Chapter 4 Serangan Cat Hitam

Hari pertama masuk SMA adalah hari yang menyenangkan? Aku ingin menghajar orang yang membuat istilah itu. Satu kelas dengan orang-orang bodoh, dibina dengan orang-orang sok kuasa, dipanggil BP dan diancam dikeluarkan dari sekolah bila aku mengulangi perbuatanku kemarin, di mana letak menyenangkannya? Ini adalah salah satu hari terburuk dalam hidupku. Tak pernah kubayangkan hari pertamaku di SMA akan menjadi seperti ini.

Apa aku salah mengambil sekolah? Apa seharusnya aku mengambil sekolah di kota saja? Sayangnya, aku bukan tipe laki-laki yang mudah menyerah hanya karena halangan yang sepele. Berarti mulai besok aku harus sedikit bersandiwara, karena aku tidak ingin dikeluarkan dari sekolah ini.

Setelah mendekam di ruang BP hingga bel pulang berdering, aku segera melangkahkan kakiku keluar dari sekolah ini. Dengan segala kebencian yang aku pendam, aku meninggalkan sekolah ini. Namun ketika keluar dari gerbang, aku merasa ada yang membuntuti diriku. Kutengok sedikit kepalaku ke belakang, ternyata idiot bersaudara.

“Mau apa kalian?” tanyaku ketus.

“Well bung, aku rasa sekarang kita sudah tidak berada di lingkungan sekolah.” kata yang laki-laki dengan mendongak.

“Artinya kita bisa melakukan sesuatu sesuka kami.” kata yang perempuan menimpali saudaranya.

“Terserah kalian.” aku segera berbalik meninggalkan mereka, namun ada tangan yang memegang pundakku. Aku tidak akan memulai penyerangan terlebih dahulu, karena aku takut dikeluarkan dari sekolah.

“Tidak secepat itu bung, kami punya beberapa permasalahan dengan Anda.”

“Jadi kalian menantang berkelahi?” kataku tanpa menoleh kearah mereka.

“Ya, tentu saja.”

Aku memperhatikan sekitar, jalanan sepi dan tidak ada guru maupun murid lainnya. Bisa dimaklumi, karena MOS kami memang lebih awal dibandingkan kelas reguler. Mungkin ini kesempatanku untuk melampiaskan kekesalanku hari ini.

“Baiklah, satu persatu.” kataku sambil membalikkan badan.

“Dea, kamu enggak perlu ikutan, cukup lihat saja bagaimana aku akan menghabisi si tengik ini.”

Sekarang aku sudah berhadapan dengan Andra. Meskipun dia lebih tinggi dari aku, aku yakin aku akan menang melawan orang tidak berguna ini. Aku fokuskan pandanganku ke dia, dan mengambil ancang-ancang untuk menyerang. Andra maju duluan dan mulai melayangkan pukulan, namun bisa kutangkis dengan mudah. Segera kubalas dengan mendaratkan pukulan tepat di perutnya, lalu kutambahkan dengan hantaman lutut. Andra mundur dengan memegangi perutnya yang kesakitan. Aku segera ingin menendang wajahnya, namun tanpa diduga sebuah lemparan batu mendarat di bibirku. Sialan, Dea datang membantu.

“Sudah kubilangkan, satu per satu. Kau melanggar peraturan.”

“Cerewet.” erang Dea sambil lari ke arahku sambil mengeluarkan sebuah pemukul kasti. Meskipun dia perempuan, aku tidak akan segan menghadapinya. Bagiku tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan jika dia layak untuk dihajar. Cewek tomboy itu lari ke arahku sambil mengayun-ayunkan pemukul kastinya. Secara refleks aku menghindari pukulannya, dan segera kujegal langkahnya yang tidak stabil. Dea jatuh tersungkur dengan tangan duluan, aku yakin itu cukup untuk melukainya. Andra segera bangkit dari tempatnya untuk menolong saudarinya. Aku hanya tersenyum kejam melihat kekalahan mereka. Andra melihat kearahku dengan sorot mata yang tajam.

“Kamu benar-benar seperti setan.”

Tersinggung dengan perkataannya, aku maju menghampiri Andra dan mengangkat kerahnya dan berbisik, “Jika aku setan, maka seluruh manusia di Bumi juga setan. Manusialah yang membuatku menjadi seperti ini.”

Aku melepas kerahnya dan menjatuhkannya ke belakang. Kutatap mereka berdua dengan perasaan jijik, lalu melangkah acuh meninggalkan mereka tergeletak di jalan. Hari ini benar-benar hari yang buruk.

Kenji. Dialah yang telah menyeting hari burukku. Tawanya yang bodoh telah membuat aku sangat membencinya. Dia tertawa dengan polosnya seolah tidak ada beban di hidupnya seperti . . . seperti adikku. Aku sangat membenci adikku. Dia adalah beban hidupku. Dia adalah aibku. Gara-gara dia Ayah pergi dengan wanita lain. Gara-gara dia Ibu memilih untuk bunuh diri. Aku ingin membuangnya, tapi aku tak pernah memiliki peluang untuk melakukan itu.

Aku yang harus memberinya makan, menjaganya, dan lain sebagainya. Dia membuat beban hidupku menjadi lebih berat. Dia selalu dikeluarkan oleh sekolah, mungkin tiga kali, karena mereka mengecap adikku idiot. Dia terlalu banyak bertanya hal diluar konteks pelajaran. Dialah salah satu sumber kebencianku, dialah salah satu yang telah menjadikan diriku seperti ini.

Namun lihat apa yang dilakukannya sekarang, selalu tertawa dan berusaha menghiburku, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini kita tertawa atau tersenyum? Apa yang menyenangkan dari nasib ditelantarkan orang tua?

“Kakak sudah pulang?” sambut adikku begitu aku masuk rumah.

“Kalau sudah tahu buat apa tanya?” jawabku ketus.

“Kenapa kakak bibirnya berdarah?”

“Bukan urusanmu.”

“Mau aku sembuhkan lukanya?”

“Sekolah saja kau tak becus, apalagi menyembuhkan lukaku?!” aku berteriak di depannya. Adikku terkejut mendengar ucapanku ini, lalu dengan mata berkaca-kaca ia pergi meninggalkan aku. Itulah yang kuinginkan.

Aku duduk di depan meja belajarku setelah membuat secangkir capucino. Aku bukannya ingin belajar, tapi memikirkan bagaimana bisa balas dendam ke Kenji, ke wanita yang menyentakku, ke idiot bersaudara, ke OSIS, ke semuanya. Mereka telah memulai perang, maka aku akan meladeni mereka. Perang telah kudeklarasikan. Mereka banyak, sedangkan aku hanya sendirian. Tak apa, otakku sendiri sudah cukup untuk mengalahkan mereka semua, tapi bagaimana caranya? Terus aku berpikir, hingga akhirnya aku tertidur di atas meja.

***

Capucino-ku telah dingin. Rupanya tidurku lumayan lama. Kuintip jendela, hari telah gelap. Kulirik jam dinding, jarum pendek menujukkan pukul enam. Rasanya otakku yang super ini penuh sekali isinya, jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan keluar rumah.

Dengan kedua tangan di saku celana, aku berkeliling sekitar daerah rumahku. Tentu dengan isi kepala penuh dengan pemikiran akan rencana melakukan balas dendam. Aku berjalan tanpa arah, terserah kaki mau melangkah kemana, berharap inspirasi datang menghampiri. Terus aku berjalan, hingga pada akhirnya tanpa sengaja aku menendang sebuah kaleng cat. Untung saja kosong, kalau tidak bisa-bisa jalanan ini menjadi berwarna-warni.

Tiba-tiba saja muncul ide di kepalaku sebuah rancangan jebakan yang sangat canggih. Segera aku berlari menuju rumah untuk mengambil sebuah kaleng cat berwarna hitam, sisa dari tugas prakarya sewaktu SMP. Bersama beberapa barang yang aku butuhkan untuk membuat jebakan, kumasukkan cat tersebut ke dalam tas kecil dan segera berlari menuju sekolah. Aku menduga jika malam hari tidak akan ada penjaga sekolah. Ternyata aku salah.

“Mau ngapain le?” tanya satpam yang rambutnya sudah berwarna putih semua itu.

Aku diam sesaat, lalu menjawab, “Mau sholat pak.” Untunglah aku memakai celana panjang.

“Ya wis, sana masuk.”

Aku berharap kelasku tidak dikunci. Untunglah, untung bagiku, karena penjaga sekolah lupa mengunci kelas ini. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa, aku segera masuk ke dalam kelas. Dalam keadaan remang-remang, aku memulai merakit sebuah jebakan yang akan terpicu ketika pintu terbuka. Siapapun –aku berharap si dungu– yang masuk ke kelas pertama kali, akan bermandikan cat ini.

Lalu bagaimana caranya aku keluar tanpa terkena jebakan ini? Rancanganku yang kubuat dalam waktu singkat dengan otak jeniusku tentu sudah memikirkan hal ini. Jebakanku baru akan terpasang secara sempurna ketika seseorang menutup pintu. Terkadang aku sangat mencintai bagaimana otakku bisa berjalan sehebat ini.

Setelah selesai, tanpa banyak bicara aku segera meninggalkan kelas dan menutup pintunya seperti sedia kala. Suasana tetap sepi seperti aku masuk tadi. Sekarang ke masjid dulu untuk membasahi beberapa bagian tubuhku agar terlihat seperti orang sholat

Aku berharap jebakanku ini berhasil dan Kenji akan menjadi korban. Semoga saja dia datang pertama dan tidak waspada karena sibuk dengan segala macam tawanya. Ketika ia masuk kelas dan membuka pintu, byur, berubah warnalah kulit putihnya. Hahaha, aku sampai tertawa sendiri. Untunglah tidak ada siapapun di jalanan yang diterangi lampu berbagai macam watt ini.

***

Aku sangat bersemangat untuk bangun pada pagi hari ini, namun tak ingin terlalu terburu-buru. Tunggu beberapa menit lagi hingga kurang sepuluh menit, maka aku akan berangkat. Aku ingin melihat mereka, terutama Kenji, merasa malu karena tubuh dan seragamnya berlumuran dengan cat. Syukur-syukur jika itu membuatnya ingin pindah sekolah. Karena itulah, aku ingin jadi yang terakhir masuk kelas.

“Kakak kenapa kok senyum-senyum sendiri? Ada yang lucu?” kesenanganku dirusak oleh bocah idiot ini.

“Bukan urusanmu, pergi.”

“Ini kak, Gisel buatkan roti isi coklat.” kata adikku sembari meletakkan piring berisikan roti lapis.

Kulirik sedikit roti itu, tanpa banyak bicara aku ambil roti tersebut dan membuangnya ke tempat sampah yang kebetulan tidak jauh dari tempatku duduk. Adikku hanya terdiam melihat apa yang kulakukan, mungkin sudah terbiasa menerima perlakuan yang seperti itu. Ia berusaha menyembunyikan perasaan kecewa dan sedihnya, walaupun aku yakin di dalam hatinya ia ingin menangis. Aku tersenyum sinis menikmati pemandangan favoritku ini.

“Kakak kan butuh energi buat menjalani aktivitas di sekolah. Jangan lupakan sarapan kak karena itu sangat penting untuk menjaga stamina tubuh.” kata adikku sambil terisak kecil-kecil.

“Hei, kau itu tak pernah diterima sekolah manapun, tak usahlah kau sok menasehatiku. Sudahlah, pergi sana, aku muak melihat wajahmu.”

Diiringi turunnya satu tetes air mata, ia berjalan lunglai meninggalkan diriku. Sungguh merepotkan. Kalau saja bukan karena pamanku yang membiayai kehidupan kami berpesan agar aku menjaga Gisel, tentu sudah kutelantarakan di jalan anak itu. Aku sangat membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan lain-lain, sehingga dengan amat teramat sangat terpaksa aku harus memeliharanya.

Tanpa sadar ternyata waktu berjalan dengan cepatnya. Kurang sepuluh menit lagi maka aku akan terlambat masuk sekolah. Aku berdiri dari tempat dudukku dan segera melangkah keluar rumah sambil berharap, bahwa serangan cat hitamku di perang ini akan kena tepat sasaran.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.