Perjalanan Mencari Tujuan Hidup

Awalnya, tulisan ini merupakan bagian awal dari artikel “Perlukah Hidup Memiliki Tujuan?” yang sudah terbit terlebih dahulu. Akan tetapi, ketika dibaca ulang, penulis merasa bagian yang ini lebih cocok masuk ke dalam kategori pengalaman.

Hidup Tanpa Tujuan Hidup

Ketika lulus SMA, penulis masih bingung ingin melanjutkan kuliah di mana dan jurusan apa. Bisa dibilang, ketika pendaftaran lah penulis baru benar-benar memantapkan pilihan.

Waktu itu, penulis mengambil tiga pilihan jurusan (penulis mengambil IPC), yakni Informatika, Hubungan Internasional, dan Pariwisata. Ketiganya di Universitas Brawijaya, Malang.

Awalnya, penulis ingin mengurungkan niat untuk kuliah jurusan Informatika. Bukan karena tidak suka komputer, melainkan karena merasa passing grade-nya terlalu tinggi.

Akan tetapi, ayah penulis memberi semangat dan keyakinan kepada penulis untuk tetap mengambil jurusan tersebut. Alhasil, penulis justru diterima di Informatika walaupun sebenarnya berharap diterima di Hubungan Internasional.

Sempat merasa salah jurusan, alhamdulillah penulis berhasil menyelesaikan studi meskipun menambah satu semester. Setelah lulus kuliah, kebingungan ketika lulus SMA terulang kembali, mau kerja di mana?

Untuk mengetahui jawabannya, mungkin para pembaca bisa membaca cerita selengkapnya di tulisan “Dulu Kerja Di Mana?“.

Menentukan Tujuan Hidup

Semasa sekolah, penulis belum sama sekali memikirkan yang namanya tujuan hidup. Namanya juga masih remaja, mungkin masih ingin senang-senang saja.

Ketika kuliah, penulis membaca banyak buku self-improvement yang menyadarkan penulis untuk memiliki sesuatu yang namanya target, termasuk ketika membaca buku-buku tentang Steve Jobs.

Lantas, jika banyak membaca buku sejenis itu, kenapa penulis bisa tidak tahu kerja di mana selepas dari bangku kuliah? Mungkin, jawabannya adalah karena penulis hanya membaca tanpa pernah mencoba untuk mempraktekkannya.

Sebuah teori akan tetap menjadi sebuah teori apabila tidak pernah dipraktekkan. Itulah yang penulis sadari belakangan ini, sehingga memutuskan untuk mengurangi bacaan self-improvement dan mulai mengaplikasinnya dalam kehidupan.

Penulis baru serius berusaha menentukan target ketika mulai bekerja di Surabaya. Setelah menimbang matang-matang, penulis menetapkan target untuk kuliah di luar negeri dan nantinya akan menjadi seorang dosen.

Oleh karena itulah penulis belajar di Pare untuk persiapan di IELTS, walaupun sayangnya sampai saat ini penulis belum berhasil meraih beasiswa.

Kegagalan meraih target (tiga kali) yang sudah ditetapkan membuat penulis menjadi sedikit limbung. Penulis pun berusaha mengalihkan perhatian dengan bergabung menjadi volunteer Asian Games.

Beberapa minggu di Jakarta membuat penulis memutuskan untuk mencoba mencari pekerjaan di Jakarta. Dengan kata lain, penulis mengubah target penulis menjadi bekerja di Jakarta demi mengumpulkan pengalaman.

Setelah satu setengah bulan, dengan menerapkan metode brute force, akhirnya penulis mendapatkan pekerjaan sebagai content creator di Mainspring Technology.

Apa Tujuan Hidup yang Sekarang?

Lantas, apakah tujuan hidup penulis yang sekarang? Apakah penulis sudah menyerah untuk menggapai tujuan hidupnya untuk kuliah di luar negeri dan menjadi seorang dosen?

Tidak tepat seperti itu. Penulis tetap berkeinginan untuk kuliah di luar negeri. Penulis hanya menunda sementara waktu hingga menemukan momen dan kesempatan yang tepat.

Terkait menjadi dosen, mungkin memang akan penulis akhiri di sini. Setidaknya, mengakhiri mimpi menjadi seorang dosen tetap. Jika ada kesempatan mengajar, tentu penulis akan dengan senang hati menerimanya sebagai selingan.

Sekarang, penulis memiliki target-target baru di tempat kerja penulis yang sekarang. Apa itu? Masih rahasia. Yang jelas, penulis punya target-target tertentu, baik untuk jangka pendek ataupun jangka panjang.

Agar mencapai target-target tersebut, tentu penulis harus bekerja keras dalam melaksanakan tanggungjawabnya. Kalau perlu, penulis harus memberikan nilai tambah yang bermanfaat untuk kantor.

 

 

Kebayoran Lama, 8 April 2019, terinspirasi setelah merasa bagian ini bisa menjadi tulisan terpisah dari artikel sebelumnya

Foto: Vladislav Babienko