Chapter 21 Novel-Novel yang Mendebarkan

Malam hari setelah peristiwa tersebut, aku mencoba untuk menghibur diri dengan membaca buku. Keinginanku untuk meminjam novel Sherlock Holmes dari Kenji belum terpenuhi, sehingga aku mencari buku lain yang ada di rumah. Aku teringat ibu sering membaca buku di waktu kosongnya, terutama ketika menunggu ayah pulang, yang seringkali ternyata tidak pulang. Aku masih ingat di mana letaknya, di sebuah lemari buku berkaca gelap yang ada di ruang keluarga.

Ketika kubuka, bau pengap langsung terasa sekali. Entah sudah berapa lama lemari ini tidak dibuka. Mungkin Gisel pernah coba-coba untuk membaca buku disini, maka aku menghampirinya di kamar.

“Gisel, kau pernah baca novel ibu yang di lemari?”

“Pernah kak, tapi udah dulu. Waktu Gisel coba baca, Gisel gak ngerti.”

Mungkin karena genre novelnya adalah novel dewasa, sehingga anak seusia Gisel tidak bisa memahaminya. Baiklah, karena aku sudah cukup umur, aku akan mencoba membaca salah satu dari banyaknya buku ini. Rata-rata buku ibu berukuran kecil, hanya ada belasan yang berukuran besar. Secara acak aku mengambil salah satu buku, lalu kubaca sampulnya.

Agatha Christie: Murder on the Orient Express

Dilihat dari judulnya, mungkin novel ini berjenis drama horor, atau mungkin detektif juga seperti Sherlock Holmes? Ketika membuka halaman pertama, tercium aroma buku tua yang menyenangkan. Aku melihat ada angka lima di sudut atas buku. Apa maksudnya? Asumsiku, mungkin ini buku kelima yang dibeli ibuku. Penasaran, aku mencoba untuk mengambil novel lain secara acak. Nihil, tidak ada angka yang tertulis pada novel Agatha Christie lainnya yang berjudul Crooked House. Mungkin itu hanya angka yang tak berarti.

Semoga dengan membaca buku ini, aku bisa melupakan apa yang terjadi hari ini, sekaligus mempersiapkan diri untuk pertemuan besok dengan Bejo tidak terhindarkan setelah upacara kemerdekaan.

***

Sial, karena keasyikan membaca buku, aku hampir bangun kesiangan. Tidak kusangka buku yang kubaca tadi begitu menegangkan dengan ending yang sama sekali mengejutkan. Tanpa sadar aku terus membalik halaman demi halaman karena terus dibayangi oleh rasa penasaran. Untung saja Gisel sempat membangunkanku, sehingga aku tidak perlu berurusan dengan satpam sekolah.

Bejo duduk di bangku dengan pintu, sehingga ketika aku sampai kelas, kami saling bertatapan. Ia langsung menundukkan kepalanya, menyibukkan diri dengan memeriksa isi tasnya yang aku yakin sebenarnya tidak ada yang perlu dilihat. Aku pun memutuskan untuk terus saja menuju bangku. Aku sempat melempar senyum ke Sica, yang membalasnya dengan senyuman yang jauh lebih manis. Sampai upacara dimulai, tidak ada satupun yang berusaha membahas kejadian kemarin.

***

Upacara berlangsung selama satu jam, setelah itu kami diijnkan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kenji sempat bertanya kepadaku, apakah aku ingin meminta maaf seperti yang aku katakan kemarin. Sempat bimbang, aku memutuskan untuk meminta maaf secara terbuka, termasuk ke Bejo, diterima atau tidak.

Setelah kami semua masuk ke dalam kelas, setelah Sarah keluar kelas –Kenji sudah berusaha untuk menahannya, Kenji membuka forum.

“Teman-teman yang kucintai, seperti yang kita ketahui bahwa kemarin ada kejadian yang kurang mengenakan. Tentu tidak baik jika kejadian seperti ini dibiarkan berlarut-larut. Untunglah, kedua belah pihak sudah mengakui kesalahan mereka dan ingin meminta maaf kepada kalian semua.”

Kedua belah pihak? Jadi Kenji sudah berbicara dengan Bejo?

“Teman-teman sekalian,” Bejo mulai berbicara ketika ia berdiri di samping Kenji, “saya ingin meminta maaf karena kebodohan saya kemarin. Tidak seharusnya seorang pemimpin bersikap seperti itu, dan saya sangat menyesal karena peristiwa tersebut membawa kita gagal menuntaskan visi yang telah kita sepakati.

“Saya juga secara khusus ingin meminta maaf kepada Leon, yang sudah berusaha memberi masukan, namun sayangnya karena saya memiliki masalah pribadi dengannya, saya memutuskan untuk tidak mendengarkannya. Sekali lagi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Ia menundukkan tubuhnya dalam-dalam, memperlihatkan penyesalan yang tulus. Aku pun memutuskan untuk ikut berdiri dan maju ke depan kelas.

“Saya juga ingin meminta maaf atas sikap saya yang tidak bisa menahan emosi di hari penting tersebut. Saya juga minta maaf kepada Bejo karena telah berkata dan berlaku kasar kepadanya. Saya mohon maaf.”

Aku ikut menundukkan tubuh di samping Bejo. Teman-teman memberika tepuk tangan sebagai tanda kami telah dimaafkan. Kami berdua menegakkan tubuh kami, dan bersalaman sebagai tanda berdamai. Semoga dengan kejadian ini, hubungan kami bisa membaik seperti hubunganku dengan teman-teman yang lain.

***

“Kau bilang apa saja ke Bejo?” tanyaku kepada Kenji setelah pulang sekolah. Karena hari ini tanggal merah, kami memutuskan tidak ada kelas untuk Gisel, meskipun ia merasa keberatan dengan itu. Agar pembicaraan bisa lebih nyaman, aku memutuskan untuk mengobrol di tempat Kenji.

“Kurang lebih sama ketika kamu emosi kok.”

“Oh begitu.”

“Aku mengajaknya ngobrol setelah pertandingan, meskipun waktu itu ia masih dikuasai emosinya. Ada fakta lain yang kamu perlu tau Le.”

“Apa?”

“Sebelum pertandingan, beberapa orang memanas-manasi Bejo.”

“Caranya?”

“Mereka mengatakan jika dirimu ikut bermain, akan ada masalah yang tercipta. Dengan berkata seperti itu, ia yang awalnya memang sudah tidak suka denganmu pun semakin merasa benci denganmu. Ia mengaku bahwa keputusannya mengubah strategi adalah agar ia tidak perlu dekat-dekat denganmu.”

“Siapa provokator tersebut?”

“Entahlah, aku tidak menanyakannya lebih lanjut. Tapi mumpung tidak ada Sica ataupun orang lain, aku ingin melanjutkan teoriku yang kemarin.”

“Tentang Malik?”

“Ya, aku percaya bahwa provokator tersebut pun dirancang oleh Malik.”

“Kenapa ia ingin menghancurkan kita?”

“Aku kurang tau mengenai hal tersebut, bisa saja karena ia hanya ingin memenangkan pertandingan. Tapi aku yakin ada alasan lain yang lebih besar.”

“Omong-omong, apakah mereka berhasil menang di pertandingan berikutnya?”

“Tidak, mereka dibabat tujuh gol tanpa balas oleh timnya mas Aan, yang akhirnya keluar sebagai juara.”

“Oh begitu ya.”

Kenji bersandar di kursi dan menghela nafas panjang. Ini bukanlah kebiasaan Kenji, memikirkan sesuatu hingga membuatnya bernafas dalam-dalam. Bukan sifat Kenji pula untuk berprasangka buruk kepada orang lain. Sebenarnya, siapa Malik ini?

“Sebelum pertandingan, aku melihatmu berbicara dengannya. Apa yang kalian bicarakan?”

“Oh waktu itu, kami hanya saling menyapa. Bisa dibilang beberapa kali kami bertemu di ruang guru. Hampir semua guru mengatakan bahwa kami berdua memiliki banyak kemiripan.”

“Mereka tidak tahu apa yang ada di balik keramahannya.”

“Aku sendiri belum pernah melihatnya Le, aku hanya mengandalkan perasaan. Padahal selama ini aku selalu berlandaskan logika, tapi entah mengapa untuk yang satu ini aku sangat terbawa perasaan. Aku selalu berharap kalau aku salah dan Sicalah yang benar.”

Kami sama-sama berdiam diri, berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Lalu ingatlah diriku tentang novel yang baru saja kutamatkan.

“Agatha Christie? Penulis dari Inggris itu kan? Sang ratu detektif.” jawab Kenji.

“Benar, pernahkah kau membaca bukunya?”

“Pernah, tapi tidak semua. Buku yang kamu sebut itu termasuk yang sudah kubaca. Hercule Poirot bukan detektifnya?”

“Benar Ken, ini pertama kalinya aku menghabiskan buku dalam satu malam.”

“Hahaha, karena kamu selalu dibuat penasaran dengan halaman selanjutnya. Aku sangat memahaminya. Jadi, kamu tidak jadi meminjam Sherlock Holmesku?”

“Aku rasa untuk sementara belum dulu karena di rumah masih banyak novel Agatha Christie yang lain. Aku ingin membaca kasus-kasus lain yang diselesaikan oleh Hercule Poirot.”

“Tidak semua novel Agatha Christie menjadikan Hercule Poirot sebagai detektifnya Le. Ada tokoh detektif lain juga.”

“Benarkah?”

“Kalau tidak salah, ada Miss Marple, ada Parker Pyne, adapula pasangan detektif yang aku lupa namanya. Coba saja baca sinopsisnya, cari mana yang menampilkan Hercule Poirot sebagai karakter utamanya.”

“Terima kasih atas informasinya.”

“Apakah koleksi novel ibumu itu lengkap?”

“Entahlah, mengapa?”

“Aku punya beberapa rekomendasi, cobalah cari yang berjudul And Then There Were None. Memang bukan Poirot yang menjadi lakon, namun percayalah kamu akan merinding ketika menyelesaikan buku tersebut.

“Baik, akan aku coba mencarinya nanti.”

***

Menjelang tidur, aku mencoba untuk mencari buku yang direkomendasikan Kenji. Aku sangat beruntung, buku tersebut ada. Ketika aku membuka halaman pertama, kali ini terdapat angka satu. Ah, aku rasa ini adalah peringkat menarik atau tidaknya buku tersebut. Peringkat satu artinya buku ini adalah buku yang paling menarik. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana serunya buku peringkat pertama jika buku peringkat kelimanya saja, Murder on the Orient Express, sudah seseru itu. Maka malam ini aku akan menutup malam dengan bersyukur karena masalahku dengan Bejo telah selesai dan menikmati novel-novel detektif yang sangat mendebarkan ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.