Chapter 7 Anak yang Bernasib Sama

Keesokan hari aku berangkat dengan membawa segudang dendam dan kemarahan. Aku akan menghajar anak dungu bernama Kenji itu. Pasti sekarang dia sudah menyebarkan berita-berita tentang aib keluargaku. Mau ditaruh mana muka ini? Selama ini aku telah berusaha menyembunyikannya dari para tetanggaku dengan mengatakan bahwa ayah masih keluar kota, bukan ditinggal karena pergi dengan wanita lain. Kini akan bertambah banyak orang yang tahu karena dia. Aku benar-benar ingin menghajarnya hingga ia benar-benar terluka.

Tapi ini masih di lingkungan sekolah, pasti aku akan dipanggil BP lagi jika aku menghajarnya. Bukannya aku takut, tapi aku sangat benci dengan omelan-omelan tak penting yang hanya memekakkan telinga. Baik, jadi dia akan kucegat pulang sekolah, di tempat yang sepi, dan kuhajar sampai puas. Dalam batinku, sudah kuulang terus skenario ini, karena pikiranku sudah dipenuhi dengan balas dendam.

Aku melangkah acuh menuju kelasku. Aku menyiapkan mental untuk hinaan dan caci maki tentang keluargaku yang akan kuhadapi sesaat lagi. Namun bukannya hinaan yang kuterima, melainkan hadangan dari Andra dan Bejo. Mereka bukannya memasang wajah ingin menghina, tapi ingin menghajar.

“Apa yang kamu lakukan ke Kenji?” Andra bertanya kepadaku dengan tatapan mata yang menunjukkan permusuhan, tapi tak membuatku gentar sedikitpun.

“Bukan urusanmu, aku tak melakukan apapun.” jawabku dusta karena alasan yang sama dengan alasanku menunda untuk menghajar Kenji.

“Wajah Kenji memar, dan hanya ada satu kemungkinan. Kamu yang menghajarnya.” tambah Bejo.

“Sudah kukatakan aku tak tahu apa-apa.” jawabku dengan memandang penuh benci ke arah mereka.

“Rupanya kamu belum kapok ya dengan pelajaran kemarin. Mau minta tambah?”

Tiba-tiba Kenji keluar dari kelas. Memang, bekas memar kemarin masih jelas terlihat.

“Kalian ini kenapa sih? Sudah kubilang aku kemarin terjatuh, makanya aku memar. Mana mungkin kawan kita yang satu ini tega memukulku sampai seperti ini, iya kan?” terlihat Kenji bergetar ketika ia mengatakan hal ini. Nampaknya ia bukan tipe orang yang bisa berbohong.

Tampaknya Kenji tidak menyebarkan aib keluargaku, bahkan ia menutup-nutupi kenyataan bahwa kemarin aku menghajarnya. Kenapa ia rela melakukan itu semua? Mengapa ia membela aku setelah aku memperlakukannya semena-mena? Muncul rasa bersalah dalam diriku, namun aku tak ingin orang lain mengetahuinya. Tanpa berkata sedikit pun, aku masuk kelas meninggalkan mereka bertiga.

Terdengar suara yang terdengar pelan diiringi lirikan sinis terhadap diriku begitu aku memasuki kelas. Mungkin mereka semua berpikir bahwa aku menghajar Kenji, meskipun itu memang benar adanya. Akan tetapi, Kenji berusaha untuk menyakinkan mereka semua bahwa aku tidak melakukan apa-apa terhadapnya. Jujur sebenarnya aku benci akan hal ini, dibela oleh orang yang kubenci. Untuk apa dia melakukan ini untukku? Mengapa dia membalas keburukanku dengan kebaikannya?

Lamunanku terpecah oleh kegaduhan di luar kelas. Semua anak menengok keluar untuk melihat apa yang terjadi, namun aku tetap kukuh di tempat dudukku. Tampaknya Andra kesal terhadap Kenji yang tampaknya menutup-nutupi kesalahanku, tapi Kenji juga tetap bersikukuh bahwa ia mendapatkan memar itu bukan karenaku. Hatiku yang sudah lama tak terpakai mulai bergerak pelan seperti bayi dalam kandungan, melihat banyaknya kebaikan yang Kenji berikan terhadap diriku. Aku berusaha menutupi perasaan bersalah ini dengan mencari-cari kesalahan Kenji, namun sampai seorang guru masuk, aku tidak dapat menemukan satu kesalahan pun.

***

Di saat istirahat, aku mendapatkan panggilan dari BP. Ada apa? Aku tidak melakukan apapun. Apakah idiot bersaudara itu telah melaporkan diriku? Kemungkinan yang sangat mungkin.

Namun aku tidak sendirian. Ternyata Andra dan Bejo juga ikut dipanggil. Tampaknya analisisku benar. Mungkin mereka dipanggil untuk dijadikan saksi. Sial, mungkin aku harus benar-benar meninggalkan sekolah ini.

“Silahkan duduk nak.” kata guru BP yang tempo hari memberi ancaman untuk mengeluarkan diriku. Guru ini melihatku dengan penuh kecemasan. Mungkin karena di tubuhku penuh dengan balutan perban.

“Ananda tahu mengapa kalian bertiga dipanggil kemari?” tambahnya.

Tidak ada jawaban. Tampaknya tidak ada yang mengapa dipanggil kemarin. Berarti analisisku salah besar.

“Saya mendapat laporan bahwa ananda Alexander Napoleon Caesar mendapat pengeroyokan dari Anda berdua bersama segerombolan anak kelas 12. Apakah benar?”

“Iya bu, kami mengakuinya dan siap menerima apapun hukumannya. Tapi kami juga memiliki alasan bu.”

Mereka berdua bercerita tentang keburukanku. Aku sesekali menyanggah pernyataan mereka yang menurutku tidak sesuai dengan fakta. Bu guru ini hanya mengangguk-anggukkan kepala dan bertanya jika ada yan kurang dipahami.

“Baiklah, supaya adil, kalian berdua ibu skors tiga hari. Untuk Alexander, karena ini bukan yang pertama kalinya, kamu ibu skors selama satu minggu. Selamat belajar di rumah.”

Aku tidak terlalu peduli dengan pemberian hukuman ini, karena hari ini diriku dilingkupi oleh rasa bersalah yang sangat besar terhadap Kenji. Entah sudah berapa lama aku tidak merasa seperti ini. Aku sangat diam hari ini, meskipun aku memang pendiam. Hatiku mulai bergerak-gerak memerintahkan diriku untuk meminta maaf ke Kenji, meskipun aku terlalu gengsi dan malu untuk menyatakan kesalahanku apalagi jika di hadapan banyak orang. Bagaimana jika aku membuntuti dia pulang, lalu meminta maaf di rumahnya? Aku rasa itu bisa kulakukan. Sebenarnya setan dalam hatiku terus membisiki agar aku tak perlu melakukan itu, karena toh pada akhirnya nanti lupa-lupa sendiri. Tapi ternyata Tuhan masih sayang kepadaku walaupun selama ini aku sudah melupakannya. Perlahan-lahan pikiran-pikiran setan tersebut lenyap, diganti dengan pikiran bersalah yang terus bergelanyut di pikiranku. Lalu kuputuskan, aku harus minta maaf karena aku salah. Aku harus mengakui kebenaran bahwa aku bersalah dan konsekuensinya adalah meminta maaf, meskipun selama ini aku sangat jarang sekali melakukannya.

Aku menjadi yang terakhir meninggalkan kelas. Dengan langkah ragu aku melangkahkan kaki untuk membuntuti Kenji ke rumahnya. Aku berusaha menjaga jarak dan tidak terlihat olehnya. Sekali-kali aku bersembunyi dibalik tiang listrik atau benda-benda lainnya yang ada di pinggir jalan. Aku merasa seperti detektif-detektif yang mengincar mangsanya secara diam-diam dan terselubung.

Sejenak ia berhenti di depan rumahku. Aku heran, mengapa ia bisa mengetahui rumahku? Sejak kapan ia tahu rumahku? Apakah sudah dari dulu? Apakah ia membuntuti diriku kemarin? Aku diam saja. Mungkin aku bisa menanyakannya nanti.

Kenji mengetuk pintu rumahku. Munculah Gisel. Wajahnya sudah kembali ceria seperti biasa. Aku tidak bisa mendengar percakapan yang mereka bicarakan. Jarakku dengan mereka terlalu jauh. Mungkin ini akan kutanyakan juga nanti.

Kenji bergerak keluar dari rumahku. Gisel menjadi lebih ceria hingga matanya berkaca-kaca. Entah mengapa, tapi kejadian ini semakin membuat kepercayaan diriku luntur.  Kemarin aku masih menjadi orang yang congkak luar biasa. Namun hanya dalam beberapa hari ia telah membuatku merasa menjadi orang paling rendah di dunia. Baru kali ini aku bertemu dengan anak sebaik itu, setulus itu, dan sepolos itu. Dalam hatiku masih bergejolak antara malu, rasa bersalah dan gengsi.

Kulanjutkan langkahku membuntutinya. Ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 500 meter dari rumahku. Kulihat rumah Kenji yang ternyata begitu sederhana. Temboknya dari kayu, tak berpagar, tapi terlihat bersih. Rumput-rumput ilalang menjadi taman pribadi buat Kenji. Terdapat sepeda ontel tua di samping rumahnya.

Aku terdiam di depan rumah Kenji. Apa aku urungkan saja niat ini? Toh dia akan melupakan masalah ini. Untungnya, hati nurani terus mengajakku untuk bersikap ksatria untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sayangnya, kakiku membeku, tak bisa digerakkan, mengkhianati nuraniku.

Kebekuan kakiku mencair begitu ada seorang nenek berkacamata dan berambut afro menghampiri diriku.

“Ada apa nak, kok diam saja di depan rumah si Kenji? Mau masuk?” tanya nenek itu dengan lembut.

“Tidak apa-apa.” jawabku sama sekali tidak ramah. Tapi terlintas ide bahwa aku bisa mengorek informasi dari nenek ini.

“Kenji kalau di sini gimana nek?”

“Kenji? Kenji itu anaknya baik, lembut, humoris, ramah, dan suka menolong siapapun. Semua tetangganya menyukainya karena kebaikannya. Dia selalu tersenyum dan tertawa. Kasihan orang tuanya sudah meninggal.”

“Ke mana orang tuanya?”

“Sudah meninggal. Ibunya meninggal ketika melahirkan Kenji, sedangkan ayahnya meninggal karena kecelakaan sewaktu membawa kakak Kenji ke rumah sakit setelah kakaknya tidak sengaja menikam lehernya sendiri. Memang kakaknya sedikit kelainan mental.”

“Kapan kejadian itu?”

“Seminggu sebelum dia masuk SMA. Mentalnya benar-benar kuat. Meski mendapat cobaan berat, ia tetap bisa tersenyum dan berusaha bangkit dari kesedihannya.”

“Ini rumahnya sendiri?”

“Ini rumah kontrakan. Keluarga Yasuda mengeluarkan banyak biaya untuk mengobati kakaknya, sehingga mereka hanya bisa menyewa rumah sekecil ini. Kenji mendapat biaya hidup sebagai loper Koran. Untung sang bos Koran dengan suka rela memberinya gaji yang cukup untuk kebutuhannya sendiri. Dia menggunakan sepeda yang berada di samping rumahnya itu untuk mengantarkan koran setelah Shubuh. Selain itu, warga sini juga sering memberi bantuan kepada Kenji sebagai tanda terima kasih atas kebaikannya.”

Aku menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasihku kepada nenek itu. Nenek itu membalasnya dengan senyuman lembut sambil berlalu. Aku makin merasa bahwa aku bersalah, mungkin manusia paling bersalah di dunia ini. Mungkin aku pantas dikirimkan ke penjara Guantanamo di Kuba. Ia juga hidup menderita dalam kesendirian, mengapa ia bisa sebahagia itu?

Nyaliku semakin ciut untuk bertatap mata dengan Kenji. Syukurlah Tuhan senantiasa membimbingku di jalan yang benar.. Maka dengan tuntunan-Nya, aku melangkah tegap layaknya seorang lelaki sejati yang berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada anak yang bernasib sama denganku ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.