemicunya.

Aku bersama beberapa warga lain bahu membahu ikut membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya. Ember, bak mandi, selang, hingga kaleng cat kami manfaatkan untuk menimba air. Lokasi kampung kami yang cukup jauh dari pusat kota membuat mobil pemadam kebakaran tidak bisa datang lebih cepat.

Pasangan pemilik rumah hanya bisa menangis histeris, beberapa meter dari lokasi. Bukan karena rumah mereka yang terbakar, melainkan karena satu-satunya anak mereka masih terjebak di dalam rumah. Mereka tidak ada di lokasi ketika kebakaran terjadi. Api sudah terlampau besar untuk bisa diterjang warga demi menyelamatkan sang anak tersebut, yang baru duduk di bangku SMA.

Selain kedua orangtua anak tersebut, kekasih yang sekaligus tetangga anak tersebut juga sedang menangis tersedu, membayangkan tubuh pacarnya dimakan api tanpa ampun. Gadis tersebut baru duduk di bangku SMP, dan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Sambil estafet menggiringkan ember demi ember, aku mencuri pandang kepadanya, memastikan kondisinya baik-baik saja.

***

Beberapa bulan sebelumnya, warga baru tersebut datang ke kampung kami. Mereka merupakan pasangan dari luar pulau, yang pindah ke mari karena tugas dinas sang suami. Sang anak yang baru saja lulus dari SMP turut serta diajak serta, mungkin karena mereka tidak ingin jauh-jauh dari satu-satunya buah hati mereka.

Meskipun datang dari belahan daerah yang jauh dari kami, nyatanya anak tersebut mudah sekali beradaptasi dengan kami. Ia tidak pernah merasa canggung ketika berkomunikasi dengan kami, tak segan menawarkan bantuan jika ada yang membutuhkan, terkadang melemparkan candaaan yang membuat teman-teman lain tertawa.

Ia menjadi yang tertinggi di antara remaja lainnya, mungkin hobi basketnya yang memiliki andil dalam pertumbuhannya tersebut. Selain itu, ia juga pandai memainkan gitar. Jari-jarinya tampak lihai berpindah-pindah dari satu senar ke senar lainnya. Vokal yang dihasilkan dari pita suaranya juga lumayan merdu untuk dinikmati.

Pendek kata, ia berhasil berbaur dengan sempurna dengan lingkungannya. Di antara pembauran tersebut, terselip cinta.

***

Orang yang beruntung mendapatkan cinta dari anak pindahan tersebut adalah gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Pada mulanya, mereka seringkali bertikai kecil-kecilan, saling mengumpat dengan bercanda. Karena interaksi macam itulah teman-teman yang lain sering menjodohkan mereka berdua.

Siapa yang menyangka, berawal dari itulah benih-benih cinta tumbuh. Tanpa disadari oleh yang lain, mereka sering bertukar kabar melalui WA, kadang sekadar mengucapkan selamat malam. Semua mereka lakukan diam-diam, seolah ingin menyembunyikan fakta bahwa mereka saling mencintai.

Karena telah lama dekat, seringkali adikku tersebut bercerita kepadaku. Itu pun setelah kupaksa untuk berkata sejujurnya, karena meskipun bukan kakak karena kesamaan DNA, aku merasa berhak untuk mengetahui apa-apa tentang dia. Akhirnya sedikit demi sedikit ia mau membuka diri, bercerita tentang hubungan mereka.

Sebagai orang yang jauh lebih tua, aku sering memberikan nasihat-nasihat kepada gadis yang sudah kuanggap adikku sendiri tersebut. Aku tak pernah secara gamblang menyatakan setuju atau tidak setuju dengan hubungannya, aku hanya selalu mendoakan yang terbaik untuknya.

Dari cerita ke cerita, aku menyadari bahwa mereka benar-benar saling mencintai, mungkin lebih besar dari rasa sayangku kepada adikku tersebut. Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan hubungan yang mereka sembunyikan tersebut.

***

Setelah upaya selama enam jam, akhirnya kebakaran berhasil dipadamkan. Sang ayah langsung menerjang masuk untuk mengecek keadaan, meskipun sempat ditahan oleh beberapa pihak kepolisian yang baru saja tiba. Selang beberapa menit, sang ayah kembali dengan tangan hampa, ekspresinya kosong.

Mungkin ia telah menemukan mayat anaknya yang pasti sudah tidak dapat diidentifikasi. Sekarang tugas pihak yang berwajib untuk mencari tahu penyebab kebakaran, yang turut membakar dua rumah di kanan-kirinya meskipun tidak sampai memakan korban jiwa.

Aku menghampiri gadis yang sudah kuanggap sebagai adikku sendiri untuk memberikan semangat. Kerengkuh pundaknya, seolah ingin memberikan energiku kepadanya.

“Sabar ya dek, ini ujian, semoga kekasihmu diterima di sisi-Nya.”

Ia hanya mengangguk pelan, sambil bergumam terima kasih. Aku memandang kosong bekas bangunan yang habis terbakar tersebut, sambil berharap polisi tidak menemukan kejanggalan dari aksiku semalam, ketika aku mendatangi rumah ini, membuat anak dari pemilik rumah tidak sadarkan diri, lantas membakar rumah itu dengan segala trik yang sudah kupelajari berbulan-bulan yang lalu.

Pemicu kebakaran ini sebenarnya sudah jelas, lelatu alias percikan api. Api kecemburuan. Percikan itulah yang menjadi penyebab kebakaran besar ini.

 

 

Lawang, 18 Juni 2018, terinspirasi sama apa hayo 🙂

Continue Reading

Sedang Trending

Copyright © 2021 Whathefan