Memantau dari Jauh

Tinggal dan bekerja di Jakarta tidak lantas membuat penulis meninggalkan begitu saja Karang Taruna (Katar) yang sudah dipimpin selama 666 hari. Penulis masih senantiasa memantau dari jauh tentang perkembangan Katar di bawah kepengurusan yang baru.

Penulis masih menjalin komunikasi yang intens dengan ketua yang baru, karena mau bagaimanapun dia masih tetap butuh bimbingan untuk mengemban amanah yang sudah diserahkan kepadanya.

Dalam struktur yang sah, memang penulis masih berposisi sebagai dewan penasihat, sehingga wajar jika sering mendapatkan permintaan untuk memberikan masukan.

Hal seperti ini sangat wajar dalam berorganisasi. Dalam persepsi penulis, tetap berperan meskipun sudah turun jabatan adalah hal yang wajib dilakukan, apalagi dalam sebuah organisasi sosial yang anggotanya masih dalam usia sekolah.

Mereka yang selama ini diarahkan untuk berbuat apa, kini harus bisa memutuskan sendiri apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan program kerja. Mereka yang selama ini cenderung pasif harus berubah menjadi aktif.

Tentu tidak ada yang mudah dari masa transisi. Pada skala besar, lihat saja masa transisi dari orde baru ke reformasi. Pasti ada saja permasalahan yang akan dihadapi karena adanya perubahan.

Akan tetapi, justru dengan adanya permasalahan akan membuat mereka semakin dewasa dalam menyikapinya. Hal tersebut akan membuat mereka menyadari bahwa kini di pundak mereka terdapat tanggungjawab yang besar.

Penulis dan rekan dewan penasihat lainnya menyadari hal ini. Langkah awal mereka akan kami dampingi. Namun seiring waktu, kami akan meninggalkan mereka berjalan sendiri dan memantau mereka dari jauh.

Ya, mungkin seperti orangtua yang sedang melihat anaknya telah tumbuh dewasa dan akan hidup mandiri.

 

 

Kebayoran Lama, 18 November 2018, terinspirasi dari diskusi soal pengadaan kalender Karang Taruna

Photo by Evan Kirby on Unsplash

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.